Sejarah Bintan masa lampau dibahas dalam Seminar Internasional bertema Membangkitkan Kembali Semangat; Bintan Jantung Negeri Melayu” yang digelar di Galeri Tamadun Maritim, Gedung Satu Gurindam-Ismeth Abdullah, Kampus UMRAH Dompak, Tanjungpinang, Selasa (8/7). Seminar ditaja Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepulauan Riau bekerjasama dengan Yayasan Majelis Amanah Warisan Bintan dan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).

Dalam seminar ini, hadir sejumlah narasumber lintas negara rumpun Melayu, di antaranya Prof. Dr. Susanto Zuhdi, Dr. Mukhlis PaEni, Prof. Dr. Drs. Abdul Malik, M.Pd yang diwakili oleh Rendra Setyadiharja, S.Sos., M.IP., dan Rashikin Rajah dari Singapura. Keempatnya membawakan materi dengan beragam perspektif sejarah dan budaya Melayu. Seminar ini dimoderatori oleh akademisi UMRAH sekaligus Wakil Direktur Pascasarjana Bidang Akademik, Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, M.A.

Acara diawali dengan sambutan dari perwakilan penyelenggara, yakni Penasehat MSI Kepri, Rida K Liamsi dan Dato’ H. Huzrin Hood dari Yayasan Majelis Amanah Warisan Bintan. Keduanya menyampaikan pesan moral pentingnya menjaga warisan budaya Melayu sebagai jati diri bangsa. Datok Rida menyampaikan bahwa kegiatan serupa akan terus digelar secara rutin. Datok H. Huzrin menekankan pentingnya semangat generasi kini untuk terus menjaga dan meneruskan nilai-nilai luhur budaya Melayu.

Mewakili Rektor UMRAH, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Perencanaan, Dr Tengku Said Raza’i menyampaikan apresiasi dan komitmen kampus dalam penguatan nilai-nilai Melayu. “Di UMRAH, ada mata kuliah Tunjuk Ajar Melayu yang memperkenalkan sejarah dan budaya Melayu kepada mahasiswa. Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlangsung. Saya, sebagai anak Melayu, siap menjadi motor penggerak kegiatan ini,” ungkapnya.

Seminar ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Kepulauan Riau yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum, Sardison, S.TP, M.Si. Dalam sambutan yang dibacakan, Gubernur Kepri menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya Melayu adalah tugas bersama. “Ke depan, komunitas budaya Melayu ini tidak hanya diisi oleh pakar budaya, namun juga perlu melibatkan pakar di bidang pertahanan, pengobatan, hingga teknik perkapalan yang seluruhnya bersumber dari kekayaan warisan budaya Melayu,” pesannya.

Seminar internasional ini mendapatkan antusiasme tinggi dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, budayawan, tokoh pemuda, hingga perwakilan pemerintah daerah. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat menjaga identitas dan warisan budaya Melayu tetap hidup dan relevan hingga kini. **

Tinggalkan Balasan