Oleh : Olifia Syahrani Putri (Prodi Ilmu Hubungan Internasional FISIP UMRAH)

Pariwisata dapat diartikan sebagai perjalanan dari satu tempat menuju ke tempat lainnya dan bersifat sementara. Menurut Hunziger dan krapf dari Swiss, pariwisata merupakan keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggal orang asing di suatu tempat dengan syarat orang tersebut tidak memiliki atau melakukan suatu pekerjaan yang penting dan memberikan keuntungan yang bersifat permanen atau sementara. (Isdarmanto, 2016). Pariwisata sendiri dilakukan untuk mengisi kekosongan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menyegarkan pikiran setelah bekerja baik dengan mengunjungi wisata yang memiliki keindahan alam yang memukau atau mengunjungi daerah wisata yang memiliki kearifan lokal yang unik. Wisata yang memiliki kearifan lokal disebut dengan wisata budaya, Industri pariwisata berbasis budaya secara tidak langsung memberikan peran dalam perkembangan budaya Indonesia, hal ini dikarenakan dengan adanya objek wisata maka dapat memperkenalkan keragaman budaya yang dimiliki suatu negara seperti kesenian tradisional atau adat yang dapat menarik perhatian wisatawan asing dan wisatawan Indonesia. Kearifan lokal adalah seperangkat pengetahuan dan praktik-praktif yang berasal dari generasi sebelumnya atau berasal dari pengalaman berhubungan dengan lingkungan dan masyarakat lainnya milik suatu komunitas di suatu daerah, yang digunakan untuk menyelesaikan persoalan atau kesulitan yang dihadapi (Sugiyarto, 2018).

Kearifan lokal berasal dari nilai-nilai pada adat istiadat, keagamaan, dan budaya lokal yang terbentuk secara alami dalam suatu kelompok masyarakat. Kearifan lokal turut menjadi ciri khas masing-masing daerah yang memiliki potensi untuk mendukung pengembangan dari suatu daerah. Pengembangan pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal dapat dilakukan dengan berbagai upaya, salah satu upaya tersebut adalah pengemasan dari budaya lokal dalam bentuk festival, hal ini merupakan tujuan dari penelitian yang penulis lakukan dengan Kampung Terih yang berada di pesisir Kota Batam tepatnya di kecamatan Nongsa sebagai lokasi penelitian.

Kota Batam yang terletak pada Provinsi Kepulauan Riau dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata utama di Sumatera. Kota Batam tidak hanya menjadi kota surga belanja namun juga memiliki objek-objek wisata baru yang mengandalkan potensi alam. Salah satunya berada pada Kampung Terih, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa. Kampung Terih pernah dinobatkan sebagai juara favorit Anugrah Pesona Indonesia (API) pada tahun 2018 (Arman, 2018).

Kampung Terih memiliki posisi yang berhadapan langsung ke pusat pemerintahan Kota Batam, sehingga dapat terlihat pemandangan Kota Batam lengkap dengan gedung-gedung tingginya. Pada tahun 2017. Kampung Terih telah dikembangan menjadi destinasi wisata dengan memiliki luas arealnya 12 hektar. Selain pemandangan yang menarik untuk dilihat, Kampung Terih juga memiliki suasana yang tepat untuk melakukan kegiatan camping yang dilakukan di atas permukaan air laut, bertenda di atas kayu-kayu yang terapung menjadikan camping di Kampung Terih berbeda dengan kegiatan camping lainnya. Selain kegiatan camping terapung, terdapat beberapa daya tarik lainnya di Kampung Terih ini seperti hutan bakau yang rimbun, air laut yang jernih, dan kekayaan kuliner khas Melayu dari warga-warga setempat.

Selain keindahan alam dan kuliner, Kampung Terih juga memiliki cerita sejarah. Kampung Terih yang ditinggali oleh 34 kepala keluarga ini, ternyata pernah menjadi tempat atau gudang senjata-senjata perang dari Jepang saat perang dunia kedua. Kemudian terdapat pula makam tua yang terletak tidak jauh dari masjid di Kampung Terih yang merupakan makam tertua kedua di Batam. Makam tersebut adalah makam Datuk Ternate atau makam Datuk Janati.

Dalam menentukan strategi yang tepat dalam pengemasan budaya lokal di Kampung Terih, penulis melakukan analisa SWOT. Analisa SWOT merupakan suatu bentuk analisis situasi dengan melakukan identifikasi pada faktor-faktor secara sistematis terhadap kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunities), serta ancaman (threats) (Istiqomah, 2017) dari Kampung Terih untuk menciptakan strategi. Strategi pengemasan budaya lokal khususnya pada pariwisata budaya Kampung Terih yang tepat berdasarkan hasil analisis SWOT adalah pengemasan budaya dalam bentuk festival budaya seperti pada festival Jateng Fair yang dilaksanakan di Semarang dengan jangka waktu lebih dari satu bulan. Jateng Fair menyediakan sejumlah stand yang ditawarkan untuk media promosi produk dan lain sebagainya. (Sugiyarto, 2018). Pelaksanaan Festival di Kampung Terih dapat dijadikan sebagai media promosi dan pengenalan daerah tujuan wisata (DTW) budaya lokal. Kegiatan promosi ini dapat dilakukan dengan penyediaan informasi kegiatan wisata budaya lokal, pameran fotografi dari Kampung Terih, dan pengenalan ikon masing-masing daerah. Pelaksanaan promosi DTW budaya juga dapat didukung dengan penyelenggaraan festival yang menampilkan makanan khas ataupun atraksi-atraksi budaya lokal. **

Kesimpulan

Budaya lokal didasarkan pada nilai-nilai dari budaya yang terkandung dalam masyarakat-masyarakat lokal yang berada di wilayah setempat terdahulu yang hingga saat ini masih dipraktekkan. Budaya lokal khususnya di Kampung Terih secara umum memiliki potensi unik yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan pariwisata budaya lokal.

Strategi peningkatan wisata budaya lokal yang dianalisis berdasarkan strength, weakness, opportunity dan threats meliputi:

  1. Meningkatkan potensi budaya lokal melalui kerjasama dengan Pemerintah ataupun pihak swasta;
  • Meningkatkan potensi budaya lokal yang didukung dengan peranan masyarakat lokal dan kelompok sadar wisata;
  • Memperbaiki promosi destinasi wisata budaya dengan melakukan kerjasama bersama pihak-pihak terkait, pemerintah, dan juga dukungan dari masyarakat setempat;
  • Mempertahankan keunikan pariwisata budaya sesuai dengan kearifan lokal yang didukung dengan produk atau jasa dari masyarakat setempat;
  • Meningkatkan kerjasama kepariwisataan budaya antar daerah khususnya daerah yang berlokasi di Kecamatan Nongsa.

Referensi

Arman, D. (2018, Desember 24). Kampung Terih, Kampung Tua Pusat Wisata Digital Batam. Retrieved Juli 10, 2023, from Indonesia Platform Kebudayaan:http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/kampung-terih-kampung-tua-pusat-wisata-digital-batam/

Isdarmanto. (2016). Dasar-dasar Kepariwisataan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata. Yogyakarta: Gerbang Media Aksara.

Istiqomah, I. A. (2017). Analisis SWOT dalam Pengembangan Bisnis. Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam, 370.

Sugiyarto, R. J. (2018). Pengembangan Pariwisata Berbasis Budaya dan Kearifan Lokal. Jurnal Administrasi Bisnis, 45.

Tinggalkan Balasan