Musibah besar menimpa sektor peternakan babi Indonesia. The Straits Time memberitakan, Singapura menghentikan impor babi hidup dari Pulau Bulan, Kota Batam terhitung tanggal 20 April 2023. Penyebabnya, the Singapore Food Agency (SFA) atau Badan Pengawas Makanan Singapura menemukan babi yang dikirim dari Pulau Bulan ke Jurong (Singapura) tanggal 19 April 2023 terjangkit virus African swine fever (ASF) atau demam babi Afrika.
Temuan SFA ini mengagetkan Indonesia. Sejauh ini, pihak Indonesia baru akan memastikan informasi SFA tersebut dengan cara melakukan pemeriksaan sampel di lokasi peternakan babi di Pulau Bulan. Sejak lama, biosekuriti peternakan babi di Pulau Bulan dianggap terbaik. Dari hasil pemeriksaan nantinya dapat dipastikan babi yang ada di Pulau Bulan terjangkit virus ASF atau tidak.
Bisnis peternakan babi di Pulau Bulan awalnya dikelola PT Sinar Culindo Perkasa sejak tahun 1986. Pemegang sahamnya antara lain Grup Salim, Harry Moerdani (adik LB Moerdani) dan Tammy Habibie (adik BJ Habibie). Dalam bisnis ini, PT Culindo mengandeng The United Industrial Corporation (UIC) dari Singapura. Bibit babi diimpor dari Amerika Serikat. Ekspor perdana dilakukan bulan Agustus 1987 dan berlangsung hingga sekarang. Pengelolaan peternakan sejak 1989 beralih ke PT Indo Tirta Suaka, anak perusahaan PT Culindo. Di Pulau Bulan, kelompok ini punya usaha lain. PT Poultrindo Lestari dan PT Piranti Gemilang yang bergerak dalam peternakan ayam, buaya dan pengembangan tanaman anggrek.
Dampak Kasus Virus ASF
Indonesia dan Singapura sama-sama merasakan dampak besar dari kasus virus ASF ini. Pasalnya, Indonesia menyuplai 15 persen kebutuhan daging babi di Singapura. Satu-satunya penyuplai babi hidup dari Indonesia ke Singapura adalah dari Pulau Bulan yang merupakan peternakan babi terbesar di Asia Tenggara. Ironisnya, kasus ini menjadi untuk pertama kalinya dalam sejarah, Singapura menghentikan pasokan babi dari Indonesia karena kasus virus babi.
Kerugian besar bagi Indonesia adalah reputasi Indonesia sebagai pengekspor babi hidup rusak karena temuan adanya virus ASF dari babi yang dikirim dari Pulau Bulan. Dampak ekonomi secara langsung adalah Indonesia kehilangan cuan yang besar dari dihentikan ekspor babi ini. Setiap hari rata-rata dikirim 900-1.000 ekor babi hidup ke Singapura yang nilai omset hariannya mencapai Rp3,5 miliar. Dalam sebulan, pengiriman babi dilakukan 26 hari dengan omset Rp91 M. Omset per tahun dari perdagangan babi ini sekitar Rp1,09 triliun.
Bagi Singapura kerugian besarnya adalah mereka harus mencari pemasok babi hidup dari negara lain. Selama ini pasokan babi hidup dipasok dari daerah Serawak, Malaysia Timur, selain dari Pulau Bulan (Batam). Bukan perkara gampang mencari importir baru dalam waktu singkat karena kondisi peternakan babi di Serawak skalanya masih jauh dibawah Pulau Bulan.
Malaysia juga pernah mengalami kasus virus ASF ini. Tahun 1999 ditemukan virus babi pada peternakan babi di Pulau Nipah, Serawak. Dampaknya adalah Singapura menyetop pasokan babi dari Malaysia hingga tahun 2017. Dampaknya adalah Indonesia melalui PT ITS di Pulau Bulan menjadi pemain tunggal dalam bisnis perdagangan babi hidup di Singapura. Sementara, kebutuhan daging babi (pork) di Singapura dipasok dari negara lainnya, seperti Brazil, Amerika Serikat, Australia, Belanda dan negara lainnya.
Indonesia tak boleh main-main dalam menangani kasus virus ASF di Pulau Bulan ini. Kasus yang menimpa Pulau Nipah, Malaysia bisa dialami Indonesia. Singapura belasan tahun enggan mengimpor babi dari Malaysia meski negara tersebut sudah dinyatakan bebas virus babi oleh Organisasi Kesehatan Hewan Dunia. Reputasi Indonesia khususnya Pulau Bulan sebagai penghasil babi terbaik dan terbesar di Indonesia akan rontok.
Kementerian Pertanian melalui unit pelaksana teknis (UPT)-nya, yakni Balai Karantina Pertanian Tanjungpinang bersama instansi terkait lainnya, seperti Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Batam secepatnya bisa memastikan kasus virus ASF ini dan cepat ditangani. Solusi cepat harus diambil agar temuan virus ASF di Pulau Bulan tak menyebar ke peternakan babi di daerah lain.

Peluang bisnis dengan tingginya kebutuhan babi hidup di Singapura jangan sampai diambil alih oleh Malaysia. Dikhawatirkan kalau Indonesia dianggap tidak serius dalam menangani virus ASF ini, penghentian sementara pasokan babi dari Pulau Bulan akan permanen. Ini berita menyedihkan karena sejak tahun 1987, Indonesia sebagai pemasok utama kebutuhan babi hidup Singapura. Imbasnya, peternakan babi di Pulau Bulan yang menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan setiap tahunnya beromset triliunan akan menghilang. Ini akan jadi tantangan besar bagi masa depan peternakan babi di Indonesia. (dedi arman).
