Sebuah buku yang akan mengupas sepak terjang Raja Ali Marhum Pulau Bayan, Yang Dipertuan Muda Riau V ditulis tiga penulis muda. Sosok Raja Ali sangat menarik karena kisah perlawanannya terhadap Belanda dan kisah pengembaraannya ke sejumlah daerah saat perang dengan Belanda.
“Sosok Raja Ali belum banyak ditulis orang. Merasa kehormatan bagi kami bisa menggarap buku ini,”kata salah seorang penulis, Rendra Setyadiharja dalam diskusi terpumpun Raja Ali Marhum Pulau Bayan, Kamis (30/3) di Museum Sulaiman Badrul Alamsyah.
Penulisan buku ini sumber utamanya dari naskah Tuhfat al Nafis karya Raja Ali Haji, pahlawan nasional dari Kepulauan Riau. Rendra menulis bersama dua rekannya, Yoan S Nugraha dan Priyo Joko Purnomo. Kata Rendra, penulisan buku dalam tahap penyelesaian akhir sehingga dalam diskusi terpumpun menerima masukan dari peserta yang hadir. “Harapan kami nantinya buku ini menambah koleksi buku referensi sejarah lokal Kepri,”kata Wakil Sekretaris MSI Kepri ini.
Acara diskusi terpumpun dihadiri pencinta sejarah Kepulauan Riau, diantaranya Datok Rida K Liamsi, Syafaruddin, Aswansdi Syahri, dan Dedi Arman. Diskusi dibuka Kepala Museum Sulaiman Badrul Alamsyah, As’ad Siregar. **
