
Kamis (8/7) pagi menjadi hari yang berbahagia bagi Abdul Malik dan keluarga. Di ruangan auditorium Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) yang megah, putra Lubukpuding, Kabupaten Karimun kelahiran 9 April 1958 dikukuhkan sebagai guru besar tetap bidang ilmu bahasa dan sastra Indonesia di FKIP UMRAH. Orasi ilmiah yang disampaikannya berjudul: Raja Ali Haji: Dengan Kalam Menyatukan Bangsa. Orasinya amat memukau.
——————————–
Di dunia budaya dan kemelayuan di Provinsi Kepulauan Riau siapa yang tidak kenal nama Prof Dr Abdul Malik M.Pd. Ia masuk dalam segala lini tidak sekedar dosen bahasa dan sastra di UMRAH. Abdul Malik seorang tokoh yang aktif di Lembaga Adat Melayu (LAM), Perhimpunan Zuriat Kesultanan Riau Lingga, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kepri dan seabrek aktivitas lainnya. Pendek kata, berbicara tentang kebudayaan Melayu Kepulauan Riau, tidak lengkap kalau belum berbicara dengan Abdul Malik yang bergelar Datok Perdana, Anugerah Darjah Tinggi Riau Lingga.
Dalam pengukuhan guru besarnya, Abdul Malik diberikan kesempatan memberikan orasi ilmiah sekitar 25 menit. Namun, bukan Abdul Malik namanya kalau tampil tidak memukau. Ia mampu memberikan orasi yang menggugah para undangan yang hadir. Dalam waktu sekitar hampir satu jam, ia membentangkan berbagai sudut pandang tentang Raja Ali Haji (RAH). RAH, katanya tidak terbantahkan sebagai tokoh nasional yang banyak berjasa dalam perkembangan bahasa Indonesia sehingga negara memberikan anugerah pahlawan nasional. Banyak usaha yang dilakukan memelintir sejarah dalam mengurangi peran RAH dalam lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ia berada di barisan paling depan dalam menghadang siapapun yang mencoba membelokkan sejarah itu. “Siapapun yang belajar sejarah bahasa, pasti mengakui betapa besar peran Raja Ali Haji,”tegasnya.
Dalam usia yang tidak muda lagi, Abdul Malik mampu berorasi dengan amat meyakinkan. Ia kadang seperti bernyanyi, kadang seperti membawakan Gurindam 12. Kadang seperti deklamasi dalam menyampaikan orasi tentang Raja Ali Haji. Dalam karir akademiknya yang panjang sejak diangkat jadi dosen di Universitas Riau tahun 1985, Abdul Malik banyak membahas karya-karya Raja Ali Haji. Tidak heran banyak orang yang menjulukinya sebagai akademisi yang paling tunak tentang RAH.
Tak hanya berbicara tentang RAH, dalam orasinya Abdul Malik juga bercerita tentang kisah hidupnya. Anak nelayan dari sebuah kampung kecil bernama Lubukpuding di Kabupaten Karimun, akhirnya bisa jadi profesor. Ia juga mengungkap kisah pendirian Kampus UMRAH. Tokoh yang sangat berjasa dalam pendirian UMRAH adalah Ismeth Abdullah yang saat itu menjabat Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Kepri. Ismeth meminta Abdul Malik mudik pulang kampung dari tempatnya mengajar di UNRI. Ismeth mengangkatnya sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepri 2004-2005. Malik juga diangkat sebagai ketua konsorsium pendirian UMRAH 2004-2007.
“Kehadiran UMRAH tak terlepas dari jasa Pak Ismeth Abdullah. Kini UMRAH sudah eksis ke depannya harus lebih besar lagi. Levelnya tak hanya Kepulauan Riau, tapi terdepan di Indonesia,”kata Malik.
Banyak tokoh yang hadir dalam acara pengukuhan guru besar Abdul Malik ini. Tak hanya Ismeth Abdullah dan istrinya, Aida Ismeth yang hadir. Tapi hadir juga Anggota DPR RI Nyat Kadir, Ketua LAM Kepri, Abdul Razak, Tengku Hendra Syafri Riayat Syah, Zuriat Sultan Mahmud Riayat Syah dan para undangan dari Malaysia. Abdul Malik mengundang mantan dosen-dosennya di UNRI dan juga dari tempatnya mengambil strata 3 di Universiri Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia.
Dalam buku pengukuhan guru besar Prof Dr Abdul Malik M.Pd yang diterbitkan UMRAH Press, berisi banyak data tentang sosok mantan Dekan FKIP UMRAH ini. Ia mahasiswa berprestasi dan lulusan terbaik saat tamat di FKIP UNRI (1985) dan saat S2 di IKIP Malang (1988), ia juga lulusan terbaik.Begitu juga saat mengambil S3 di UPSI Malaysia (2015), ia meraih Anugerah Graduate on Time.
Soal penghargaan jangan ditanya. Suami dosen UMRAH, Hj Isnaini Leo Shanty ini memperoleh 15 penghargaan. Mulai level dosen teladan hingga meraih Anugerah Jembia Emas, Anugerah Buku Negara, Anugerah Sagang kategori budayawan serantau dan penghargaan lainnya. Ia juga aktif menulis buku, pemakalah yang handal dan kolumnis di media massa.
“Datok Rida K Liamsi yang memberikan saya kesempatan. Saat di Pekanbaru, saya sekali seminggu mengisi kolom di Harian Riau Pos. Saat pindah ke Kepri, saya mengisi kolom di Batampos. Terakhir saya kolumnis di Tanjungpinangpos,”ujarrnya.
Dalam usia 65 tahun, Abdul Malik masih nampak bugar. Ia selalu semangat berbicara tentang budaya dan kesejarahan. Pengukuhan guru besar Abdul Malik ini menjadi pencapaian luar biasa bagi UMRAH. Ia menjadi guru besar pertama di FKIP UMRAH dan guru besar pertama tentang bahasa dan sastra Indonesia di Kepulauan Riau. Abdul Malik dalam orasinya juga menyampaikan harapan agar ke depannya banyak lahir profesor-profesor baru dari UMRAH. “Rektor kita Prof Dr Agung Dhamar Syakti DEA meski berusia muda tapi sangat visioner. UMRAH bisa mengikuti jejak beliau dan jejak kami,” kata ayah tiga anak ini. ** (dedi arman).
