Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, M.A

Pengantar

Kepulauan Riau dikenal dengan daerah perairannya yang luas. Hampir 95 persen wilayah Kepulauan Riau terdiri dari peraiaran dan sisanya barulah daratan. Banyak wisatawan lokal maupun asing menghabiskan waktu libur mereka untuk mengunjungi spot wisata pantai dan pulau-pulau indah di Kepulauan Riau.  Selain mengunjungi wisata alamnya yang menakjubkan, wisatawan juga dapat berwisata belanja di Provinsi kepulauan di Sumatra ini. Kepulauan Riau dikenal memiliki beragam kerajinan dari kain dari batik hingga songket. Seperti daerah tetangganya di Pulau Sumatra, Kepulauan Riau memiliki kerajinan songket atau tenun yang disebut dengan kain Cual. Kain Cual merupakan kain tenun khas dari Kepulauan Anambas, salah satu kabupaten di Kepulauan Riau. Kain Cual ini terbilang cukup langka atau bahkan hampir punah dan kini baru akan dikembangkan lagi oleh pemerintah daerah.

Kain cual bentuk aslinya berupa kain tenun songket. Ia hampir sama dengan kain cual milik Bangka Belitung ataupun Sambas, Kalimantan Barat. Tapi dengan motif yang berlainan. Cual berasal dari singkatan ‘belacu dijual’. Ini cikal bakal kain tenun songket yang diperjual-belikan di Kabupaten Kepulauan Anambas (dulu bernama Siantan). Kain Cual kemudian  menjadi salah satu kekayaan Anambas. Motifnya unik dan sangat khas. Alat tenun Cual pertama didatangkan dari Sambas, Kalimantan Barat dan bahan baku pewarnanya berasal dari kayu samak, benang kain dari kapas, bahan benang dari benang belacu, dan benang emas pun dulu didatangkan dari Sambas.

Ada delapan motif cual asli. Dari delapan motif asli cual, lima diantaranya yaitu;  Bunga Pucuk Rebung, Tudung Saji, Sampan Layar, Bulan Purnama dan Padang Terbakar sudah mendapatkan hak paten dari Kementerian Perdagangan. Sedangkan lainnya yaitu Lebah Bergantung, Ikan Beriring dan Awan Beriring masih menunggu penerimaan hak paten.

Sejarah

Kain Cual ditenun pertama kali ditenun pada 1863 oleh Hj. Halimah istri dari H.Abdurrahman di kampung Teluk Encau, sekarang masuk wilayah Kecamatan Siantan Timur. Alat tenun pertama didatangkan dari Sambas, Kalimantan Barat. Awalnya, cual hanya kain biasa yang digunakan untuk keperluan pribadi. Selain pandai menenun, Hj Halimah juga mengajar mengaji. Waktu itu Hj. Halimah memang terkenal multi-talenta. Selain pandai menenun, Hj Halimah juga mengajar mengaji. Muridnya adalah anak-anak di sekitar tempatnya tinggal. Kepada anak-anak seusia sekolah dasar, ia ajarkan mereka mengaji. Sementara itu juga mengajarkan menenun untuk para gadis.

Waktu berlalu, Hj Halimah wafat. Para gadis pun beranjak tua. Ilmu menenun kain cual diwariskan terbatas hanya pada yang menginginkan. Maka jadilah kain cual hanya dikenal oleh orang-orang terdahulu. Ia disimpan rapi dalam kotak kayu. Dan hanya akan dikenakan pada perayaan-perayaan penting. Setelah berpuluh tahun dilupakan, dan kini kain cual dimunculkan kembali. Termasuk menjadi pakaian batik khas Anambas untuk digunakan para pegawai di lingkungan Pemkab Anambas, siswa-siswi sekolah dan masyarakat secara umum. Serta songketnya dikenakan bangsawan khususnya saat hari perayaan dan pernikahan. Kain cual Anambas begitu istimewa karena kehalusan, keindahan serta kemewahan motifnya. Kain cual yang sempat beberapa waktu lalu hampir punah ketenarannya karena berkurangnya Sumber Daya Manusia yang pandai menenun.

Pengembangan

Kini kain cual sedang dihidupkan lagi sebagai warisan budaya khas Anambas. Ibu Yeni bersama kelompok ibu-ibu Dekranasda mulai menggali lagi informasi-informasi terkait kain cual. Yang pertama dilakukan adalah mencari orang-orang yang masih menyimpan kain tersebut. Pencarian itu tidak mudah. Ketika sudah dapat orangnya, ia tak akan begitu saja memperlihatkan kain cual. Apalagi meminjamkannya. Kain cual dianggap sebagai harta warisan yang sangat berharga. Pemilik cual lawas tersebut  mengkhawatirkan kondisi kain yang sudah rentan rapuh tersebut, apalagi sangat berharga hingga tidak dapat dipinjamkan.

Sebagai solusi dan langkah awal, kain tersebut difoto inchi per inchi.  Hasil foto pun dicetak. Lalu diantar ke Palembang untuk dibuatkan kain tenun baru dengan motif yang sama. Begitu selesai, Dekranasda memberikan kain tenun baru tersebut untuk pemilik cual asli. Barulah,  pemilik cual asli mau meminjamkan koleksinya. Setelah mendapat kain cual pinjaman, Dekranasda segera menggelar sebuah seminar. Diundangnya para tetua-tetua adat serta tokoh masyarakat. Masyarakat setempat juga diminta hadir. Usai seminar, tim bergerak cepat menyalin semua motif tenun yang ada. Hasilnya dikirim ke Palembang (Sumatera Selatan) untuk dibuatkan kain tenun dengan mutu yang sama. Kemudian dimodifikasi ulang setelah ditenun menjadi kain batik di Pekalongan (Jawa Tengah) dan muncul sebagai batik tulis dan cap. Pembuatan luar daerah ini dikarenakan belum tersedia alat tenun, cap, maupun alat cetak yang memadai untuk produksi kain cual di Kabupaten Anambas. Warisan budaya dan keindahan yang tertuan di kain tenun atau songket cual ini dapat anda hargai senilai Rp. 2.000.000,00 – Rp. 4.000.000,00. Sementara untuk kain cual cap atau print mulai dari Rp. 150.000,00. Kain ini dapat diperoleh  di Kantor Dekranasda di depan gedung DPRD Kabupaten Anambas.

        Menilik semua hal yang berhubungan dengan kain cual ini, mulai dari perlatan yang digunakan, bahan baku, bahan pewarnaan, teknik hingga ke ragam hias motif dan filosofi hidup yang terkandung dapat disimpulkan bahwa kain cual ini dibuat dengan keterampilan, ketelatenan, kesabaran, dan daya kreasi tinggi yang memperlihatkan keindahan dan kesempurnaan hasil ciptaan zaman silam yang masih segar hingga kini.

Sosialisasi Kain Cual Anambas

Proses sosialisasi kain cual ini juga dilakukan di luar Anambas. Desainer kondang Ramli menggubah cual menjadi aneka busana. Busana-busana itu kemudian dipamerkan di Jakarta dalam sebuah pagelaran busana pada tahun 2012. Selain itu, pagelaran busana diulang kembali di Anambas, setahun kemudian. Bertempat di Gedung Pertemuan Masyarakat Siantan. Para pegawai memperagakan busana batik mereka masing-masing. Mempergakannya seorang diri atau berpasangan.

            Perkembangan kain cual ini semakin benderang saat pemerintah mewajibkan penggunaan seragam batik cual di kalangan instansi sekali seminggu. Yaitu, setiap hari Kamis. Sementara di kalangan sekolah, anak-anak kini telah memiliki seragam khusus batik cual. Tak hanya itu, setiap kali ada pawai Seleksi Tilawatil Quran (STQ), Kabupaten Kepulauan Anambas pun selalu membuat seragam dari batik cual. Bahkan, Festival Padang Melang 2019 berlangsung di di Pantai Padang Melang, Jemaja, Anambas, Kepulauan Riau (Kepri), 17-20 Juli. Event ini menjadi ajang mengangkat Kain Cual Anambas. Kain Cual dipakai dalam prosesi penyambutan tamu Festival Padang Melang 2019. Sekarang, seluruh Kepulauan Riau ini mengetahui bahwa kain cual ini berasal dari Anambas.

Batik cual hingga kini masih diproduksi massal di Pekalongan. Begitu juga dengan kain tenunnya yang masih ditenun di Palembang. Namun demikian, Dekranasda sesungguhnya telah memiliki alat tenun sendiri. Mereka pun telah menggelar pelatihan menenun. Sekarang, yang dilakukan adalah menunggu proses kreatif itu berjalan. Diharapkan, kain cual yang sudah berkembang ini  jangan tenggelam lagi.

Tinggalkan Balasan