Orang muslim bersekolah di sekolah dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) atau kampus milik Yayasan Katolik itu sudah biasa. Ada imej sekolah-sekolah yang dikelola Yayasan Katolik berkualitas bagus. Fenomena menarik terjadi pada anak-anak Orang Laut di Kampung Panglong, Desa Berakit, Kabupaten Bintan (Kepri). Anak-anak yang beragama Katolik dan Protestan memilih menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Bintan yang berada di Desa Berakit. Mereka memilih belajar di MIN yang identik dengan sekolah Islam ketimbang bersekolah di SD 009 Teluk Sebong yang berada di kampungnya. Tahun ajaran 2023/2024 ada delapan anak Orang Laut dari Kampung Panglong yang bersekolah di MIN 1 Bintan. Namun, tahun ajaran berikutnya, yakni 2024/2025 terjadi peningkatan. Ada 10 anak yang memilih belajar di MIN tertua di Provinsi Kepulauan Riau itu.
Kampung Panglong
Kampung Panglong di Desa Berakit dihuni sekitar 72 Kepala Keluarga (KK) yang mayoritas Orang Laut. Mayoritas beragama Katolik dan ada juga yang Islam dan Protestan.Selain Orang Laut juga ada etnik Tionghoa yang menjadi pemilik tokok/warung dan juga menjadi tauke penampung ikan di kampung tersebut. Ada juga Orang Melayu. Mayoritas warganya bekerja sebagai nelayan. [1] Orang Laut yang ada di kampung ini sudah menetap. Tidak ada lagi mereka yang hidup di atas sampan kajang.
Sejarah Kampung Panglong mulai dihuni Orang Laut sejak tahun 1962. Bone Pasius, Ketua Orang Laut Kampung Panglong yang pertama datang ke daerah tersebut dari Pulau Kubung yang saat ini masuk wilayah Kecamatan Nongsa Kota Batam. Pada tahun 1965 menyusul generasi kedua sebanyak tiga keluarga, sehingga di daerah tersebut terdapat empat keluarga. Ketiga keluarga tersebut adalah keluarga Mat Beyeng, keluarga Dulah dan keluarga Jantan yang berasal dari Pulau Kelong, Numbing dan Ngenang. Alasan Orang Laut menetap dan pindah ke Kampung Panglong karena Desa Berakit memiliki kekayaan terumbu karang sebagai tempat berkembang biak berbagai spesies ikan dibandingkan dengan wilayah perairan lainnya di wilayah Bintan.[2]
Awalnya Orang Laut ini tidak memeluk agama. Baru tahun 1965, mereka memilih agama resmi yang sudah ditetapkan pemerintah. Bone Pasius yang akrab disapa Pak Boncet memeluk agama Katolik setelah berkenalan dengan pemuka agama Katolik di Bintan. Sementara, Mat Beyeng, Dulah dan Jantan memeluk Islam. Meski berbeda agama, namun kehidupan mereka begitu harmonis dan hidup penuh toleransi. Pada tahun 2010-2011, rumah ibadah mulai dibangun di daerah tersebut. Ada gereja yang diberi nama Gereja Bone Pasius dan masjid di kampung tersebut. Sebelumnya, mereka pergi beribadah ke kampung lain. Umat Katolik pergi ke Desa Pengudang dan umat Islam ke kampung lain di Desa Berakit. Selain menganut Katolik dan Islam, di desa ini juga ada beberapa orang yang memilih menganut Protestan.
Adanya program pemerintah memberikan bantuan pembangunan rumah untuk masyarakat Suku Laut yang ada di Kampung Panglong, Desa Berakit, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, secara tidak langsung berdampak pada Pendidikan anak-anak Suku Laut. Masyarakat Suku Laut beriteraksi dengan warga lainnya, sehingga muncul kesadaran untuk pendidikan. Apalagi setelah pemerintah daerah Kabupaten Bintan juga mendorong agar anak-anak Suku Laut juga mendapatkan hak yang sama, yakni pendidikan dasar sembilan tahun. [3]
Secara umum, tingkat pendidikan masyarakat Suku Laut di Kampung Panglong masih rendah. Baru satu orang yang sempat mengeyam pendidikan kuliah Diploma I (D1) atas nama Fransiskus Xaverius Tintin yang kini menjadi Ketua Suku Laut Kampung Panglong. Anak-anak Suku Laut masih banyak yang putus sekolah. Ada beberapa hal yang mempengaruhi kondisi rendahnya pendidikan Suku Laut ini. Diantaranya, rendahnya motivasi orang tua untik mendorong anaknya untuk sekolah. Anak-anak sejak kecil sudah diajarkan membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga. Anak-anak juga sudah terbiasa mencari uang sendiri sehingga malas menempuh pendidikan. Kondisi pendidikan di Kampung Panglong yang masih rendah juga disebabkan adanya keterbatasan biaya dan jarak ke sekolah yang lumayan jauh.
Pilihan Bersekolah di MIN 1 Bintan
Fenomena menarik terjadi pada anak-anak Suku Laut Kampung Panglong adalah mereka lebih memilih bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Bintan, meskipun mereka beragama Katolik dan Protestan. Kondisi ini terjadi sejak tahun 1990-an, sudah ada anak Suku Laut yang bersekolah di MIN 1 Bintan. Ada tiga faktor yang menyebabkan anak-anak Suku Laut yang non muslim memilih bersekolah di MIN 1 Bintan. [4] Pertama, faktor jarak sekolah. Sekolah terdekat dari Kampung Panglong adalah MIN 1 Bintan yang berjarak sekitar 3,7 kilometer. Bisa ditempuh sekitar 6-10 menit pakai kenderaan bermotor. Kalau jalan kaki sekitar 30-40 menit. Sementara, jarak dari Kampung Panglong ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 009 Teluk Sebong juga di Desa Berakit sekitar 9,5 Km. Jaraknya lebih jauh ketimbang ke MIN 1 Bintan. Faktor kedua adalah faktor sejarah. Sebanyak 10 anak Suku Laut non muslim yang kini menempuh pendidikan di MIN 1 Bintan, dulunya para orang tuanya rata-rata juga bersekolah di MIN 1 Bintan. Anak angkat Tintin bernama Marthen juga bersekolah di MIN 1 Bintan. Orang tua Tintin, Bone Pasius Boncet sejak tahun 1990-an yang mendorong anak-anak Suku Laut bersekolah di MIN 1 Bintan.
Faktor ketiga adalah anak-anak Suku Laut nyaman belajar di MIN 1 Bintan. Belum pernah ada kasus anak-anak Suku Laut mendapat perlakuan tidak mengenakkan di MIN yang identik dengan sekolah Islam tersebut. Mereka diberlakukan sama dan tidak dibeda-bedakan meskipun memiliki agama berbeda. Kesadaran pendidikan anak-anak Suku Laut mulai meningkat setelah melihat sosok Tintin yang bersekolah hingga kuliah D1 dan menguasai Bahasa Inggris dengan baik. Secara ekonomi, kehidupan Tintin meningkat karena bisa bekerja pada sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dengan kemampuannya. Para orang tua Suku Laut di Kampung Panglong mulai menyadari pentingnya dunia pendidikan dalam kehidupan dan juga bisa untuk mengubah hidup lebih baik. Anak-anak Suku Laut ingin sukses seperti Tintin yang tidak perlu lagi mengadu nasib di tengah lautan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tintin mengajarkan anak-anak Suku Laut Bahasa Inggris, sementara istri Tintin yang juga Orang Suku Laut mengajar agama Katolik setiap hari Minggu di Gereja Bone Pasius yang ada di Kampung Panglong.
MIN 1 Bintan jadi pilihan anak-anak Suku Laut Kampung Panglong untuk bersekolah tidak terlepas dari kebijakan sekolah. Sebelum ada konsep ‘moderasi beragama’ yang populer belakangan ini, sejak lama MIN 1 Bintan telah membuat kebijakan yang penuh toleransi pada murid yang lintas agama. MIN 1 Bintan yang jemput bola turun ke Kampung Panglong untuk mengajak anak-anak Suku Laut untuk sekolah. Tahun 1990-an, Kepala MIN 1 Bintan, Musa yang turun langsung berjumpa dengan Ketua Suku Laut Kampung Panglong, Bone Pasius Boncet. Boncet diminta menyekolahkan anak-anaknya di MIN 1 Bintan. Jika ini berhasil, maka para orang tua lainnya dipastikan akan ikut. Ajakan itu berhasil mulailah ada anak Suku Laut yang masuk MIN 1 Bintan. Apalagi tahun 1990-an di Desa Berakit belum ada sekolah dasar (SD).
Meskipun MIN statusnya sekolah Islam, namun anak-anak Suku Laut yang non muslim tidak dipaksakan mengikuti pelajaran madrasah yang berkaitan dengan agama Islam. Murid diperbolehkan diluar kelas atau boleh juga tetap di dalam kelas. Murid yang Perempuan yang non muslim juga tidak dipaksakan menggunakan hijab (jilbab). Malahan murid-murid sendiri yang memilih memakai jilbab karena ingin sama terlihat dengan teman-temannya yang muslim. Nilai mata pelajaran agama juga diisi oleh guru kelas. Tidak ada guru agama Katolik dan Protestan yang mengajar di MIN 1 Bintan. Anak-anak Suku Laut memang belajar agama sesuai kepercayaannya di luar sekolah baik namun nilai pelajaran agama tetap diisi oleh pihak MIN 1 Bintan.
MIN 1 Bintan mempraktekkan nilai kesetaraan, yakni memandang manusia memiliki derajat yang sama. Nilai kesetaraan ini sama dengan egaliter. Yaitu memandang semua memiliki posisi dan derajad yang sama tidak ada yang lebih satu sama lain. Implementasi nilai kesetaraan di MIN I Bintan dapat dilihat dari penerapkan nilai-nilai pendidikan multikultural dengan memberikan kesempatan yang sama bagi semua murid tanpa memandang ras, status sosial ekonomi, orientasi seksual, atau karakteristik lain yang membedakan murid. Anak-anak Suku Laut yang kuat secara fisik menjadi keunggulan tersendiri. Mereka berprestasi dibidang olahraga, seperti sepakbola dan atletik.
Murid-Murid MIN 1 Bintan dari Suku Laut juga mendapat hak yang sama dalam sisi bantuan biaya pendidikan. Semua anak Suku Laut yang bersekolah di MIN 1 Bintan menerima beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP). Hal ini disebabkan masyarakat Suku Laut Kampung Panglong berasal dari keluarga miskin atau rentan miskin untuk membiayai pendidikan. Besaran beasiswa PIP untuk murid SD sebesar Rp450 ribu per tahun. Khusus untuk murid baru atau kelas akhir sebesar Rp225 ribu. Bentuk perhatian lain dari pihak madrasah kepada murid-murid Anak Suku Laut Kampung Panglong adalah dalam beberapa tahun terakhir sudah bus sekolah bantuan Pemerintah Kabupaten Bintan yang melayani anak-anak Desa Berakit, termasuk anak-anak Suku Laut dari Kampung Panglong. Pagi hari anak Suku Laut ke sekolah naik bus sekolah yang gratis. Sementara, pulang sekolah rata-rata anak Suku Laut jalan kaki sekitar 30-40 menit. Mereka tidak menunggu jadwal bus sekolah karena murid MIN 1 Bintan pukul 13.00 WIB sudah pulang sekolah. (dedi Arman).
[1] Wawancara Ketua Orang Laut Kampung Panglong, Fransiskus Xaverius Tintin, 23 Juli 2024 di Kampung Panglong.
[2] Syahrul Rahmat, dkk. (2021). Agama Masyarakat Suku Laut Kampung PanglongDesa Berakit, Kabupaten Bintan (1965-2011). Tsaqofah & Tarikh: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol. 6 No. 1
[3] Saniah, M. (2022). Pengaruh Kebijakan Pemerintah Terhadap Pendidikan Suku Laut Di Desa Berakit. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4(4), 618–624. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/jpdk.v4i4.5266.
[4] Wawancara Ketua Orang Laut Kampung Panglong, Fransiskus Xaverius Tintin, 23 Juli 2024
