Pendahuluan

Salah satu karakteristik Covid-19 adalah penyakit ini bisa menginfeksi siapa saja, tanpa ada perbedaan etnis atau suku bangsa. Sekalipun demikian, dampak keparahan dan kematian bisa berbeda di tiap negara atau bahkan populasi etnis di dalam satu negara. Di Indonesia, dampak kesehatan dari Covid-19 terhadap masyarakat adat juga beragam dan bahkan belum banyak yang diketahui atau didokumentasikan. Pemerintah belum melakukan pemilahan data dampak Covid-19 terhadap berbagai kelompok etnis, namun lebih pada sebaran wilayah administratif. [1]

Ada kesan masyarakat adat enggan untuk melaporkan diri apabila mengalami gejala-gejala yang mirip seperti Covid-19. Laporan mengenai kasus dan kematian Covid-19 di masyarakat adat di Indonesia hanya ada di media massa secara sporadis. Sulitnya mengetahui dampak pandemi Covid-19 pada masyarakat adat disebabkan  tidak adanya pendataan yang spesifik terkait dampak pandemi di masyarakat adat di Indonesia. Selain itu tes dan tracing Covid-19 rata-rata tidak berjalan baik di wilayah terpencil.

Orang Laut di Kabupaten Lingga merupakan salahsatu masyarakat adat yang ada di Kepulauan Riau yang memiliki cara tersendiri dalam adaptasi pada masa pandemi Covid-19. Mereka melaksanakan pembatasan sosial tersendiri dan mampu bertahan dalam menghadapi masa pandemi dengan kearifan lokal yang mereka miliki.

Pembatasan Sosial

            Pada masa pandemi Covid-19 pembatasan sosial Orang Laut di Kabupaten Lingga berjalan dengan baik. Orang Laut lebih mudah menerapkan pembatasan sosial karena hidupnya terpisah dari kelompok lain.  Informasi dari Yayasan Kajang yang aktif dalam pendampingan Orang Laut di Lingga,  tidak ada Orang Laut yang positif COVID-19. Mayoritas Orang Laut sebenarnya tidak begitu paham tentang bahaya dan cara penyebaran Covid-19.  Meskipun warga tidak paham, mereka tidak keberatan menaati imbauan pemerintah setempat untuk membatasi mobilitas orang.  Mereka hanya tahu untuk sementara tidak boleh menjual ikan ke kota karena sedang ada wabah yang berbahaya.  [2].

Orang Laut yang bermukim terpisah dari warga Melayu sebenarnya justru memiliki keuntungan dalam penanganan Covid-19. Jumlah warganya sedikit dan ikatan kekeluargaannya erat, tokoh adat bisa lebih mudah memantau kedatangan orang asing di kampungnya. Hubungan sosial masyarakat Orang Laut di Lingga dengan masyarakat lokal tidak begitu intens  disebabkan karena; pertama, lokasi tempat tinggal mereka yang cukup jauh dari  masyarakat sekitar. Kedua, karena memang ada keenggan bagi masyarakat Orang Laut  untuk berinteraksi masyarakat lokal yang disebabkan oleh rasa takut, malu, minder  sehingga harus difasilitasi oleh kepala sukunya jika mau berurusan dengan masyarakat lokal dan pemerintah. Ketiga, stereotype yang menempel pada masyarakat Orang Laut  yang jorok, kumuh, kotor, jarang mandi, memelihara binatang haram sehingga masyarakat lokal membatasi intensitas berkomunikasi dengan mereka.

            Orang Laut bisa bertahan di masa pandemi karena kehidupan mereka yang masih relatif sederhana dan ketergantungan pangan yang tidak tinggi pada produk orang lain. Hasil tangkapan dari laut berupa ikan, cumi, kerang, dan udang sebagian besar dikonsumsi sendiri bersama gubal, yaitu parutan sagu basah yang dicampur dengan kelapa parut kemudian digoreng tanpa minyak. Sampai sekarang, sagu masih menjadi makanan pokok mayoritas orang laut. Alam yang masih terjaga dan keragaman pangan membuat suku laut lebih siap menghadapi pandemi dalam waktu panjang. Selama masih ada sagu dan ikan, orang laut tidak perlu bergantung kepada daerah lain untuk mendapat pasokan bahan pangan. [3]

            Kemampuan adaptasi Orang Laut tidak hanya menghadapi masa Pandemi COVID-19. Namun, mereka juga mampu beradaptasi dengan pengaruh cuaca dan kondisi alam yang lain. Contoh nyata mereka adalah tempat mereka bermukim, yakni rumah panggung (saphaw) maupun sampang kajang.  Bangunan rumah mereka memiliki gaya arsitektur vernakular, yaitu arsitektur yang menggunakan bahan-bahan lokal dan pengetahuan lokal yang terbentuk karena proses budaya dan adat yang lama. Rumah panggung tancap (Saphaw) dan sampan kajang terbuat dari kayu mentango atau bintangur.  Sedangkan, atap dan dinding rumah terbuat dari daun Mengkuang, sejenis pandan berduri yang dapat tumbuh di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil daerah tropis. Kayu dan tumbuhan jenis ini khas Kepulauan Riau dan mudah dijumpai di banyak tempat. [4]

Rumah Saphaw yang terbuat dari daun Mengkuang yang banyak tumbuh di pesisir pantai dan pulau-pulau kecil mampu mengurangi dampak krisis iklim. Kemampuan adaptasi, seperti dalam menentukan bentuk arsitektural bangunan berbasis pengetahuan adat ini, telah teruji dapat mengurangi risiko keterpaparan Orang Laut terhadap badai laut, kenaikan suhu udara, dan kondisi cuaca ekstrem karena mengadopsi prinsip ekologi dan berkelanjutan. Selain itu, migrasi lokal dari satu pulau ke pulau lain ketika musim utara datang seperti terjadinya badai laut, juga menjadi kemampuan adaptasi dari Orang Suku Laut. Pola migrasi musiman ini dapat ditemukan sebagai strategi adaptasi untuk iklim musim yang berbeda. Migrasi ini dilakukan Orang Suku Laut untuk melindungi diri dari ancaman kekeringan, pasang naik, kejadian iklim ekstrem serta wabah penyakit dan konflik kelompok. (Ariando, 2020).

Pengobatan Tradisional dan Mantra (Serapah)

            Dalam teori kearifan ekologi lokal, para ilmuwan memandang kepercayaan adat, yang menganut konsep tabu dan sistem ketuhanan seperti konsep agama lainnya, sebagai bagian dari praktik holistik masyarakat adat dalam manajemen lingkungan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.  Meski tergores perkembangan zaman, namun pengetahuan ekologi tradisional yang dimiliki Orang Laut di sejumlah tempat masih ada tetap eksis. Yakni, peramalan cuaca, metode penangkapan ikan tradisional, pengobatan tradisional, siaga bencana, konservasi bakau dan terumbu karang. Sedangkan tradisi yang berkaitan dengan kepercayaan yang masih ada, diantaranya pantang larang, mantra yang isinya pengobatan dan ilmu pengasih.  Ada juga upacara semah kampung dan cuci belanga. [5]

Salah satu kepercayaan adat yang masih digunakan Orang Laut di Kabupaten Lingga adalah pantang larang, sebuah tata aturan turun temurun yang digunakan untuk menumbuhkan kesadaran hukum adat dari Orang Suku Laut yang dikaitkan dengan sisi spiritual, misalnya pantang larang melaut, menebang pohon, menangkap jenis spesies tertentu. Bagi nenek moyang Orang Suku Laut, pantang larang ini berkaitan dengan penggunaan ilmu dan pengasih yaitu berupa kemampuan magis seperti ilmu mengurangi intensitas hujan dan menghindari badai ketika di tengah laut. Penerapan kepercayaan adat ini merupakan bentuk kearifan ekologi lokal yang dinamis dan reflektif. Kepercayaan ini juga mudah dihubungkan dengan spiritualitas dan tabu yang bertujuan untuk melindungi alam.

Masyarakat Suku Laut di Lingga mayoritas belum memanfaatkan sarana kesehatan. Adapun alasannya;  pertama karena jarak yang cukup jauh dari pusat kesehatan seperti rumah sakit,  puskesmas dan puskesmas pembantu. Kedua, karena sebagian besar  masyarakat Suku Laut masih percaya pada dukun dan bidan kampong dalam  mengobati penyakitnya. Mereka percaya bahwa sakit yang mereka rasakan bisa diobati oleh dukun kampong, jika sudah disarankan dukun untuk berobat ke dokter (biasanya jika sudah sakit parah), maka barulah masyarakat Suku Laut berobat ke rumah sakit, puskesmas dan pustu. Ketiga, karena petugas kesehatan tidak selalu berada di pustu sehingga masyarakat Suku Laut yang ingin berobat jadi terkendala. Apalagi, perawat/bidan/dokter tidak mau datang ke rumah mereka jika dipanggil untuk alasan sakit darurat. [6]

Orang Laut di Kabupaten Lingga memiliki kearifan lokal, yaitu pengobatan tradisional. Obat-obatan yang digunakan berasal dari hasil alam, berupa tumbuhan dan hewan. Salahsatu tumbuhan yang banyak digunakan Orang Laut dalam beragam pengobatan adalah beragam jenis bakau (mangrove). Jenis bakau itu antara lain bakau sesap, bakau tumuh,bakau repat, bakau nyirih, bakau nadai, bakau akit,  dan jerampong. (L.N. Firdaus et al., 2019).

Salahsatu contoh adalah bakau sesap sering digunakan untuk pengobatan sakit mulut, termasuk mengurangi bau mulut. Dalam pengobatan sebelum meminum obat, dukun (bomoh) terlebih membacakan mantra (serapah). Penelitian Firdaus (2019), di Selat Kongky ( Senayang), bakau jenis buam dan nadai biasa digunakan Orang Laut untuk obat diare ( sakit perut).  Meskipun Orang Laut memiliki beragam jenis agama, mantra (serapah) yang mereka gunakan didapatkan secara turun temurun. Mereka mempraktekkan ritual yang telah digunakan oleh nenek moyang mereka. Pada dasarnya ritual pengobatan memadukan unsur religi (Islami) dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural (gaib). Kearifan lokal bukan hanya tentang pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat adat, tetapi juga tentang yang tidak terlihat. Secara harfiah, kata mantra dipercaya dapat membuat sesuatu berbeda. Mantra dalam budaya Melayu adalah kata-kata yang memiliki kekuatan khusus, khususnya kekuatan mistis.

Kesimpulan

Wabah penyakit seperti halnya Covid-19 menyerang siapa saja, tidak memandang etnik, agama, bangsa atau pun negara. Di Indonesia, masyarakat adat disejumlah daerah tidak luput terkena virus ini. Hal menarik, masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau, yaitu Orang Laut, data dari Dinas Kesehatan Lingga, tidak ada laporan mereka terkena Covid-19.  Dari penelitian ini diketahui, strategi adaptasi Orang Laut di Kabupaten Lingga menjadikan mereka bisa bertahan disaat pandemi Covid-19.

Kebijakan pembatasan sosial yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lingga dengan membatasi akses transportasi kapal laut masuk dan keluar Kabupaten Lingga berjalan efektif.  Orang Laut tidak memahami kondisi penyakit yang terjadi namun yang dipahami mereka adalah adanya larangan pemerintah untuk keluar kampung. Perkampungan Orang Laut di Lingga yang ada di 40 titik kondisinya rata-rata terpisah dengan masyarakat Lingga yang mayoritas Orang Melayu. Ini memudahkan dalam pembatasan sosial.

Orang Laut biasanya menjual hasil tangkapan ikan dan hasil laut lainnya ke tauke yang di kampungnya atau ke daerah perkotaan. Dengan kondisi adanya pembatasan sosial, mereka mengandalkan hasil tangkapan mereka untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Orang Laut juga memiliki kearifan lokal berupa konsumsi pangan sehari-hari tidak ketergantungan pada beras (nasi). Ada jenis makanan yang biasa mereka konsumsi yakni gubal, makanan khas Lingga yang berbahan baku sagu. Gubal dibuat dengan campuran kelapa muda yang telah diparut sebelumnya. Gubal nantinya dimakan dengan gulai ikan pari atau ikan hiu. Dalam proses memasak tidak menggunakan minyak goreng. Pangan dari bahan sagu bisa bertahan lama.  

Dalam pengobatan berbagai penyakit, Orang Laut di Lingga lebih mempercayai pengobatan tradisional ketimbang berobat secara medis ke puskesmas atau rumah sakit. Pada kondisi sakit parah saja, mereka biasanya baru mau dibawa ke rumah sakit. Dalam pengobatan, Orang Laut mengandalkan kemampuan dukun (bomoh) untuk mengobati. Obat-obatan yang digunakan bersumber dari alam. Dalam pengobatan Orang Laut biasanya juga menggunakan mantra (serapah) yang menjadi kunci sukses dalam penyembuhan penyakit selain obat-obatan. (Dedi Arman).


[1] Prasetyo, Y. E. (2021). Mitigasi dan Adaptasi Masyarakat Adat Terhadap Pandemi Covid-19. Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat.

[2]Wiyoga, P. (2020). Pembatasan Sosial, Suku Laut di Lingga Lebih Siap. https://www.kompas.id/baca/nusantara/2020/05/10/pembatasan-sosial-suku-laut-di-lingga-lebih-siap/.

[3] Informasi Densy Diaz, Ketua Yayasan Kajang Lingga

[4] Ariando, W. (2020). Kearifan Lokal Bantu Masyarakat Adat Beradaptasi Terhadap Dampak Krisis Iklim. Https://Theconversation.Com/. https://theconversation.com/kearifan-lokal-bantu-masyarakat-adat-beradaptasi-terhadap-dampak-krisis-iklim-136691

[5] Ariando, ibid.

[6] Elsera, M. (2019). Identifikasi Permasalahan dan Upaya Pemberdayaan Suku Laut Di Dusun Linau Batu, Desa Tanjungkelit, Kabupaten Lingga, Provinsi Kepri. Sosioglobal : Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Sosiologi, 3(2), 1–19.

Tinggalkan Balasan