SKETSA SINGKAT PULAU LINGGA DAN PENDUDUKNYA oleh: Christiaan van Angelbeck

Saya akan memberikan sketsa singkat tentang kondisi Orang-Orang Melayu di Pulau Lingga berserta asal usul dan sejarahnya. Informasi saya kumpulkan selama saya tinggal di Kuala Daik tahun 1819.

Ibukota kerajaan bernama Kwala Dai ( Kuala Daik) , terletak di sisi selatan rumah, sebelah barat tanjung Tanjong Hiang. Lokasinya di tepi sungai. Sultan menjaga tempat tinggalnya di sana. Ibukota  lokasinya luas dan bagus yang menunjukkan dirinya seolah-olah sebuah teluk di dekat pulau-pulau kecil, yang berada di sekitarnya.

Di bagian selatan pulau ada gunung yang terkenal karena puncaknya yang eksentrik berbentuk mahkota.Ini berjalan curam dan dibelah menjadi dua, menciptakan dua titik piramida. Penduduk asli jarang mengunjungi puncak inikarena mereka percaya dengan tradisi. Bahwa ada roh-roh jahat di sana, siapa yang akan menganggapnya sangat serius, yang itu datang untuk mengganggu mereka di tempat tinggal mereka, dan tidak berdamai dengan para pengunjung kehidupan dirampok, mendatangkan malapetaka atasnya seluruh negeri.

Di hutan gunung itu, orang menemukan banyak jenis spesies dari kayu untuk membangun kapal serta cocok untuk tujuan lainnya. Di antara mereka juga ada beberapa kayu halus dan harum. Oleh penduduk asli dianggap  sangat mewah seperti kayu Kamoening (Chalcas paniculata) Ebony, Tjendana atau pohon Sandal, Garoe (lignum Gaharu, dan lain-lain.

Pantai selatan umumnya rendah dan berawa. Banjir saat air pasang. air dan dengan semak-semak tertentu yang semacam akar runcing keras kelua.  Ketika saya menginap di pulau ini, saya belum memiliki kesempatan, penyelidikan apa pun tentang kondisi tersebut. Pulau ini juga mengandung banyak timah yang dulu digali dengan tekun. Namun, belakangan ditemukan  hasil timah yang lebih besar di Pulau Singkep. Di pulau ini juga ditemukan emas namun kecil sementara butuh biaya besar dalam mengolahnya.

Rumah-rumah di sana biasanya dari papan dan panggung empat sampai enam. Dibangun setinggi kaki, dan ditutupi dengan atap. Rumah-rumah umumnya berukuran kecil dan pintu yang sangat sempit dan sedikit jendela disediakan. Penduduk yang kurang mampu membangun rumah dari bahan Kadjang dan Niebong diproduksi. Rumah-rumah dibangun disepanjang sungai. Lantai di rumah terbuat dari papan. Papan yang lebih kecil seperti bilah telapak tangan niebong. Dibawah rumah jadi tempat beternak unggas dan lainnya.

Rumah-rumah jarang terisolasi tetapi selalu berdekatan dengan beberapa orang lain. Setiap rumah dikelilingi oleh beberapa pohon buah-buahan dan semak-semak. Dari kumpulan rumah seperti itu sekarang muncul dusun, dan semua dusun menjadi bersama-sama membentuk kota.  Rumah-rumah di Pulau Lingga terlindung dari pohon-pohon di sekitarnya sehingga kebanyakan tetap tersembunyi dari pandangan.

Kediaman Sultan Lingga berjarak dua jam dari laut dan terletak di  tepi kiri sungai. Dari sana, ada jalan yang cukup lebar pergi ke pedalaman selama setengah jam mengarah ke sana. Rumah ( istana) kediaman sultan  itu berdiri di atas tanah yang besar. Hampir persegi yang awalnya berupa pintu kayu tinggi atau gerbang dibangun.

Ada alun-alun dalam istilah Jawa namun di sini dikenal dengan nama Medan. Dari Medan ( lapangan luas) ini,  kediaman sultan dapat dilihat di sebelah kiri. Dikelilingi oleh kayu yang agak tinggi. [1] Pagar yang dilengkapi dengan penutup gerbang tertutup. Gerbang tidak dibuat tanpa rasa dan dekorasi. Selangkah lebih maju dari gapura ini, berdiri sebuah balai atau auditorium. Bangunan persegi yang luas, dilengkapi dengan tiang-tiang kayu yang menopang atap terbuka di semua sisi dan dibagi menjadi tiga bagian. Yang berundak naik di atas satu sama lain, masukkan yang atas atau ketiga juga yang terkecil. Ini dulu atau bagian atas berfungsi sebagai tempat duduk untuk sultan dan pembesar utamanya. Kedua atau tengah untuk yang lebih rendah dan pengiring sultan, dan yang ketiga untuk umum.

Di gedung ini semua urusan menjadi urusan negara ditangani di depan umum. Sultan menerima

di sana duta besar dan orang asing. Tamu yang  datang kepadanya ingin diinisiasi. Orang-orang diperbolehkan mengajukan keberatan atau permasalahannya.  Sultan dan para bangsawan memiliki tata krama dalam berhubungan dengan tamu dan rakyatnya.

Di dalam atau tempat tinggal sultan sendiri tidak banyak yang layak untuk dikomentari. Ketika seseorang telah memasuki gerbang, terlihat pada awalnya sebuah bangunan kecil, seperti auditorium besar di Medan atau lapangan. Agak sedikit lebih jauh di latar belakang rumah pangeran dan di sebelah rumahnya para ibu. Rumah-rumah ini berada di atas panggung tiga ataudibangun empat kaki di atas tanah. Dia adalah bangunan besar, semua dari kayu, yang dibagi di dalam, dengan cara yang sangat khusus, menjadi galeri atau portal.

Tak jauh dari pintu masuk Medan atau Alun-Alun,  sebelah kanan ada sebuah masjid yang dibangun dari batu bata. Di sebelah masjid, ada tempat berwudu yang dibuat dari batu. Tak jauh dari masjid, ada  pemakaman anggota keluarga kerajaan.

Penduduk Lingga kurang tertarik dalam bidang pertanian. Padahal pulaunya sangat subur. Bukti nyata kesuburan dari pulau ini adalah adanya hutan lebat dari berbagai pohon, dengan pegunungan dan lembah yang menghijau. Tidak diragukan lagi bahwa tidak hanya lada dan gambir tetapi juga produk lain di sini dengan efek terbaik bisa tumbuh. Tenaga kerja bidang pertanian sangat kurang. Termasuk juga hewan untuk  digunakan dalam mengolah lahan juga kurang.  Ada kerbau tapi tak banyak. Kuda tidak terlihat di sini.  Orang Cina menanam sayuran dan buah-buahan. Selain itu juga menanam gambir dan lada (sahang).

Padi tidak ditanam di sini. Beberapa tahun sebelumnya pernah dicoba atas perintah dan dibiayai Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Jaafar. Namun, padi gagal. Hal ini kemungkinan disebabkan yang melakukan pertanian sawah tidak punya pengalaman. Selain itu, budidaya padi juga sesuatu yang baru bagi penduduk Lingga. Hasil pertanian yang bagus di Lingga adalah sagu yang dijual ke Pulau Jawa. Sementara, dari Jawa didatangkan garam ke Lingga. Hasil alam yang lain adalah ikan. Lingga kaya hasil ikan laut.

***

Sebelum Sultan Mahmud Riayat Syah pindah ke Lingga, Pulau Lingga di bawah kekuasaan seorang kepala yang bergelar Orang Kaya di bawah pemerintahan Kesultanan Johor. Saat Sultan Mahmud pertama kali datang, penduduk Pulau Lingga awalnya banyak mengungsi, lari dari kampung itu. Orang Kaya di Pulau Mepar menguasai lautan. Mereka dibantu para batin dari Suku Sekanak, Temiang,  dan suku lainnya. Orang ini sangat ahli dalam melakukan perompakan pada kapal-kapal asing.

Sultan yang berkuasa setelah Sultan Mahmud Riayat Syah adalah anaknya, Sultan Abdurrahman. Ia tidak banyak mengurusi urusan administrasi pemerintahan yang lebih dikuasai Raja Jafar. Sultan lebih tertarik urusan akhirat. Sultan ini dilantik tanpa regalia karena regalia disimpan ibu tirinya, Raja Hamidah, anak Raja Haji. Sultan Abdurahman pernah pergi dari Lingga ke Trengganu dan menikah di sana. Beberapa tahun kemudian, regalia kesultanan diberikan Raja Hamidah (Engku Putri).

Penghasilan sultan asalnya dari segala perizinan yang menjadi kewenangan kesultanan. Seperti izin orang Tionghoa memelihara rumah dadu. Selain itu pemasukan dari izin perdagangan, izin kapal dan pelabuhan yang ditangani syahbandar. Banyak lagi pemasukan sultan dari sumber lain. ( dedi arman).


[1] Medan atau alun-alun di depan kediaman sultan  selalu ramai. Di sana menjadi ruang publik, tempat berkumpul. Termasuk menjadi tempat permainan populer di zaman ini.

Tinggalkan Balasan