Oleh :  Sri Rahma Dewi    (Prodi Ilmu Hubungan Internasional, FISIP UMRAH)   

Pendahuluan

Berbicara tentang milenial tanpa kita sadari perkembangan kehidupan terjadi begitu cepat, Mulai dari proses penggalian informasi, penyebaran berita, tren, teknologi hingga berbagai produk mutakhir terjadi sangat cepat. Seakan mereka yang bergerak lamban akan tergilas dan tertinggal jauh di belakang. Sebagai bangsa yang besar dan semakin diperhitungkan di kancah internasional, Indonesia memiliki banyak tantangan yang harus diselesaikan. Membangun Indonesia berarti membangun mental rakyatnya sehingga gagasan revolusi mental pun lahir dan dicetuskan pemerintah sebagai gerakan yang masif. Untuk proses perubahan besar itu, kepemimpinan model lama pun tidak akan cocok lagi dan oleh karena itu harus dikoreksi atau dikembangkan. Dengan generasi muda di Indonesia yang tumbuh begitu pesat, maka gaya kepemimpinan yang muncul pun harus menyesuaikan ritme dan polanya. Generasi milenial yang saat ini memengaruhi banyak hal juga harus dipimpin dengan gaya kepemimpinan milenial.

Menjadi seorang pemimpin yang baik pada generasi masyarakat milenial saat ini dan kedepan menjadi satu tantangan yang kritis. Pemimpin harus mampu memahami perubahan dan perkembangan setiap jaman, sehingga apa yang dilakukan mampu menjawab setiap tantangan jaman tersebut. Banyak cara untuk menjadi pemimpin yang ideal bagi generasi milenial tetapi hal yang menonjol atau terkuat dalam sebuah kepemimpinan yang ideal bagi generasi melenial adalah kepemimpinan pelayan. Kepemimpinan yang ideal pada generasi melenial harus dapat menyesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Terlebih lagi pada era milenial saat ini, dibutuhkan seorang pemimpin yang memiliki jiwa dan pemikiran yang visioner. Seorang pemimpin yang siap dan mau berubah sesuai dengan jaman dimana Tuhan percayakan memimpin. Tanpa perubahan yang dilakukan maka kepemimpinannya tidak mungkin bisa menjadi ideal seperti yang diharapkan pada generasinya. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan karakter sejak lahir. Pada zaman ketika pemimpin dilahirkan dari para raja-raja bisa dikatakan demikian karena yang mendapatkan ilmu-ilmu dan pengalaman kepemimpinan hanya ada di lingkungan kerajaan. Namun seiring perkembangan zaman, banyak pemimpin muncul akibat tuntutan dan kondisi lingkungan pada saat itu.

Pada zaman penjajahan, karakter para pemimpin terbentuk dalam perjuangan melawan penjajah. Mereka pejuang yang terbentuk oleh intelektual dan memiliki idealisme yang bisa menghasilkan rumusan ideologi bangsa yang menjadi dasardasar dan pedoman perjalanan dan kehidupan bangsa kita. Namun mencari pemimpin yang tepat untuk masa sekarang dan akan datang menjadi tantangan yang harus dipenuhi untuk bangsa ini. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Negara-negara maju memiliki pemimpin yang berhasil memanfaatkan perkembangan teknologi yang mengubah pola kehidupan manusia. Selain itu pemimpin juga harus memiliki empati yang tinggi dan komitmen menolong sesama tanpa membedakan suku, agama maupun ras. Di tengah-tengah gejolak keresahan masyarakat akan semakin buruknya pelayanan yang diterima dari oknum pemerintahan, beberapa nama Kepala Daerah yang berhasil mewujudkan daerah yang dipimpinnya denganberbagai kemajuan dan inovasi mulai mencuat ke permukaan. Hal ini memunculkan sebuah harapan baru dari masyarakat Indonesia dalam wacana keberhasilan reformasi birokrasi. Berbagai berita mengenai kemajuan daerah yang mereka pimpin semakin sering diekspose di berbagai media massa. Sebut saja seperti Ridwan Kamil (Walikota Bandung) dan Tri Rismaharini (Walikota Surabaya) yang sering disebut-sebut namanya menjadi tokoh di balik keberhasilan daerah yang dipimpinnya. Hal ini tentunya akan sangat berdampak pada perkembangan pola pikir, dankepemimpinan seseorang. Oleh karena itu, seorang pemimpin juga harus bisa beradaptasi dengan kecepatan yang sedang berlangsung saat ini. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang pesat, memiliki peranan penting dalam mewarnai bahkan mengubah sudut pandang sebuah generasi. Perubahan tersebut adalah keniscayaan yang tak terhindarkan. Menjamurnya berbagai bisnis online seperti jual beli online atau ojek online serta penggunaan handphone merupakan contoh kecil bagaimana teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi milenial (Mustomi & Reptiningsih, 2020).

Fenomena pop culture serta maraknya budaya global mempengaruhi perubahan gaya hidup dan pola pikir generasi milenial, di mana teknologi menjadi penyumbang utama bagi percepatan perubahan tersebut. Kemajuan pola pikir ditunjang oleh media sosial berpengaruh pula pada generasi milenial dalam menentukan sosok pimpinannya (Wahana, 2015). Sebuah kebutuhan bangsa dan organisasi apapun adalah bagaimana mencari pemimpin yang tepat untuk masa sekarang dan akan datang, dan hal ini akan menjadi tantangan yang harus dipenuhi oleh bangsa kita Indonesia. Pemimpin harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Negaranegara maju memiliki pemimpin yang berhasil memanfaatkan perkembangan teknologi yang mengubah pola kehidupan manusia. Selain itu pemimpin juga harus memiliki empati yang tinggi dan komitmen menolong sesama tanpa membedakan suku, agama maupun ras. Oleh karena itu, untuk Menjadi seorang pemimpin yang baik pada generasi milenial saat inidan kedepan menjadi satu tantangan yang kritis. Tidak saja karena mereka dipandang sebagai generasi yang penuh dengan kemajuan khususnya di bidang teknologi, namun mereka juga sering digambarkan dengan stigma negatif, seperti “kaum milenial adalah orang yang egois”, “generasi milenial adalah anak-anak yang tidak mau bersusah payah”, ada juga yang bilang bahwa “anak milenial tidak bisa hidup dalam tekanan”, dan beberapa stigma negatif selainnya (Studilmu, 2022). Stigmastigma negatif tersebut tidak jarang membuat para pemimpin menjadi takut jika harus memimpin generasi milenial.

Karakter kepemimpinan milenial tidak sama dengan karakter kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Dengan berdasar pada generasi milenial seperti digambarkan di atas, maka gaya kepemimpinan yang dibangun pun perlu beradaptasi dengan pola pikir dan gaya hidup milenial. Karakteristik dari generasi milenial yaitu: 1) milenial lebih percaya user generated content (UGC) daripada informasi searah, 2) milenial lebih memilih ponsel dibanding TV, 3) miilenial wajib punya media sosial, 4) milenial kurang suka membaca secara konvensional, 5) milenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif, 6) milenial cenderung melakukan transaksi secara cashless, 7) milenial lebih tahu teknologi dibanding orang tua mereka, 8) milenial memanfaatkan teknologi dan informasi, 9) milenial cenderung lebih malas dan konsumtif, dan lain-lain (Hidayatullah, 2018). Berdasarkan karakteristik generasi milenial diatas, dapat dikatakan bahwa seorang pemimpin harus memiliki  karakter yang mampu menghadapi kenyataan bahwa generasi milenial sudah mulai memasuki dunia kerja dan populasinya semakin bertambah banyak. Oleh karena itu, kajian ini berusahamenjelaskan karakter kepemimpinan, siapa generasi milenial, serta pemimpin idel pada era generasi milenial.

Pembahasan

Menurut (Mulyasa, 2004), kepemimpinan diartikan sebagai kegiatan untuk memengaruhi orang-orang terhadap tercapainya tujuan organisasi. Sedangkan kepemimpinan menurut (Hasibuan, 2010) adalah cara seorang pemimpin memengaruhi perilaku bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi. Pengertian lain menurut Yulk (1997:7) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses menghargai orang lain untuk memahami dan menyepakati tentang apa yang perlu untuk dilakukan dan bagaimana hal tersebut dapat dilaksanakan secara efektif, dan proses memfasilitasi usaha individu atau kelompok (kolektif) untuk memenuhi tujuan- tujuan utama.

Kepemimpinan milenial diterjemahkan sebagai kepemimpinan masa kini yang menyesuaikan dengan gaya generasi baru yang lahir pada era 1980-an. Pola kepemimpinan milenial tidak sama dengan pola kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Tahun kelahiran 1980-an memegang peran penting karena generasi tersebut saat ini memasuki masa paling produktif. Di usia 30- an tahun, generasi inilah yang menggerakkan dunia kerja, dunia kreativitas, dunia inovasi, dan memengaruhi pasar dan industri global yang ada sekarang dan sedang menggelinding di lapangan kompetisi dunia kerja, dunia kreativitas, dan dunia inovasi. Karena itu pula, generasi yang lahir pada era 1980-an ke atas biasa disebut generasi milenial. Dengan merujuk pada generasi itu, gaya kepemimpinan yang dibangun pun perlu beradaptasi dengan pola pikir dan gaya hidup mereka. Dan ketika kepemimpinan yang ada hendak melakukan revolusi mental pada bangsa, generasi inilah yang menjadi target penting untuk disasar. Beberapa karakter generasi milenial ini adalah,

Pertama, kemampuan mereka mengakses teknologi informasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Media sosial menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Internet pun menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi mereka. Apa pun kebutuhan informasi yang mereka perlukan, sebagian besar mereka peroleh dari internet dan media sosial. Kedua, generasi milenial lebih memiliki keberanian dalam berinovasi. Mereka lebih termotivasi menciptakan startup atau merintis usaha dan bisnis baru. Karena itu merupakan bagian dari tantangan yang membuat adrenalin mereka mengalir. Ketiga, generasi milenial lebih menyukai independensi dan kemandirian. Independensi ini merupakan kebutuhan yang lahir dari gayaKeempat, generasi milenial lebih menyukai sesuatu yang instan. Mungkin ciri ini bisa dipersepsikan secara positif atau negatif. Positifnya, generasi ini menyukai sesuatu yang praktis dan simpel. Negatifnya, generasi ini mungkin memiliki daya tahan yang lebih rendah terhadap tekanan dan stres karena terbiasa melakukan sesuatu dengan cepat dan instan sehingga kurang sabar jika hasil yang diperoleh tidak muncul seketika. Dengan memahami karakter generasi milenial ini, kepemimpinan yang muncul pun perlu menjadi bagian dari figur yang cocok dengan mereka. Penerjemahan tentang kepemimpinan milenial ini pun fleksibel dan belum ada definisi mutlak dari para pakar kepemimpinan.

Meski demikian, beberapa yang dapat ditekankan dalam pola kepemimpinan ini antara lain, pertama, kepemimpinan milenial perlu memahami dan memakai pola komunikasi generasi milenial yang dipimpinnya. Misalnya pemimpin milenial tidak segan menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, YouTube, MeTube, dan saluran komunikasi terbaru yang memang menjadi arus utama dalam kehidupan generasi baru itu. Kedua, kepemimpinan milenial perlu mendorong inovasi, kreativitas, dan jiwa entrepreneurship generasi baru itu. Semua saluran inovasi, kreativitas dan entrepreneurship harus dirancang dengan baik dan kongkrit. Tidak hanya berisi wacana saja, tetapi juga terdapat proses yang benarbenar dapat dinikmati oleh generasi milenial untuk mengembangkan dirinya. Misalnya pemimpin milenial perlu membangun pusatpusat kreativitas di setiap kota, membangun sebanyak mungkin workshop dengan peralatan dan teknologi terbaru dengan maksud agar gagasan dan ide generasi milenial itu tersalurkan. Ketiga, kepemimpinan milenial perlu mendukung kemandirian dan jiwa entrepreneurship generasi milenial. Generasi milenial memiliki kemampuan mengakses teknologi informasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Merekalah yang mengajari orang tuanya untuk menggunakan teknologi teranyar. Media sosial menjadi bagian kehidupan mereka sehari-hari. Internet pun menjadi sumber informasi dan pengetahuan bagi mereka. Apa pun kebutuhan informasi yang mereka perlukan, sebagian besar mereka peroleh dari internet dan media sosial. Tidak heran jika Wijayanti (2021) mengidentifikasi kehidupan Generasi Milenial dengan ‘No Gadget No Life’ yang menggambarkan bahwa teknologi dan internetsudah melekat erat pada kehidupan mereka. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan, ditambah dengan akses internet tak terbatas membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya.

Penutup

Laju perkembangan zaman saat ini telah memengaruhi segala aspek, tidak terkecuali aspek kepemimpinan. Pada era generasi milenial saat ini pergolakan dan tantangan untuk memiliki pemimpin yang sesuai dengan era saat ini sangatlah besar. Sebab, pola kepemimpinan milenial tidak sama dengan pola kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya. Gaya kepemimpinan yang dibangun pun perlu beradaptasi dengan pola pikir dan gaya hidup dari generasi milenial yang ada karena generasi inilah yang menggerakkan dunia kerja, dunia kreativitas, dunia inovasi, dan memengaruhi pasar dan industri global yang ada sekarang dan sedang menggelinding di lapangan kompetisi dunia kerja, dunia kreativitas, dan dunia inovasi. Kepemimpinan pada era milenial memiliki pendekatan yang khas karena digitalisasi yang merambah dunia kerja tidak lagi memungkinkan pemimpin untuk bertindak secara konvensional.

Adapun dalam hal pola kepemimpinan, kepemimpinan milenial perlu memahami dan memakai pola komunikasi generasi milenial yang dipimpinnya. Di samping itu, kepemimpinan milenial perlu mendorong inovasi, kreativitas, dan jiwa entrepreneurship generasi baru itu. Semua saluran inovasi,kreativitas dan entrepreneurship harus dirancang dengan baik dan kongkrit. Tidak hanya berisi wacana saja, tetapi juga terdapat proses yang benar-benar dapat dinikmati oleh generasi milenial untuk mengembangkan dirinya. Dalam hal ini, baik Ridwan Kamil maupun Tri Rismaharini tergolong pemimpin dengan gaya/model kepemimpinan transformasional (transformational leadership) yang berkaitan erat dengan kepemimpinan milenial dengan masing-masing perilaku yang dihadirkan Sebuah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga membawa sebuah perubahan yang cepat di semua lini kehidupan, tidak terkecuali aspek kepemimpinan. Pada era generasi milenial saat ini pergolakan dan tantangan untuk memiliki pemimpinyang sesuai dengan era saat ini tidak kecil. Sebab, pola kepemimpinan milenial tidak sama dengan kepemimpinan lama dari generasi sebelumnya.

Oleh karena itu, tipe kepemimpinan yang dibangun perlu beradaptasi dengan ritme, pola pikir dan gaya hidupgenerasi milenial, karena generasi inilah yang menggerakkan dunia kerja, dunia kreativitas, dunia inovasi, serta memengaruhi pasar dan industri global. Karakter kepemimpinan pada era milenial memiliki pendekatan yang khas karena digitalisasi yang merambah dunia kerja tidak memungkinkan lagi bagi pemimpin untuk bertindak secara konvensional. Oleh karena pemimpin di era melenial perlu mengaplikasikan karakter kepemimpinan yang ideal pada era generasi milenial, yaitu pemimpin berkemampuan digital yang handal, pembangun hubungan harmoni dan ideal, demikian juga sebagai pemimpin yang selalu memberi tantangan, serta pendorong kolaborasi untuk meningkatkan motivasidan kepuasan. Menyesuaikan dengan pola dan gaya hidup generasi milenial yang suka serba cepat dan instan serta cepat mengadaptasikan diri, maka seorang pemimpin ideal pada era milenial adalah pemimpin yang lincah dan cepat beradaptasi.

Daftar pustaka 

Hasibuan, N. (2010). Kepemimpinan Dalam Organisasi, 75.

Hidayatullah, S. W. (2018). Perilaku Generasi Milenial dalam Menggunakan Aplikasi Go Food. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, 240.

Mulyasa, E. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah : Konsep, Strategi dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

                                                                                                 

Tinggalkan Balasan