Oleh: Dr Mukhlis Paeni
Jejak Legenda di Titik Awal Peradaban Melayu
Pulau Bintan tidak sekadar dikenal sebagai wilayah administratif modern di Provinsi Kepulauan Riau. Lebih dari itu, ia merupakan situs awal peradaban Melayu yang sarat dengan narasi historis dan mitologis. Dalam tradisi lisan dan naskah klasik, Bintan dikaitkan dengan tokoh-tokoh seperti Sang Sapurba, Wan Seri Beni, hingga Iskandar Syah. Perkawinan antara Wan Seri Beni dan Sang Nila Utama bukan hanya peristiwa genealogis, tetapi simbol penyatuan Mandala Sriwijaya dan pusat kekuasaan lokal di Bintan. Dari penyatuan ini, berkembanglah kekuasaan Melayu yang kemudian mengakar hingga Temasik (Singapura), Melaka, dan Johor.
Bintan dan Temasik: Mata Rantai Sejarah Asia Tenggara
Bintan menjadi titik transisi penting dalam sejarah kekuasaan Melayu. Sang Nila Utama yang berasal dari garis Sriwijaya, setelah menikahi putri Bintan, mendirikan Temasik sekitar tahun 1391 M. Namun sejarah kekuasaan terus bergerak. Ketika Prameswara (Parameswara), raja terakhir Singapura, dikalahkan oleh Majapahit, ia berpindah ke Melaka dan memulai Kesultanan Melayu yang lebih besar. Ketika Melaka jatuh ke tangan Portugis pada 1511, Sultan Mahmud Syah memilih Bintan sebagai tempat perlindungan dan pusat perlawanan. Fakta ini mengukuhkan Bintan sebagai benteng politik dan simbol ketahanan budaya Melayu.
Benteng Perlawanan dan Konsolidasi Kekuasaan
Selama masa pengasingan pasca-jatuhnya Melaka, Bintan menjadi pusat administrasi dan pertahanan Kesultanan Melayu. Kota Kara, benteng yang dibangun di muara Sungai Kopak, berfungsi sebagai ibu kota de facto dari 1513 hingga 1526. Serangan bertubi-tubi Portugis terhadap Bintan tidak mampu meredam semangat perlawanan. Bahkan di masa Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah, Bintan kembali menjadi pusat kerajaan Johor-Riau-Lingga. Raja Haji Fisabilillah memperkuat posisi ini dengan membangun Istana Kota Piring pada 1777. Peran militer, logistik, dan strategi pertahanan menjadikan Bintan pangkalan penting dalam sejarah perang maritim Melayu.
Manuskrip sebagai Warisan Identitas
Warisan intelektual Bintan tidak kalah penting. Dua karya utama yaitu Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu) dan Tuhfat al-Nafis menjadi sumber utama sejarah Melayu klasik. Jika Sejarah Melayu telah diakui UNESCO sebagai warisan dokumenter dunia pada 2001, maka Tuhfat al-Nafis, karya Raja Ahmad dan Raja Ali Haji, masih menunggu pengakuan yang layak. Naskah ini memuat narasi kekuasaan, silsilah kerajaan, etika pemerintahan, serta dinamika politik lokal dan kolonial yang sangat relevan untuk dipahami hingga hari ini.
Menuju Memory of the World 2026
Melalui Program IKON (Ingatan Kolektif Nasional) yang dikelola Perpustakaan Nasional, naskah Tuhfat al-Nafis diusulkan sebagai Warisan Nasional pada tahun 2025. Jika diterima, maka tahun 2026 menjadi momentum tepat untuk mengajukannya ke dalam program UNESCO Memory of the World (MOW). Langkah ini tidak sekadar administratif, tetapi sebuah pengakuan terhadap warisan literasi sejarah Melayu yang telah berkontribusi besar pada peradaban Asia Tenggara.
Pentingnya Pelacakan Arsip Internasional
Namun untuk mewujudkan pengakuan ini, diperlukan pelacakan dan penguatan data sejarah. Sumber-sumber Portugis terkait serangan ke Bintan pada abad ke-16 hingga kini belum tersedia dalam arsip nasional. Perlu dilakukan penelitian langsung ke Arsip Nasional Portugis di Lisbon. Demikian pula untuk sejarah tambang timah di Singkep dan pengelolaan sagu di Lingga, diperlukan akses terhadap arsip-arsip VOC dan Hindia Belanda di Belanda.
Membuka Jalan untuk Warisan Kolektif Bangsa
Selain Program IKON, Program Memori Kolektif Bangsa (MKB) yang dijalankan oleh Arsip Nasional RI juga dapat menjadi jalur pengakuan atas Bintan dan warisan Kepulauan Riau. Usulan seperti arsip berdirinya Kerajaan Bintan, tambang timah Singkep (1783–1991), dan pengelolaan sagu Lingga (1919) bisa diajukan ke MKB. Bila diterima, ini akan memperkuat posisi Kepulauan Riau sebagai pusat sejarah dokumenter dalam sejarah Indonesia modern.
Penutup: Bintan sebagai Nadi Peradaban Melayu
Perayaan 865 tahun Bintan adalah momentum strategis untuk menegaskan kembali posisi pulau ini sebagai nadi peradaban Melayu. Dari jejak legenda hingga arsip sejarah, Bintan menyimpan kekayaan narasi yang tak ternilai. Pengakuan nasional dan internasional atas manuskrip dan arsip Bintan tidak hanya membangun prestise, tetapi juga menjadi langkah konkret dalam melestarikan memori kolektif bangsa. Seperti bait pantun klasik:
“Gunung Bintan lekuk di tengah, Gunung Daik bercabang tiga; Hancur badan dikandung tanah, budi baik dikenang juga.” **
