Kepulauan Riau memiliki berbagai keistimewaan dari sisi aspek kesejarahan, budaya maupun kondisi geografis. Tahun 1946 pernah ada upaya untuk menghidupkan lagi Kesultanan Riau Lingga yang wilayahnya mencakup wilayah Kepri dan beberapa daerah di Riau pada masa kini. Usaha itu ditolak Presiden Sukarno dan beberapa tahun kemudian terbentuklah Provinsi Riau yang berpisah dari provinsi induk, yakni Provinsi Sumatra Tengah yang berpusat di Bukittinggi.

Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) bersama Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Caban Kepulauan Riau menyelenggarakan Diskusi Kesejarahan Melayu membahas Keistimewaan Wilayah Eks Kesultanan Riau Lingga di Auditorium Kampus UMRAH Dompak, Selasa (13/5) Pagi.

Diskusi yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme ini menghadirkan sejumlah tokoh terkemuka, di antaranya Dato’ Seri Lela Budaya H. Rida K. Liamsi, Dato’ Prof. Dr. Drs. Abdul Malik, M.Pd, Dato’ Aswandi Syahri, S.S, dan Dato’ Rendra Setyadiharja, S.Sos, M.I.P. Acara dipandu oleh Dedi Arman, S.S, M.M. yang bertindak sebagai moderator. Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan penting bagi para sejarawan, budayawan, akademisi, serta mahasiswa untuk memperkuat pemahaman dan kajian sejarah Melayu di Kepulauan Riau.

Penanggung Jawab acara diskusi, Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, M.A., menyampaikan bahwa diskusi ini merupakan bagian dari komitmen Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepulauan Riau dan juga UMRAH dalam mendukung pelestarian dan pengembangan kajian sejarah Melayu, khususnya di Kepulauan Riau.

Rektor UMRAH, Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti, S.Pi, DEA, secara resmi membuka kegiatan dan memberikan sambutan pembuka yang menggugah. Dalam sambutannya, Rektor menekankan pentingnya pelestarian sejarah dan budaya Melayu sebagai identitas utama Kepulauan Riau.

“Kalau bicara Kepulauan Riau, kita tidak hanya bicara tentang wilayah kepulauan saja. Kepri memiliki sejarah panjang dan budaya yang kaya. Raja Ali Haji dan Hang Tuah adalah dua sosok penting dalam sejarah Melayu. Raja Ali Haji adalah seorang sejarawan, cendekiawan, dan penulis yang memimpin kebangkitan sastra dan budaya Melayu, sementara Hang Tuah dikenal sebagai pahlawan yang mewakili semangat keberanian dan loyalitas. Meskipun berlatar belakang berbeda, keduanya memiliki kontribusi besar dalam membentuk peradaban Melayu,” ujar Prof. Agung.

“Sebagai universitas yang mengusung nama besar Raja Ali Haji, UMRAH memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga, mengkaji, dan menyebarluaskan nilai-nilai sejarah dan budaya Melayu kepada generasi muda. Kita tidak boleh membiarkan generasi kita asing terhadap akar sejarahnya sendiri,” tambahnya.

“Diskusi seperti ini menjadi ruang penting untuk membangun kesadaran kolektif bahwa sejarah bukan hanya masa lalu, tetapi fondasi untuk membangun masa depan. UMRAH akan terus membuka ruang kolaborasi dengan para sejarawan, budayawan, dan seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kajian-kajian sejarah kemelayuan di tanah Melayu ini,” pungkas Rektor.

Diskusi ini turut dihadiri jajaran pimpinan UMRAH, Dewan Pertimbangan UMRAH Dato’ H. Huzrin Hood, Ketua LAM Kota Tanjungpinang Dato’ H. Juramadi Esram, serta para tokoh sejarah dan budaya dari berbagai daerah di Kepulauan Riau. Tak hanya kalangan akademisi, kegiatan ini juga menarik perhatian mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Tanjungpinang. Tercatat hampir 150 peserta memenuhi ruang diskusi, menjadikan kegiatan ini sebagai momentum penting dalam membangkitkan kembali semangat kajian sejarah Melayu di kalangan generasi muda. **

Tinggalkan Balasan