Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, M.A

Pengantar

Muntok adalah sebuah wilayah berada di muara sungai yang berhulu di Gunung Menumbing. Gunung Menumbing merupakan patokan para pelaut untuk memasuki Palembang atau selat Bangka. Patih Gajahmada pernah menaiki Gunung Menumbing saat ekspedisi Pamalayu. Di Muntok juga terdapat kompleks makam Kota Seribu dengan ratusan keluarga penguasa Muntok Bangka yang berasal dari Siantan dan Johor. Kota Muntok itu sendiri dibangun pada masa pemerintahan Ratu Mahmud Badarudin I. Beliau menunjuk Wan Akub untuk membangun Muntok. Wan Mentok kemudian berdiam disana sebagai pemegang kekuasaan mewakili sultan.

Dalam perkembangannya, karena usaha penambangan timah sangat berkembang dan letaknya strategis sebagai sebuah pelabuhan. Maka, Muntok semakin diramaikan pendatang. Muntok tumbuh menjadi bandar yang besar dan banyak pendatang dari berbagai suku bangsa.

Pada masa peralihan kekuasaan Inggris kepada Belanda, Belanda mengambil alih kekuasaan Inggris, pelaksanaan timbang terima atas Pulau Bangka berlangsung di Mentok pada tanggal 10 Desember 1816 dari Residen Court (Inggris) dan Klass Heynis (Belanda) yang menjadi residen pertama dan berkedudukan di Muntok.

Selanjutnya, penambangan timah di Bangka diambil alih Belanda dan mendirikan sebuah perusahaan untuk mengelolanya. Perusahaan itu diberi nama Bangka Tinwinning Bedrijf (BTW) dan berkedudukan di Muntok. Kantor residen Bangka yang semula berada di Muntok, pada tahun 1913 dipindahkan ke Pangkalpinang bersamaan dengan mulai dipisahkannya pengelolaan timah dengan urusan administrasi pemerintahan. Di Pangkalpinang, sekitar Pangkalbalam, pada Juni 1923 dibangun peleburan timah yang lebih besar.

Sementara itu pada masa pendudukan Jepang kehidupan sosial ekonomi Bangka Belitung sangat buruk. Kebutuhan beras yang selalu didatangkan dari luar Bangka Belitung semakin sukar dan langka. Jepang hanya memerintahkan agar penduduk bertanam ubi kayu sebagai pengganti beras. Sedangkan nelayan dilarang berlayar menangkap ikan terlalu jauh dari pantai agar mereka tidak menyelundupkan bahan makanan. Pada masa pendudukan Jepang itu pula, Jepang memperbaiki sebuah lapangan terbang di Muntok yang pernah dibangun Belanda pada tahun 1921. Selanjutnya, Pada masa revolusi fisik, kota Muntok menjadi tempat  pengasingan para pendiri dan proklamator Indonesia (Soekarno dan Hatta).

Sejarah kota Muntok ibukota kabupaten Bangka Barat ini  punya keterkaitan erat dengan Pulau Siantan. Ditemukannya timah di Muntok oleh orang – orang Siantan yang kemudian mengundang banyak pendatang untuk mencari timah.

Hubungan Muntok – Siantan

Dua orang pangeran bersaudara dari Palembang, Pangeran Anom dan Pangeran Krama Jaya menetap di Siantan. Kepergian mereka dari Palembang karena tidak suka dan menolak penobatan pamannya Sri Teruno menjadi Sultan Palembang. Menurut sejarah kedua pangeran ini pernah hendak menetap di Johor sebelum pergi ke Pulau Siantan. Namun mereka merasa tidak nyaman dan terlibat persengketaan dengan penguasa Johor sehingga mereka pergi meninggalkan Johor.

Dua bersaudara pangeran dari Palembang ini kemudian menikah dengan gadis – gadis di Pulau Siantan. Pangeran Krama Jaya menikah dengan seorang gadis Cina muslim yang bernama Zamnah atau Yang Mariam putri dari Wan Abdul Jabar bin Abdul Hayat. Setelah berhasil menghimpun kekuatan dan mempunyai pengaruh luas di Siantan, maka kedua pangeran ini membawa pasukan ke Palembang dengan maksud ingin merebut kembali tahta yang diduduki paman mereka yang memang sejak semula mereka tentang. Dan sudah pasti pamannya tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.

Pangeran Anom yang mendapat dukungan dari rakyat semakin berambisi untuk merebut tahta dan duduk di singgasana Kerajaan Palembang. Namun api konflik kian melebar. Pernikahan Pangeran Krama Jaya dengan sepupunya putri dari Sultan Agung Sri Teruno membuat Pangeran Anom juga harus berhadapan dengan teman sepelariannya ke Pulau Siantan tersebut. Dalam hal ini Belanda pun ikut campur tangan memperkeruh suasana konflik menjadi semakin tajam. Merasa tersudut akhirnya Pangeran Anom memilih mundur dan lari ke Jambi.

Pangeran Krama Jaya mewarisi tahta Kerajaan Palembang setelah sang mertua Sultan Agung Komarudin Sri Teruno wafat.  Dengan gelar Sultan Mahmud Badarudin I, Palembang di bawah kepemimpinannya giat melakukan pembangunan, dari mulai tempat ibadah (masjid), kanal dan sebagainya. Dari sinilah awal sejarah kota Muntok bermula. Sang Sultan pun membangun kota baru di Pulau Bangka yang disebut Mentok atau kota Muntok.

Mentok dibangun sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan penghormatan terhadap istrinya yaitu Putri Zamnah dari Siantan yang bergelar Mas Ayu Ratu. Kehadiran Mas Ayu Ratu tidak disenangi di lingkungan keraton. Atas dasar itulah Putri Zamnah atau Mas Ayu Ratu dijauhkan dari lingkungan kerajaan. Pulau Bangka dipilih untuk tempat tinggal Sang Putri karena dekat dan mudah dicapai dari Palembang. Bahkan Sang Putri pula yang menetapkan letak untuk kota baru tersebut yang juga dekat dengan Bukit Menumbing yang pertama kali terlihat saat mereka sedang berlayar ke Bangka.

Menurut  Djohan Hanafiah dalam seminar sehari tentang Hari Jadi Kota Mentok tahun 2009 silam sebagaimana ditulis oleh Sumardoni 14 Agustus 2009 dalam media Berita Musi, kata Mentok sendiri berasal dari kata “Entok” dari bahasa asli Siantan yang berarti “itu” yang diucapkan Mas Ayu Ratu saat menentukan kota yang akan dibangun Kesultanan Palembang itu. Menurut kisah lain yang tidak jauh berbeda dengan Djohan Hanafiah, Sang Putri sedang dalam perjalanan ke Pulau Bangka yang saat itu baru sampai di Tanjung Sungsang, dataran muara Sungai Musi sempat berujar:

“ men entok ( kalau itu ), tempatnya sesuailah”.

            Awal sejarah berdirinya Mentok dimulai pada tahun 1734 yang berkembang dengan pesat setelah ditemukannya biji timah. Wan Abdul Jabar (mertua Sultan Mahmud Badarudin ) dan Cek Wan Akub yang mengelola tambang timah di Mentok. Kampung Jiran Siantan, Kampung Pekauman Dalam dan Kampung Petenun yang dibangun orang – orang Siantan pengikut Putri Zamnah semakin hari semakin ramai didatangi orang – orang yang ingin bekerja sebagai penambang  timah. Perdangangan pun semakin ramai sehingga membuat Mentok menjadi Pusat pemerintahan di Pulau Bangka. Keturunan Mas Ayu Ratu atau Putri Zamnah sampai saat ini masih bertahan di kota Mentok. Para lelaki bergelar Abang dan para wanitanya bergelar Yang.

Ada satu pertanyaan yang menggelitik, dimanakah Pulau Siantan? Dalam setiap ulang tahun kota Mentok masyarakat Bangka Barat tidak pernah membahas atau perduli dengan keberadaan Pulau Siantan. Pulau Siantan  tersebut terletak di gugusan Pulau Anambas Provinsi Kepulauan Riau. Banyak yang mengira bahwa Siantan yang dimaksud berada dalam wilayah Kesultanan Johor-Malaysia. Hal ini dapat dimaklumi, karena memang pulau Siantan dulunya berada dibawah kekuasaan Johor dan secara geografis letaknya lebih dekat ke Johor. sampai kelak Traktat London memisahkannya. Bahkan Wan Abdul Hayat yang bernama asli Lim Tau Kian yang semula adalah seorang bangsawan dari Cina, juga adalah orang kepercayaan Sultan Johor yang dipercayakan untuk memerintah di negeri Siantan.

Disamping itu perkembangan Siantan yang dulu kerap menjadi tempat pelarian politik bangsawan Bugis, Cina, dan Johor sendiri seperti tenggelam oleh zaman terutama ketika wilayah ini dihilangkan statusnya sebagai pusat kewedanaan Pulau Tujuh dan hanya menjadi sebuah kecamatan dibawah rezim Orde Baru.

Penutup

Kini Pulau Siantan sejak pertengahan 2008 telah ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas, dan semoga perkembangannya sejalan dengan nama mashurnya yang sempat tercatat dalam beberapa literatur sejarah Melayu.

Tinggalkan Balasan