Pendahuluan

            Gambir atau getah gambir adalah sari yang diekstraksi dari tanaman bernama sama. Setelah itu diracik, dibiarkan mengeras, dan dipotong menjadi bagian-bagian dengan bentuk yang berbeda-beda atau digulung menjadi berbentuk bola. Gambir sangat umum dimakan dengan sirih dan memiliki khasiat membuat wangi sehingga juga dioleskan di gusi anak balita. Tanaman itu diklasifikasikan antara kelas portlandia dan roella dalam sistem leanus. Gambir didapatkan dari tanaman rambat yang diklasifikasikan funis uncatus. Di Siak, Kampar, Indragiri, dan umumnya wilayah timur Sumatra, gambir merupakan komoditas dagang yang penting. [1]

Gambir secara tradisional digunakan sebagai obat obatan tradisional seperti sakit perut dan sakit tenggorokan. Gambir dapat digunakan sebagai obat tradisional, yaitu obat diare, obat batuk dan sebagai pengawet makanan.[2] Produksi gambir nasional dihasilkan dari empat provinsi sentra penghasil gambir, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan. Diantara keempat provinsi tersebut Sumatera Barat merupakan sentra gambir terbesar dan mampu memasok 80 persen hingga 90 persen dari total produksi gambir nasional.  Pangsa pasar internasional gambir Indonesia antara lain Singapura, Pakistan, India, Bangladesh, Taiwan, Korea Selatan, Jepang dan beberapa negara Eropa. Sekitar 80 persen pangsa pasar gambir dunia dipasok Indonesia.

Di Indonesia, ada tiga varietas unggul gambir, yakni varietas udang, cubadak dan Riau. Ketiga varietas ini dijumpai pada perkebunan gambir di Sumbar, Riau, Aceh, Jambi dan Sumatera Selatan.  Terdapat perbedaan karakter terhadap antar tipe tanaman gambir yaitu udang, cubadak dan Riau. Perbedaan karakter morfologinya terlihat dari ukuran daun, panjang petiolus, warna pucuk, warna daun, warna cabang dan ranting, dan rendemen hasil. Di antara tiga tipe tersebut, tipe udang memiliki potensi hasil yang lebih tinggi yaitu mencapai 750-1,200 kg/hektar, sedangkan untuk tipe Riau sebesar 550-950 kg/ha dan Cubadak sebesar 630 kg/ha. Dari penamaan varietas salahsatunya Riau menunjukkan gambir itu sudah lama dibudidayakan di daerah Riau.  Dalam konteks ini Riau merujuk ke daerah Provinsi Riau dan Kepulauan Riau masa kini.

Sejarah Gambir di Riau

            Pada awal abad ke-17 gambir merupakan  produk ekspor dari Kesultanan Palembang. Pada tahun 1743 Yang Dipertuan Muda Riau, Daeng Celak memerintahkan dua orang penghulu  untuk  mendapatkan bibit dari daratan Sumatra, untuk ditanam di daerahnya. Gambir ini ditanam di Pulau Bintan dan akhirnya ke seluruh pulau di Kepulauan Riau. Setelah sukses di Kepulauan Riau, gambir menyebar ke Pulau Singapura dan Johor. [3] Tidak ada catatan pasti asal muasal gambir yang ada di Riau. Besar kemungkinan berasal dari budidaya gambir di Kepulauan Riau. Wilayah Indragiri berada dibawah Keresidenan Riau. Sementara, gambir di daerah Kampar dan Rokan Hulu erat kaitannya dengan gambir di Limapuluh Kota (Sumbar) yang merupakan sentra gambir dan wilayahnya berdekatan.

            Pada awal abad ke-20, ada perbedaan budidaya tanaman gambir di Riau dan Minangkabau. Perkebunan gambir di Minangkabau sukses dan berkelanjutan karena kebun itu ada di hutan-hutan utama di nagari dan pemimpin lokal (penghulu) memberikan hak untuk membuka lahan baru bagi masyarakat sehingga mudah dikontrol, dan lahan yang dibuka ini menjadi milik komunal dari masyarakat itu. Hal ini berbeda dengan daerah lain. Gambir menjadi perkebunan yang dikelola oleh pemerintahan Belanda dalam bentuk onderneming. Di Indragiri ada perusahaan Onderneming Sungai Sago yang menanam gambir. Tahun 1920-an daerah Afdeeling Indragiri yang membawahi Indragiri dan Kuantan ramai karena pembukaan perusahaan besar dibidang gambir, karet, kelapa, sagu dan pengolahan kayu. [4]

            Gambir yang dihasilkan dari Afdeeling Indragiri ini dikirim ke Singapura. Pada periode 1915-1939, ada tiga pelabuhan utama di kawasan Indragiri, yakni Prigiraja, Tembilahan dan Rengat. Dekade kedua abad ke-20, pelabuhan yang ramai adalah Prigiraja yang lokasinya di muara sungai Kuantan/Indragiri. Rengat ramai karena menjadi ibukota Afdeeling Indragiri. Berbagai komoditas dari Indragiri dipasarkan ke Singapura, diantaranya karet, gambir, kelapa, sagu, dan olahan kayu. Pelabuhan Tembilahan baru ramai dasawarsa keempat abad ke-20. Tahun 1930-an, daerah Tembilahan makin ramai karena banyaknya penduduk pendatang. Perkebunan kelapa di kawasan ini makin maju. [5] Perusahaan Belanda KPM menyediakan dua kapal, yakni Indragiri dan Donggala yang melayari rute Tembilahan-Singapura setiap minggu. Ada juga lima unit kapal milik pengusaha Tionghoa yang melayari rute Tembilahan-Singapura setiap pekan.

            Selain di Kawasan Indragiri, gambir yang dibudidayakan di aerah Kampar dan sekitarnya juga dipasarkan ke Semenanjung Malaya. Perdagangan aktif sekali dalam bulan Januari dan Februari ketika kapal-kapal Inggris melewati selat. Apalagi setelah keberhasilan pelabuhan Penang yang didirikan oleh East India Company (EIC) pada tahun 1786 untuk menarik perdagangan di selat Malaka. Sejak itu Penang dijadikan pusat perniagaan bagi para pedagang dari Minangkabau dan Kampar sekitarnya. Pangkalan Kota Baru yang terletak di timur Lima Puluh Kota menjadi ramai didatangi oleh pedagang pedagang dari pedalaman Minangkabau yang membawa gambir. Gambir Lima Puluh Kota dianggap  bermutu tinggi daripada gambir Riau, karena  kadar taninnya tinggi. Pangkalan Kota Baru merupakan tempat pengumpulan hasil-hasil bumi di pedalaman Minangkabau yang akan dibawa ke pantai timur. Dari pangkalan Kota Baru barang-barang ini dipersiapkan untuk dibawa ke Kampar menuju Penang sampai Singapura. Gambir merupakan komoditas ekspor awal Minangkabau ke Singapura. [6]

            Di pasar semenanjung Malaya abad ke-19, gambir dari Kampar dan sekitarnya dikenal dengan nama gambir Kampar atau gambir Siak. Budidaya gambir di Kampar itu polanya sama dengan daerah Minangkabau. Kebun gambir dikelola masyarakat Kampar, masyarakat Rokan Hulu dan Indragiri Hulu, serta Indragiri Hilir. Budidaya dan pengolahan gambirnya juga berbeda dengan di Kepulauan Riau. Di Kepri, pengolahan gambir dilakukan dengan ala Tionghoa. Pemilik kebun gambir pada abad ke-19 hingga masa kini adalah orang Tionghoa. Gambir hingga masih dibudidayakan di Kabupaten Lingga dan Kundur, Kabupaten Karimun.

            Kejayaan gambir pada masa lampau di Riau meredup diyakini karena kondisi perdagangan ekspor gambir di tingkat dunia. Pada 1920-1940 produksi gambir Hindia Belanda mencapai 15.000 ton setiap tahun. Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, dan Singapura adalah negara-negara penyerap hasil produksi dengan nilai jual 100 dollar AS hingga 400 dollar AS per ton. Namun seusai Perang Dunia II, permintaan gambir untuk pasaran dunia turun drastis. Zat katekin dan tanin yang paling banyak diburu dalam gambir mulai dicari substitusinya dari komoditas lain atau bahkan digunakan zat sintetis. Perusahaan-perusahaan yang sebelumnya aktif mengupayakan gambir berganti ke komoditas lain. [7]

Di Riau, selain karena kondisi pasar dunia, ada komoditas ekspor lain yang muncul dan kini menjadi ikon Provinsi Riau, yakni perkebunan karet, kelapa sawit dan kelapa. Provinsi Riau salahsatu daerah sentra karet, kelapa, dan kelapa di Indonesia. Tanaman karet dan kelapa sawit ada di hampir seluruh kabupaten/kota di Riau. Sementara, kelapa menjadi andalan Kabupaten Indragiri Hilir. Sementara, perkebunan gambir masih dibudidayakan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Kampar dan Rokan Hulu. Data tahun 2019, di Kabupaten Kampar, budidaya gambir seluas 4.748 Ha dengan produksi 1600 ton/tahun dan Kabupaten Rokan Hulu 560 Ha dengan produksi 158 ton/tahun.

            Gambir memang kalah dari komoditas ekspor lain, seperti karet, kelapa sawit dan kelapa, namun tanaman ini idealnya tidak hilang dari Bumi Lancang Kuning. Gambir sudah menjadi tanaman kultural karena sudah dibudidayakan sejak lama. Apalagi hingga sekarang masih dibudidayakan masyarakat Riau meskipun dalam skala kecil. Dari aspek kerusakan lingkungan, budidaya gambir juga relatif berdampak lebih kecil ketimbang tanaman kelapa sawit. Gambir hanya membutuhkan kayu sebagai bahan bakar dalam pengolahan gambir. Gambir juga bisa berumur panjang dan perawatannya juga mudah. Tanaman ini tetap dibutuhkan dalam industri farmasi, tekstil dan industri lainnya. (Dedi Arman).


[1] Wiliam Marsden. Sejarah Sumatra. Depok: Komunitas Bambu, 2013.

[2] Tuty Angraini dkk. Book of Gambir : Pengolahan, Komponen dan Manfaat.  Jakarta: CV. Rumahkayu Pustaka Utama, 2018.

[3] Selfi Mahat Putri. Usaha Gambir Rakyat di Lima Puluh Kota 1833-1930. Lembaran Sejarah Vol.10 No 2, 2013.

[4] Gusti Asnan. Sungai & Sejarah Sumatra. Yogyakarta: Ombak, 2016.

[5] Asnan, ibid, hlm.215

[6] Selfi, ibid.

[7] Ketika Tanaman Gambir Membawa Permata bagi Petani Sumbar (goodnewsfromindonesia.id)/ 6 Januari 2023

Tinggalkan Balasan