Oleh : Dr Anastasia Wiwik Swastiwi MA ( Ketua MSI Cabang Kepri)
Ari Welianto dalam Kompas (2021) menyebutkan bahwa seni menyulam sudah dikenal sejak dulu. Di Indonesia, keterampilan ragam hias sulam diperkirakan sudah ada sejak abad ke- 18 M. Bahkan keterampilan tersebut mulai dikembangkan dalam bentuk tradisional pada abad ke-16 M. Saat itu, sulaman diperuntukan bagi simbol-simbol kerajaan dan untuk menghias busana kaum bangasawan. Dengan banyaknya budaya tradisional yang menggunakan kain sulam menjadi bukti bahwa seni hiasan tersebut memang telah ada sejak dahulu di Nusantara. Dahulu, sulam lebih banyak menggunakan bahan dasar benang katun. Saat ini sulam telah dikembangkan dengan pita dan benang nylon yang tebal dan kaku. Kain dan benang yang dipakai untuk sulaman berbeda-beda menurut tempat dan negara. Seni menyulam juga dikenal di kalangan perempuan Melayu.
Menurut Nooriah Mohamed (2015), dalam tradisi masyarakat Melayu, kelompok wanita lebih dikenal sebagai perempuan berdasarkan jantina, kedudukan dan peran yang dimainkan. Justru itu terdapat label seperti gadis sunti,gadis pingitan, anak dara tua, isteri, balu, janda dan nenek. Sejak dilahirkan sudah dikenal sebagai orang dapur sebagai cerminan bahwa perempuan tidak lepas dari tanggung jawab yang berperanan penting sebagai ibu dalam rumah tangga. Sejajar dengan ini, perempuan dalam konotasi Melayu lebih dikaitkan dengan ejaan perempuan dalam tulisan Jawi (Arab) yaitu pa, ra, mim, pa, wau dan nun. Semua aksara ini membawa makna yang signifikan tentang bagaimana seorang perempuan harus menampilkan diri sebagai perempuan Melayu muslim seperti yang terungkap dalam Syair Siti Sianah dan Syair Seligi Tajam Bertimbal. Beberapa contoh tokoh turut dipaparkan seperti tokoh Tun Fatimah (isteri Sultan Mahmud yang meninggal di Kampar setelah Melaka jatuh ke tangan Portugis) seperti yang terdapat dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah. Sifat negatif perempuan Melayu turut ditampilkan juga seperti yang terdapat dalam Hikayat Abdullah.
Lebih lanjut Nooriah Mohamed (2015) menyebutkan bahwa Kecantikan fisik perempuan Melayu amat sering dikaitkan dengan keadaan alam yang ada di sekitar kehidupan mereka yang selaras dengan tanggapan “Alam adalah guru” sebagai pembelajaran. Maka dari itu, di dalam teks-teks tradisional Melayu akan digambarkan kecantikan perempuan seperti berikut:
Badannya kecil molek Matanya bak bintang timur,
Keninganya bagai ditaji atau sehari bulan
Pipinya pauh dilayang Bibirnya bak delima merkah
Giginya bak mutiara tersusun
Dagunya bak lebah tergantung
Telinganya telipuk layu
Rambutnya ikal mayang
Leher jinjang, minum air berbayang
Dada bidang
Jari bak duri landak
Pinggang bak kerengga
Pinggul seperti cupak hanyut
Betis bunting padi
Dari keseluruhan teks-teks tradisional Melayu kurang menyebut ketrampilan perempuan dalam seni menyulam. Kurangnya sumber tertulis mengenai perempuan dan seni menyulam dalam naskah Melayu dapatlah dipahami mengingat aktivitas ini tidak dilakukan secara besar-besaran tetapi dilakukan secara tradisional. Namun demikian, Denys Lombard (2000) dalam kajiannya, menyebutkan bahwa mengenai sulaman dan kerajian jahit yang tinggi berasal dari Cina. Hampir semua wilayah di alam Melayu dijumpai seni meyulam ini yang terwujud dalam pakaian perempuan sebagai selendang maupun sebagai layah (penutup kepala), baju, dan tirai. Beberapa wilayah di alam Melayu yang masih meneruskan seni menyulam ini adalah bekas wilayahKerajaan Melayu Melaka (abad 14-16) termasuk Jambi, Siak dan Langkat. Selain itu, bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Melayu Johor-Riau pula (abad ke 17-19). Seni menyulam ini juga mengalir ke wilayah istana Melayu lainnya seperti di Kerajaan Melayu Brunei (termasuk Sabah-Sarawak), Selangor, Perak, Kedah, Kelantan, Trengganu, Kerajaan Melayu Sulu-Mendanau, Banjar-Kutai dan Sulawesi.
Ang John Kwang Ming juga menyebutkan bahwa pada abad ke-19 bangsawan Melayu sudah sangat populer menggunakan tudung bersulam kelingkan seperti yang terlihat dalam banyak foto-foto lama dan lukisan-lukisan berikut yang menggambarkan perempuan Melayu memakainya. Dari berbagai jenis seni menyulam ini dalam perkembangannya lebih banyak diproduksi untuk menyulam layah atau tudung. Penyebutannya pun kemudian berbeda-beda pada masing-masing daerah di alam Melayu. Menurut Suhana Sarkawi dan Norhayati Ab. Rahman dalam kajiannya Kelingkan Bordir Track-Mapping di Malaysia dan Indonesia, penyebutan tudung kelingkan di Alam Melayu berbeda-beda. Di Kelantan ini disebut tudung kelingkam atau kelubung kelenkang; di Terengganu, tudung kelingkan; di Selangor, tudung kelingkan dan terekat terkam; di Daik Lingga, tudung manto; di Kalimantan Barat, tudung kalengkang dan di Palembang, tudung kelingkan. Sedangkan di Serawak disebut dengan tudung keringkam. Dulu, perempuan Melayu Sarawak juga akan menyulam kelingkan yang disebutnya dengan keringkam sewaktu berada dalam kapal sebelum pergi haji atau sewaktu dalam perjalanan pergi haji. Tradisi memakai kelingkan atau keringkam setelah pulang ke tanah air dari Mekah juga merupakan tradisi universal Melayu Islam dari penduduk Melayu pesisir Capetown dan Sulawesi Selatan.
Selain berbeda dari penyebutan, juga terdapat perbedaan dalam motifnya. Namun demikian, motif bunga menjadi pilihan karena menerapkan unsur keislaman. Selain itu memang akan memperindah penampilan perempuan. Motif-motif sulaman yang dihasilkan ialah seperti bunga mawar, bunga cengkih, bunga bintang, susun pucuk rebung, jalur mata air, dan sisik kelah. Warna kain latar pun disesuaikan dengan kepingan logam emas dan perak ialah seperti warna hitam, hijau dan merah. Kadangkala warna putih juga turut digunakan mengikut cita rasa penyulam. Dapat dikatakan seni menyulam sudah bersebati dalam kehidupan masyarakat di alam Melayu sejak masa lampau, dengan keterlibatan perempuan sebagai pewaris budaya menyulam. **
