Tarekat dan Madrasah di Kepri

Masuknya Islam ke Riau yang dalam perjalanannya terpecah menjadi Provinsi Kepri, erat hubungannya dengan keadaan dan letak geografis daerah ini. Keadaan geografis yang mayoritas kepulauan telah menyebabkan mudahnya pedagang-pedagang mencapai daerah ini. Dagang merupakan cara yang efektif pada masa lampau untuk menyampaikan ajaran Islam, selain untuk kepentingan ekonomi.  

Ada beberapa pendapat tentang sejarah masuknya Islam ke daerah ini. Pendapat pertama menyebutkan Islam sudah ada masuk sejak Abad 7. Pendapat lain, Islam baru ada sejak zaman Kesultanan Melaka tahun 1295 M, meskipun Sultan Melaka Prameswara baru memeluk Islam tahun 1414 M. Dengan fakta ini membuktikan bahwa Islam terlebih dahulu dianut oleh masyarakatnya karena interaksi dengan pedagang Arab, Parsi dan Gujarat. (Hamidy,1994).

Masuknya Islam berdampak pada munculnya lembaga pendidikan Islam. Pada awalnya Puak Melayu baru mengenal lembaga pendidikan bernama surau. Dalam perjalanannya, Kerajaan Riau Lingga memulai merintis pendidikan Islam. Dalam Tuhfat al Nafis diceritakan, Yang Dipertuan Muda Riau V Raja Ali Ibni Daeng Kamboja yang berkedudukan di Pulau Bayan (Tanjungpinang) telah berguru Tarekat Syamaniah kepada guru tarekat Syaikh Abdul Gafar Madura. Martin van Bruinessen menyebut  salah satu tarekat yang berkembang di Kepri adalah Naqsyabandiyah. Tarekat ini masuk ke Kepri saat Syekh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi (W. 1859 M) diundang oleh Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau VIII (1844-1857) ke Pulau Penyengat.  Raja Ali, dan penggantinya YDM Riau IX, Raja Abdullah beserta  para bangsawan istana kemudian menjadi murid-murid Syekh Ismail.            

            Salah satu ciri khas yang membedakan iklim keulamaan di Kesultanan  Riau-Lingga adalah tidak ada batasan yang tegas antara kebangsawanan  (umara), keulamaan (ulama), dan kecendekiawanan (intelektual). Hal  ini merupakan ciri khas keislaman di alam Melayu yang kuat sehingga  Melayu identik dengan Islam. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa iklim keulamaan di wilayah Kerajaan Riau-Lingga juga dipelopori  para bangsawan dari istana.  Kebanyakan  ulama di wilayah ini berada di lingkaran istana atau elit sosia1, baik dalam istana Yang Dipertuan Muda (jabatan setara perdana menteri) di Pulau Penyengat maupun istana Yang Dipertuan Besar (Sultan Riau-Lingga) di Pulau Lingga. Dalam dua wilayah ini, kajian tentang para ulama di Pulau Penyengat relatif lebih banyak daripada di Pulau Lingga dan sekitarnya. (Tarobin, 2018).

Masjid Sultan Riau  di Pulau Penyengat (Tanjungpinang)  merupakan  pusat pendidikan Islam masa Kesultanan Riau Lingga. Di masjid ini sering dilakukan diskusi oleh ulama-ulama terkenal masa itu membahas tentang Islam. Lembaga pendidikan formal di daerah ini yang pertama adalah Madrasah Muallimin al Arabiah yang berdiri tanggal 11 Oktober 1938 atau 9 Syawal 1357 H berdiri Madrasah Muallimin al Arabiah yang dipimpinRaja Muhammad Yunus Ahmad Riau. Lembaga ini bertujuan mendidik anak watan Kepulauan Riau Lingga menjadi calon-calon guru agama, kadhi, pengarang dan mubaligh yang mahir. Proses belajar di madrasah inu digelar di kedua rumah sotoh yang terdapat di halaman masjid Pulau Penyengat. Lama proses belajar mengajar tiga tahun. Tidak ada catatan sampai kapan Madrasah Muallimin ini bertahan. (Syahri, 2014).

Madrasah ini memberikan pelajaran ilmu fardu ain dan fardu khifayah. Madrasah ini telah memberikan pelajaran meliputi ilmu fardhu a’in (ilmu-ilmu pokok ajaran Islam) dan ilmu-ilmu fardhu kifayah (ilmu tentang manusia dan pasti alam). Adapun ilmu-ilmu Islam yang pokok meliputi logat Arab, syaraf, nahu, Al-Qur’an Azim, tajwid, tafsir, hadist assyarif, tauhid, ushuluddin dan fiqih. Sedangkan ilmu fardhu kifayah diajarkan mencakup tarikh Islam, tarikh dunia, ilmu bumi, hisab, khat, bahasa Melayu Riau, dan tarikh Riau-Lingga.

Pasca kemerdekaan, madrasah pertama yang berdiri adalah Madrasah Ibtidaiyah Berakit di Bintan yang berdiri 1 Januari 1951 dengan nama Sekolah Rakyat Partikelir.  Pada tahun 1958 SRP berubah menjadi  Sekolah Rakyat Islam (SRI). Pada tahun 1959, SRI Berakit bergabung dengan Yayasan Madrasah Wajib Belajar (YMWB) di Tanjungpinang. Tahun 1967, YMWB  berubah nama menjadi MIS ( Madrasah Ibtidaiyah Swasta ) Berakit.  Pada tanggal 8 Mei Tahun 1968 secara resmi Madrasah Ibtidaiyah Berakit menjadi Madrasah Ibtidaiyah Percobaan Negeri (MIPN) melalui Dinas Inspeksi Pendidikan Agama Kabupaten Kepulauan Riau dengan  SK Menteri Agama No 50 tahun 1968. MIN Berakit   dibawah asuhan Departemen Agama Provinsi Riau yang berkedudukan di Pekanbaru menjadi satu-satunya  MIN di Kabupaten Kepulauan Riau.

Madrasah lain yang tertua di Kepri adalah Madrasah  Ibtidaiyah Islamiyah yang saat ini berlokasi di Desa Tiangau, Kecamatan Siantan Selatan. Madrasah ini berdiri tahun 1952 yang didirikan oleh tokoh Muhammadiyah yang datang dari Pulau Midai, Natuna.  Dalam sebuah foto yang tersimpan di Arsip Nasional Indonesia,  Wakil Presiden RI Muhammad Hatta pernah mengunjungi  Madrasah Nurul Islam di Tarempa tanggal 20 April 1953.  Madrasah lain yang tua di Kepri adalah  Madrasah Tsanawiyah di Tambelan (Bintan). Madrasah kini dibawah  Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Kecamatan yang berdiri tanggal 12 September 1952.

Perkembangan Pesantren

            Ada berbagai macam istilah yang  dipergunakan para ahli dalam rangka  menjelaskan institusi pendidikan Islam tradisional ini. Bagi  masyarakat Jawa dan Sunda  menyebutnya pesantren atau  pondok. (Dhofier, 1994) Di Minangabau dikenal dengan surau, sedangkan  masyarakat Aceh lebih terkenal  dengan sebutan dayah, rangkang dan meunasah. Di Kepulauan Riau juga dikenal dengan istilah surau.

Perkembangan pesantren di Kepulauan Riau baru pesat tahun 2000-an. Tahun 1993, jumlah pesantren di Kepri hanya tiga. Tiga pesantren itu adalah Pesantren Miftahul Ulum (Tanjungpinang), Al Jabar (Batam). dan Darul Falah (Batam). Sementara, untuk tingkat Provinsi Riau saat itu jumlah pondok pesantrennya sebanyak 53 unit, terbanyak di Indragiri Hilir, Kampar, Bengkalis dan Pekanbaru. (Hamidy, 1994).   Pada periode 1980-1990-an, kondisi sarana dan prasarana di pesantren belum memadai. Keadaan gedung dan asrama belum layak untuk menjalankan aktifitas pendidikan dan tempat tinggal. Hanya sebagian kecil pesantren memiliki bangunan berupa gedung, pondok asrama dan masjid yang bentuknya megah dan membuat nyaman para santri. Kondisi yang miris ini mungkin menjadi salahsatu penyebab, masyarakat enggan menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren.

Hal yang jadi pertanyaan adalah alasan pesantren pada periode ini tidak berkembang di Kepri.  Alasannya tidak terlepas dari kultur pesantren yang berkembang di Pulau Jawa, sementara di Sumatra, termasuk Kepri tradisi pesantren tidak ada. Di Kepri berkembang Pendidikan Islam di surau dan madrasah. Belakangan barulah anak-anak di Kepri banyak bersekolah ke pondon pesantren ke Pulau Jawa. Saat pulang mereka membangun pesantren di kampung halamannya. Selain itu, pesantren juga dibangun oleh para perantau dari Jawa yang merantau ke Kepulauan Riau.

Perkembangan pesantren di Kepri sejak tahun 2000-an mengembirakan. Data tahun 2023, jumlah pesantren di Kepri mencapai 120 unit. Perinciannya adalah Bintan 16 pesantren,  Karimun 21, Natuna 3, Lingga 7, Anambas 2, Batam 64 dan Tanjungpinang 7 pesantren. Ini pesantren yang memiliki izin resmi dan terdaftar di Kementrian Agama. Selain itu  masih ada pesantren yang belum memiliki izin.

Tidak hanya pesantren, sekolah islam terpadu juga luar biasa perkembangannya di Kepri. Ada kecendrungan masyarakat ingin menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah yang bercorak agama, apakah pesantren atau sekolah Islam terpadu.  (dedi arman)**

Tinggalkan Balasan