Oleh: Wakil Gubernur Kepulauan Riau,
Nyanyang Haris Pratamura, S.E., M.Si
Di tengah semarak perubahan zaman, Bintan kembali hadir sebagai poros sejarah yang tak lekang oleh waktu. Dalam Seminar Internasional bertema “Membangkitkan Kembali Semangat Bintan Jantung Negeri Melayu” yang digelar di Tanjungpinang pada 8 Juli 2025, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menengok akar sejarah dan identitas budaya yang telah mengakar ratusan tahun lamanya.
Sebagai jantung kebudayaan Melayu, Bintan bukan sekadar titik di peta, tetapi medan makna bagi peradaban bangsa. Petuah dalam Gurindam Dua Belas Pasal 11: “Hendaklah berjasa kepada yang sebangsa” sebuah ajakan reflektif agar kita bertanya kembali: sudahkah kita benar-benar memberi makna bagi tanah kelahiran kita?
Warisan budaya Melayu harus dirawat bukan hanya sebagai bagian dari masa lalu, tetapi sebagai fondasi jati diri kita hari ini. Dalam era serba digital dan global, menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan. Justru inilah tantangannya: bagaimana kita mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam pembangunan berkelanjutan. Dalam visi Pemerintah Provinsi Kepri 2025–2029, pelestarian budaya Melayu menjadi salah satu misi utama—beriringan dengan ekologi, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial.
Implementasi visi tersebut telah dituangkan dalam berbagai program strategis: penguatan sektor maritim dan kelautan, pengembangan pariwisata bahari, pemenuhan infrastruktur, serta digitalisasi pelayanan publik. Tidak kalah penting, upaya memelihara keselarasan antar suku, etnis, dan agama terus dilakukan untuk memperkuat harmoni sosial di provinsi kepulauan ini.
Potensi ekonomi Kepri juga terus dikembangkan melalui Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti Galang Batang di Bintan dan Nongsa Digital Park di Batam. Hingga 2024, dua kawasan tersebut telah menyerap lebih dari 10.000 tenaga kerja dan meraih realisasi investasi puluhan triliun rupiah. Ini menunjukkan bahwa Kepri bukan hanya kaya sejarah, tapi juga menjadi magnet investasi yang menjanjikan di masa depan.
Selain itu, Kepri juga menjadi salah satu provinsi dengan kawasan industri terbanyak, khususnya di Batam dan Bintan. Keberadaan Free Trade Zone (FTZ) memperkuat posisi strategis Kepri dalam jalur perdagangan internasional. Dengan nilai investasi mencapai Rp13,2 triliun pada triwulan I tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Kepri pun mencatatkan angka tertinggi di Sumatera dan peringkat ketiga secara nasional.
Namun kekuatan Kepri bukan hanya pada angka. Ia juga terletak pada potensi pariwisata yang luar biasa. Pulau Penyengat, ikon budaya di Tanjungpinang, telah dinobatkan sebagai Desa Wisata Rintisan terbaik nasional oleh Kemenparekraf. Kepri juga ditetapkan sebagai destinasi halal tourism, serta menjadi hub wisata lintas batas Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Event olahraga internasional pun rutin digelar, memperkuat posisi Kepri dalam peta sport tourism.
Dalam empat bulan pertama tahun 2025, lebih dari 535 ribu wisatawan mancanegara telah mengunjungi Kepri menunjukkan tren positif yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri tahun 2024 mencapai 79,89, tertinggi di Sumatera dan ketiga secara nasional setelah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.
Kita mengajak semua pihak, terutama generasi muda, untuk tidak melupakan akar budaya. Dikutipnya pula petuah Hang Tuah yang melegenda: “Takkan Melayu Hilang di Bumi.” Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata, melainkan pesan perjuangan bahwa eksistensi bangsa ditentukan oleh kemauan untuk menjaga warisan dan semangat kebersamaan. Bak sebuah bait pantun Melayu:
“Tangkap pari dapat selangat, hendak dibawa ke Bintan Buyu; Bangkitkan kembali semangat, Bintan jantung negeri Melayu.” **
