Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi
Pendahuluan
Rempah bisa disebut sebagai salah satu saksi sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia. Sejarah mencatatkan rempah sebagai komoditas penting bangsa Indonesia sehingga Indonesia dikenal di kancah internasional. Rempah pun sangat lekat dengan kehidupan bangsa Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Masyarakat Indonesia sudah terbiasa memanfaatkan rempah untuk berbagai kebutuhan, seperti kuliner, pengobatan, ritual, sampai dengan bahan pengawet. Namun ternyata, rempah tidak hanya terlibat dalam tatanan kehidupan masyarakat Indonesia saja. Lebih dari itu, rempah juga mengubah tatanan kehidupan bangsa di dunia. Dari rempah pulalah kemudian terbangun hubungan dagang antarbangsa dan benua. Bahkan, rempah telah memicu lahirnya kolonialisme, yang mau tak mau membawa perubahan pada perkembangan peradaban dunia. Nusantara memiliki posisi strategis sebagai poros yang menghubungkan Cina, India, Timur Tengah hingga Eropa. Jauh sebelum bangsa Eropa melakukan aktivitas perdagangan di Asia Tenggara, Nusantara telah menjadi pemain penting dalam perdagangan dunia dan telah lama dikenal sebagai negara pemasok utama komoditas penting di dunia adalah rempah-rempah.(Reid, 2014)
Bangsa Eropa yang pertama kali sampai ke nusantara adalah Portugis, kemudian disusul dengan Spanyol, dan bangsa Eropa lainnya. Sementara orang Belanda baru sampai Banten pada 1596. Pada abad ke-16 itu, belum ada satu kekuatan pun yang berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah. Menjelang abad ke-17, bangsa Belanda secara bertahap menggantikan posisi Eropa dan menegakkan monopoli perdagangan rempah-rempah. Belanda mendirikan Verenigde Oost Indische Compagnie (VOC) yang memiliki kapal, gudang, dan komoditas rempah [1].
Sementara itu, jejak pelayaran dan perdagangan dapat dilihat dari penemuan benda-benda bersejarah di lautan, yaitu muatan kapal-kapal kuno pada periode tahun 1511-1800, yang tenggelam di perairan Nusantara. Kapal tersebut diyakini mengangkut berbagai benda muatan, antara lain, sutra murni Cina, teh dari Cina, Opium dari Bengal (Bangladesh), Danuan (India), dan Turki. Bahan katun dari Amerika dan Cina, rempah dari Maluku, logam dari Eropa seperti besi, dan kulit hewan dari Inggris dan Amerika. Selama bertahun-tahun sejak tenggelamnya kapal yang membawanya, barang-barang tersebut banyak yang hancur. Namun, ada pula yang bisa diabadikan hingga saat ini, seperti yang ditampilkan dalam pameran jalur rempah tersebut, yaitu muatan-muatan kapal yang tergolong sebagai benda berharga. Di antaranya, emas, perak, berlian, zamrud, mutiara, batu berharga, porselen, dan keramik dari Cina dan Jepang [2].
Secara historis, Selat Malaka mulai berkembang pesat sebagai salah satu urat nadi pelayaran sejak akhir abad 14, yaitu saat berdirinya Malaka. Peranan yang sangat menonjol dari Selat Malaka adalah sebagai tempat bertemunya berbagai saudagar yang berasal dari Persia, Arab, India, Tiongkok, dan daerah sekitar. Jenis barang-barang yang diperdagangkan melalui Selat Malaka menarik untuk di kaji terutama rempah. Dari Selat Malaka, jalur pelayaran dan perdagangan selanjutnya memasuki Laut Cina Selatan. Sementara, penyusuran Laut Selatan akan tiba di Selat Lombok atau Laut Arafura untuk selanjutnya memasuki Laut Banda hingga Laut Sulawesi. Lalu, setelah mencapai Selat Sunda, jalur pelayaran menjadi bercabang empat, yaitu melalui Laut Jawa hingga ke Selat Sulawesi, melalui Selat Bangka, Gaspar dan Karimata [3].
Dari segi navigasi, tidak semua alur di sepanjang kawasan Selat Malaka bisa dilayari dengan leluasa, mengingat beberapa bagian dari Selat Malaka alur pelayarannya sangat sempit. Selat Malaka (kini) telah mengalami perkembangan yang sangat pesat sebagai salah satu jalur transportasi laut terpenting di dunia. Selain itu, keberadaannya tidak hanya bernilai strategis baik ekonomis maupun politik bagi negara pantai, yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura. Namun, juga bernilai strategis bagi negara-negara pengguna seperti China, Korea, Jepang, Filipina, Negara Timur Tengah, dan Negara lainnya [4].
Pulau Penyengat dan Jalur Rempah
Jalur rempah adalah narasi besar bangsa Indonesia. Rempah telah mengharumkan nama Indonesia. Narasi jalur rempah pada masa sekarang masih tetap memiliki peran penting. Karena, rempah menyimpan berbagai cerita sejarah, jalur perdagangan, monopoli perdagangan sampai dengan warisan budaya. Oleh karena itu, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan akan mendaftarkan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia ke UNESCO. Salah satu titik jalur rempah Kepulauan Riau. Beberapa sumber tertulis, menyebut salah satu bagian wilayah Kepulauan Riau yaitu Pulau Penyengat sebagai salah satu konektivitas sejarah dan budaya Melayu. Pulau Penyengat merupakan warisan budaya melayu yang menyimpan tapak-tapak sejarah terkait eksistensi dan dan kerajaan Melayu Riau Lingga pada masanya. Hingga sekarang cagar budaya peninggalan sejarah Kerajaan Melayu Riau Lingga masih ada dan terus dilestarikan keberadaannya. Pulau Penyengat juga telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 112/M/2018.
Pulau Penyengat sebelum menjadi tempat kedudukan Sultan, juga sudah berkembang maju. Seperti dicatat Virginia Matheson Hooker dalam kata pengantarnya untuk buku alih aksara Tuhfat Al Nafis yang diterbitkan bersama Dewan Bahasa dan Pustaka dan Yayasan Karyawan, Kuala Lumpur, Malaysia (1998), akhir abad 19 adalah masa emas dan kejayaan bagi Pulau Penyengat. Berikut kutipannya.
“Pada abad kesembilan belas kerajaan Riau tenteram dan damai, ini memungkinkan lahirnya semacam zaman keemasan untuk agama Islam dan kebudayaan“ tulis Hooker. Dan pada bagian lain, dia juga mencatat “Penyengat meskipun kecil dan kelihatan terpencil, sama ada dari Singapura maupun Betawi, pada hakekatnya mempunyai hubungan langsung dengan kedua wilayah tersebut”
Khususnya pada pertengahan kedua abad kesembilan belas, pembesar Kerajaan Riau Lingga di Penyengat sering melawat Timur Tengah dan juga menjaga hubungan erat dengan kaum kerabat mereka di Singapura, Johor, Pahang, dan Terengganu[5]. Pulau Penyengat menyisakan warisan tamaddun Melayu baik yang tangible, maupun intangible masih sangat terawat dan terpelihara. Diantaranya warisan kuliner, pengobatan, seni, pakaian, bahasa dan warisan tradisi atau budaya. Dalam bidang sastra, Pulau Penyengat menghasilkan karya-karya bertemakan (1) politik, (2) hukum, (3) pemerintahan, (4) astronomi, (5) kedokteran, (6) sejarah, (7) filsafat, dan (8) jurnalistik. Karya-karya awal itu amat penting artinya bagi kita saat ini untuk melihat kesinambungannya dengan perkembangan masa kini, di samping nilai historisnya. Raja Susana Fitri (2020) menyebutkan bahwa jejak kuliner Melayu melalui Jalur Rempah dapat dilihat dari naskah Melayu. Raja Ahmad Engku Haji Tua dalam naskah Syair Perjalanan Engku Puteri ke Lingga, ada menulis tentang petunjuk membuat juadah Melayu. Dijelaskan dalam naskah tersebut cara membuat penganan yang berkukus, penganan yang dibakar, dan penganan yang dikacau. Konsep masakan Melayu itu “Hendaklah Cantik Dimata, Sedap Dilidah”. Perempuan Melayu juga digesa menyiapkan makanan berperencah, berempah, dan juadah-juadah yang khas untuk menjaga stamina tubuh. Selain naskah Syair Perjalanan Engku Puteri ke Lingga terdapat naskah Melayu lainnya yaitu Kitab Pengetahuan Bahasa dan Tunjuk Ajar Perempuan yang berisikan pengetahuan kuliner melayu, bagaimana adat memasak, penggunaan rempah dalam kuliner Melayu [6].
Rempah juga digunakan dalam pengobatan Melayu. Tok Bulan (2020) mengisahkan bahwa pada masa lalu dikenal seorang tokoh bernama Raja Ahmad. Beliau lebih dikenal sebagai Raja Ahmad Tabib. Dari sisi ayah, ia adalah cucu dari Raja Ali bin Raja Ahmad (Raja Ali Haji), bahasa dan sejarawan nusantara yang terkenal. Dari sisi ibunya, beliau adalah cucu dari Raja Abdullah bin Raja Ja ‘ far Alauddin Shah. Raja Ahmad Tabib atau nama asli Raja Ahmad bin Raja Hassan lahir tahun 1865 di Pulau Penyengat. Pada tahun 1881, beliau pergi ke Mekah selama setahun. Saat di Mekah, beliau berhasil mempelajari kitab thaiyib al-Ihsan fi thibb al-insan kepada syeikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani. Ia kembali ke Pulau Penyengat pada tahun 1882. Pada tahun 1883, beliau untuk memulai karier sebagai seorang tabib. Pada tanggal 12 Juli 1901, beliau diberi kepercayaan oleh Sultan Abdul Rahman Mu ‘ Azam Shah Ii Ibnu Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi sebagai tabib istana.
Selama hidupnya Tok Bulan (2020) mencatat Raja Ahmad Tabib menulis beberapa naskah, di antaranya adalah :(1) Puisi mengajarkan nasehat untuk menjaga diri (2) Syair klaim perilaku(3) Selebaran Rumah Obat di Pulau Tawon. Ketokohan Raja Ahmad di bidang medis semakin menonjol ketika ia berhasil memproduksi jenis obat yang disebut Jahe Syarbat. Obat tersebut dikenal sebagai yang paling manjur dan terkenal di Kepulauan Riau, Singapura dan Tanah Melayu pada masanya. Jahe Syarbat atau Syarbat Zanjabil adalah sejenis obat cair yang terbuat dari rempah-rempah, aromanya cukup harum dan dijual dalam botol[7]. Obat tersebut bermujarab dalam menyembuhkan berbagai penyakit internal seperti sakit jantung, sakit tulang, sakit kuning dan lain-lain. Selain Jahe Syarbat, ada juga dua jenis minyak yang turun temurun oleh keluarganya yaitu minyak telon dan minyak bau. Kedua jenis minyak tersebut baik untuk mengobati penyakit luar, seperti kembung, sengatan hewan beracun, kram dan lain-lain.
Selain itu, kepedulian masyarakat terhadap pelestarian seni budaya masih tinggi dan ada beberapa warisan seni dan budaya yang masih dapat dinikmati keberadaannya. Diantaranya, Zapin Penyengat, Gazal dan Boria. Warisan tamaddun Melayu baik yang tangible, maupun intangible masih sangat terawat dan terpelihara. Bahkan, dalam mempersiapkan dan mendukung usulan pulau warisan dunia (Swastiwi, 2022), Pemerintah Kota Tanjung-pinang pada tahun 2014 telah menyusun Peraturan Daerah Kota Tanjungpinang No. 10 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tanjungpinang Tahun 2014-2034, Pulau Penyengat telah ditetapkan dalam berbagai status penataan, yaitu: Pulau Penyengat sebagai pusat budaya; Pulau Penyengat sebagai pusat belanja budaya; Pulau Penyengat sebagai pelabuhan pengumpan; Pulau Penyengat dalam jaringan sumber daya air; Pulau Penyengat sebagai kawasan lindung budaya; Pulau Penyengat sebagai kawasan pariwisata; Pulau Penyengat sebagai kawasan strategis Kota Tanjungpinang.
Jadi, Jalur Rempah bukan hanya berisi perdagangan rempah-rempah, tetapi juga sekaligus menghasilkan pertukaran ilmu, budaya, sosial, bahasa, keahlian-ketrampilan dan bahkan agama di antara berbagai orang yang berasal dari berbagai tempat yang jauh. Karena itu, jalur rempah adalah melting pot berbagai konsep, gagasan dan praksis; dan jalur rempah menjadi sarana perpindahan semua itu dari satu tempat ke tempat lain. Rempah juga menjadi penggerak sejarah dan bahkan mengubah peta dunia. Oleh karena itu, rempah bukan hanya sebagai komoditi dagang, tetapi juga menjadi simbol tertentu dalam budaya. Perjalanan panjang rempah Indonesia dan Kepulauan Riau khususnya Pulau Penyengat membuat masyarakat Indonesia tak bisa lepas dari rempah. Mulai dari obat hingga ke kuliner pasti mengandalkan rempah.
[1] Reid, A. (2014). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 Tanah Di Bawah Angin. In Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
[2] Reid, A. (2014). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 1 Tanah Di Bawah Angin. In Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
[3] Roolvink, R. (1980). Sadjarah Riouw Lingga dan Daërah Taäloqnja. Archipel, 20(1), 225–231. https://doi.org/10.3406/arch.1980.1603
[4] Swastiwi, A. W. (2021b). Jurnal Sosial dan Teknologi ( SOSTECH ) Jejak Jalur Rempah di Kepulauan Riau masakan ( Hakim et al ., 2015 ) dan bahan obat-obatan yang sangat penting bagi kehidupan oleh banyak orang , namun yang lebih mengagumkan lagi adalah bahwa banyak hal telah dalam. 1(11), 395–405.
[5] Swastiwi, A. W. (2021a). Aktivitas Perdagangan Kerajaan Riau-Lingga Abad 18-20: Historiografi Pantai Timur Sumatera. Seminar Nasional Humaniora, 1(1), 1–15
[6] Swastiwi, A. W. (2022). Penyengat island riau island: towards a word heritage. 9644, 116–129
[7] Swastiwi, A. W. (2021b). Jurnal Sosial dan Teknologi ( SOSTECH ) Jejak Jalur Rempah di Kepulauan Riau masakan ( Hakim et al ., 2015 ) dan bahan obat-obatan yang sangat penting bagi kehidupan oleh banyak orang , namun yang lebih mengagumkan lagi adalah bahwa banyak hal telah dalam. 1(11), 395–405.
