oleh: Rida K Liamsi (Anggota Kehormatan MSI Pusat)
1. 6 Januari 2023, ketika melakukan ziarah makam ke pulau Penyengat dalam eangka ulang tahun Tanjungpinang ke 239, Walikota Tanjung Pinang, Hajjah Rahmah, mengungkapkan niat Pemko Tanjungpinang untuk mengusulkan Engku Puteri Raja Hamidah, sebagai calon pahlawan nasional Indonesia, dari Kepulauan Riau. Siapa Engku Puteri Raja Hamidah ?
2. Ketika menulis novel saya “ Hamidah “ , saya melakukan sejumlah riset, terutama riset pustaka untuk mencari bahan penulisan novel itu. Bahan bahan itu juga saya pakai untuk tulisan dan buku saya yang lain, yang berkaitan dengan sejarah Kesultanan Riau Lingga.
3. Engku Puteri Raja Hamidah adalah puteri dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda ( YDM) IV , Kerajaan Riau Lingga ( 1777-1784 ), Cucu Daeng Celak, YDM II. ( 1727-1753 ), Cicit dari Daeng Rilaka, Bangsawan Bugis Luwu, Sulawesi Selatan. Cucu Tengku Mandak ,cicit dari Sultan Johor Abdul Jalil Riayat Syah ( 1699-1719 ), penerus dinasti Bendahara kerajaan Melayu Melaka,Johor dan Riau.
4. Lahir sekitar tahun 1769, di Ulu Riau, sungai Carang di pulau Bintan.
5. Ibunya Raja Perak, anak Daeng Kamboja ( YDM III ). Berarti dari sebelah ibu , Raja Hamidah cucu Daeng Perani. Raja Hamidah bersepupu dengan Raja Ali ( YDM V ) ( 1803-1806 )
6. Raja Hamidah punya saudara seibu, yaitu Raja Siti yang kelak menikah dengan Daeng Talibak, salah seorang panglima perang handal, tangan kanan Raja Ali
7. Raja Hamidah punya beberapa saudara seayah yang juga tokoh sejarah di era Kerajaan Riau, antara lain : Raja Jakfar ( YDM VI , 1808 -1831 ) , Raja Idris, dan Raja Ahmad ( Ulama, Penasehat kerajaan dan bapak literasi tanah melayu karena dari keturunannya lah kelak banyak yang jadi pengarang , seperti Raja Ali Haji, Raja Abdullah, dan lainnya .
8. Raja Hamidah dibesarkan di istana Kota Piring, di pulau Beram Dewa di Sungai Carang. Ketika ayahnya menjadi YDM dan di istana kota Piring dia dididik sebagai wanita bangsawan dan belajar agama dan ilmu pengetahun lain , termasuk ilmu sastera karena itu kelak Raja Hamidah juga menulis syair . Dalah satu karyanya yang terkenal adalah Syair Perkawinan Tan Tek Sing.
9. Berdasarkan catatan Belanda, Raja Hamidah berwajah cantik, teduh dan anggun. Tapi keras sebagai mana wanita keturunan Bugis. Kulinya kecoklatan karena lama hidup dan mengembara di lautan.
10. Tahun 1784, ketika perang Riau-Belanda berakhir dan Riau kalah dengan gugurnya Raja Haji Fidabilillah tahun 1784, di Teluk Ketapang, Melaka, dan Belanda datang ke Riau untuk memaksa Sultan Mahmud Riayat Syah menandatangani perjanjian kalah perang, maka terjadi pertempuran sengit. Raja Ali , pengganti Raja Haji, memimpin perlawanan. Belanda mengancam akan menyerang Ulu Riau ( ibukota kerajaan Riau) kalau Raja Ali dan orang Bugis tidak diperintahkan meninggalkan Riau. Demi menyelamatkan kerajaan, Raja Ali mengalah dan menyingkir ke luar Riau, menuju Siantan di Pulau Tujuh . Raja Hamidah yang ketika itu berusia 15 tahun dan ibunya serta saudara maranya yang lain, ikut menyingkir bersama Raja Ali. Mereka menerobos hujan peluru Belanda di tengah hujan lebat. Keluar melalui sungai Terusan , anak sungai Carang, menuju laut lepas.
11. Dari Siantan mereka ke Sukadana,Mempawah, Pontianak , ke Selangor dan mengembara ke seantero Laut Cina Selatan ( Laut Natuna Utara ) dan bahkan dikatakan sampai ke Tempasok, di Borneo Utara.
12. Selama pengembaraan yang hampir 17 tahun ( 1784-1801 ) itu mereka bertempur melawan Belanda yang memburu mereka . Mereka juga membajak kapal dagang Belanda dimana pun mereka bertemu. Selama pengembaraan inilah Raja Hamidah belajar berperang, belajar menjadi perempuan berani, tidak mengenal gentar dan menyerah. Dan hidup yang dikejar kejar musuh itu juga memupuk dendamnya dan kebenciannya pada Belanda yang telah menewaskan ayahnya dan membuat mereka kehilangan negeri dan kampung halaman dan tercerai berai sesama sanak saudara dan kerabat. Hudup lebih banyak di laut daripada di daratan.
13. Tahun 1801, Raja Hamidah kembali bersama sepupunya Raja Ali ke Riau. Raja Ali ingin menuntut kembali jabatannya sebagai YDM karena ketika itu , Riau , yang sejak 1795, menjadi negeri merdeka dan Belanda telah angkat kali dari Riau. Tidak ada laranyan lagi pihak pihak Bugis kembali ke Riau.
14. Raja Ali menetap di pulau Bayan, dan Raja Hamidah ikut menetap bersama ibu dan saudaranya yang lain.
15. Tahun 1801 Meletus perang saudara memperebutkan jabatan YDM antara Raja Ali dan pendukungnya dari pihak Bugis dengan Tengku Muda Muhammad dan pendukungnya dari pihak Melayu yang sejak tahun 1784 telah dilantik Sultan Mahmud Riayat Syah menjabat sebagai Raja Muda pengganti Raja Ali dan menetap di Tanjungpinang, mengisi kekosongan jabatan Yang Dipertuan Muda atau Wakil Sultan yang ditinggalkan pihak Bugis.
16. Tahun 1803, perang saudara berakhir, setelah ada perdamaian di pulau Bulang ( dekat pulau Batam ), atas perintah Sultan Mahmud Riayat Syah. Raja Ali dikembalikan jabatannya sebagai YDM , dan Tengku Muda Muhammad dikembalikan jabatannya sebagai Temenggung Johor dan Singapura, walaupun dia menolak dan tak mau dilantik.
17. Salah satu keputusan penting dalam perdamaian Bulang itu, adalah perintah Sultan Mahmud, agar Putera mahkota ( Tengku Besar ) kerajaan Riau yaitu Tengku Husin atau Tengku Long dinikahkan dengan Tengku Buntat, anak Tengku Muda Muhammad. Sementara Sultan Mahmud Riayat Syah akan menikahi Raja Hamidah.
18. Tahun 1803 Raja Hamidah menikah dengan Sultan Mahmud Riayat Syah di istana sementara Sultan Mahmud yang dibangun di Tanjung Unggat. Perkawinan meriah dengan pesta besar 7 hari 7 malam. Sedamgkan Tengku Husin menikah dengan Tengku Buntat di Istana Sultan Riau di Daik Lingga. Ketika itu ibukota kerajaan Riau sudah pindah ke Daik, Lingga. Perpindahan itu terjadi tahun 1787. Karena itu kerajaan Inipun selalu disebut sebagai : Kerjaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang.
19. Beberapa waktu setelah pernikahan itu, Sultan Mahmud Riayat Syah menghadiahkan pulau Penyengat Inderasakti kepada Raja Hamidah untuk menjadi tempat kediaman Raja Hamidah dan saudara mara dari pihak Bugis. Di pulau Penyengat di bangun istana untuk Raja Hamidah lengkap dengan parit dan kota ( benteng ) serta perkampungan untuk kediaman kerabatnya.
20. Sultan Mahmud Riayat Syah kemudian kembali ke Lingga, dan Raja Hamidah ikut bersama Sultan Mahmud pindah ke Lingga.
21. Karena Raja Hamidah adalah isteri yang gahara ( karena ayahnya dahulu adalah YDM ) maka kemudian dia diangkat sebagai Permaisuri utama kerajaan . sebelumnya Sultan Mahmud Riayat Syah sudah mempunyai dua isteri. Tapi bukan gahara.
22. Karena menjadi permaisuri, kemudian Raja Hamidah digelar Engku Puteri dan dia dipangil dengan nama kebesarannnya : Engku Puteri Raja Hamidah.
23. Engku Puteri Raja Hamidah, tidak mewariskan putera atau puteri. Dia pernah melahirkan seorang puteri , tetapi meninggal ketika masih kecil. Pernah hamil lagi, tetapi keguguran . Karena itu dia sangat menyangi anak- anak saudaranya, seperti Raja Abdul Rahman ( YDM VII ) anak Raja Jakfar ( YDM VI ) , Raja Ali Haji , anak adiknya Raja Ahmad , Raja Abdul Rahman anak adiknya Raja Idris, dll.
24. Beberapa tahun kemudian setelah jadi permaisuri , Engku Puteri Raja Hamidah diangkat oleh Sultan Mahmud Riayat Syah sebagai Raja Tua atau Penasehat Kerajaan, Pemangku Adat dan Pemegang Regelia Kerajaan , menggantikan Raja Tua Daeng Andak yang mengundurkan diri . Dengan jabatan ini, Engku Puteri Raja Hamidah mempunyai kekuasaan yang besar dan menentukan di bawah Sultan atau Yang Dipertuan Besar ( YDB ). Tak ada satupun keputusan pemerintahan , hukum dan adat istiadat yang dapat dibuat kecuali dengan persetujuan Engku Puteri Raja Hamidah. Sultan Mahmud pun mendengar apa yang dia katakan .
25. Tahun 1812, ketika Sultan Mahmud Riayat Syah wafat, Engku Puteri Raja Hamidah menolak usul YDM Raja Jakfar, agar yang menggantikan Suktan Mahmud adalah Tengku Abdul Rahman ( Tengku Jumat ) putera kedua Mahmud Riayat Syah. Menurut Engku Puteri , yang berhak atas tahta itu adalah Tengku Husin ( Tengku Long ), karena dia putra tertua dan Tengku Besar. Tetapi menurut adiknya YDM Raja Jakfar, ada wasiat dari Sultan Mahmud Riayat Syah yang ingin jika dia wafat, yang menggantikanya kelak adalah Tengku Abdul Rahman . Selain itu , ketika Sultan Mahmud Riayat Syah wafat, Tengku Husin tidak berada Lingga, tetapi di Pahang , di tempat mertuanya , Tun Ali. Sementara jenazah Sultan Mahmud Riayat Syah harus segera dimakamkan. Karena itu harus segara diputuskan siapa Sultan yang baru pengganti yang wafat untuk memenuhi adat : Raja mangkat, Raja yang memakamkan . Engku Puteri menolak dan tetap minta agar menunggu kedatangan Tengku Husin dari Pahang . Tetapi YDM Raja Jakfar menolak karena jenazah sultan sudah terlalu lama dibiarkan terbujur. Karena itu Sebagai YDM yang berhak atas pengangkatan seorang YDB , memutuskan untuk mengangkat Tengku Abdul Rahman sebagai Suktan atau YDB yang baru. Engku Puteri marah dan sebagai penasehat kerajaan , pemangku adat dan pemegang regelia kerajaan dia merasa dilangkahi dan tidak dihormati , karena itu dia menolak mengakui Tengku Abdul Rahman sebagai Sultan yang baru, karena dianggap melanggar adat dan istiadat . Maka pecahlah sengketa dan perseteruan kedua bersaudara , Engku Puteri Raja Hamidah fengan adiknya Raja Jakfar, Keturunan Raja Haji Fissabillah itu. Perseteruan yang panjang dan berdampak luas atas eksistensi kesultanan Riau lingga.
26. Engku Puteri Raja Hamidah tak mau menyerahkan Regelia kerajaan yang dipegangnya untuk penobatan Tengku Abdul Rahman sebagai Yang Dipertuan Besar. Sehingga penobatan Sultan Abdul Rahman dinilai tidak sah secara adat. Berkuasa tapi tidak Berdaulat . Daulatnya di pegang oleh Engku Puteri Raja Hamidah.
27. Tradisi dan adat istiadat berkerajaan di negeri melayu, menyatakan siapa yang memegang dan menguasai Regelia , dialah yang hakekatnya berdaulat. Jadi Engku Puteri Raja Hamidahlah yang memegang daukatnya . Apalagi dia permasuri , yang secara adat berhak menjadi pemangku sultan , bahkan suktan, apabika tidak ada pengganti yang sah menurut adat. Permaisuri dapat menjadi pemangku raja jika pengganti belum ada. Dia juga adalah Raja Tua, dan penasehat kerajaan . Jadi, meskipun tidak ditabal atau dilantik, dialah yang memegang jabatan sultan . Dialah Sultanah nya, seperti yang ada di negeri negeri lain yang rajanya adalah perempuan. Seperti di Aceh. Meskpiun belum pernah ada Sultanah di negeri Melayu.
28. Keputusan Engku Puteri yang memposisikan dirinya sebagai Sultanah memang ditentang oleh adiknya YDM RajaJakfar dan para pembesar kerajaan yang mendukungnya . Tapi Engku Puteri tidak perduli dan terus melawan , dan menjalankan kekuasaanya sebagai pemangku raja. Bagi dia mempertahan adat istiadat adalah sebuah perjuangan yang tak kalah penting. Apalah artinya negeri yang tidak beradat istiadat.
29. Sementara itu Engku Puteri terus berusaha untuk mengangkat Tengku Husin sebagai YDB , walaupun ditentang adiknya Raja Jakfar. Ketika Tengku Husin sampai di Lingga dari Pahang dan menuntut haknya atas tahta Sultan , hampir saja terjadi perang saudara . Jika saja Engku Puteri dan Temenggung Johor, Tun Abdul Rahman tidak mencegahnya. Engku Puteri ingin adat istiadat ditegakkan tapi dia juga tidak mau terjadi pertumpahan darah.
30. Tahun 1814, karena tekanan politik yang begitu kuat di Lingga, akhirnya Engku Puteri Raja Hamidah memutuskan kembali ke Penyengat dan membawa serta semua perangkat Regelia kerajaan itu ke pulau Penyengat. Dan dari pulau ini, dari istananya, dia terus mengedalikan jalannya pemerintahan melalui para pendukungnya, terutama dari pihak Melayu . Sementara Tengku Husin yang mulanya merajuk dan menyingkir ke Pahang, ikut Engku Puteri pindah ke Penyengat dan membangun istananya , di Kampung Bulang, Penyengat.
31. Tahun 1815, ketika Willuam Farquhar, Residen Inggeris di Melaka memberitahu bahwa Belanda akan mengambil kembali semua wilayah jajahannya dahulu yang semula dikuasai oleh Inggeris, termasuk Kerajaan Riau, dan menyarankan agar Kerajaan Riau menolak dan kalau perlu berperang, maka Engku Puteri Raja Hamidah sangat setuju dan mendukung perlawananan itu. Dia menugaskan anak tirinya Tengku Husin dan Temenggung Tun Abdul Rahman berunding dan membantu YDM Raja Jakfar menyiapkan perlawanan. Engku puteri juga memerintahkan para pengikut nya untuk membantu membangun kubu kubu dan benteng pertahanan di Tanjungpinang, di Penyengat , di Lingga dan daerah lainnya. Merekrut lasykar perang yang baru dan melatihnya . Pokoknya Belanda jangan sampai kembali ke Riau. Katena itu Riau siap berperang dan melawan Belanda.
32. Tapi tahun 1818 ketika Belanda datang ke Riau , ternyata tidk terjadi perang. Tidak sebutir peluru pun yang ditembakkan. Ternyata YDM Raja Jaafar sebelum itu telah bertemu dengan utusan Belanda, Adrean de Kock, yang datang secara diam-diam ke Tanjungpinang, dan mereka berdamai: Karena itu ketika Belanda datang kembali ke Tanjungpinang, tak ada perang dan mereka justru menandangani perjanjian damai. Di mana Hampir semua isi perjanjian kalah petang tahun 1784, dipakai ulang. Dan kerajaan Riau kembali menjadi negeri vassal Belanda, negeri pinjaman. Negeri akhazah.
33. Engku Puteri Raja Hamidah dan pihak Melayu sangat marah atas keputusan damai yang dibuat YDM Raja Jakfar. Pihak Melayu dengan pimpinanan Temenggung Tun Abdul Rahman memutuskan pindah dari pulau Bulang ke Singapura dan membangun perkampungan baru di Teluk Belanga, yang disebut Kampung Temenggung. Ikut pindah semua angkatan perang mereka yang selama ini sangat ditakuti Belanda. Engku Puteri sudah memutus sama sekali hubungan dengan adiknya Raja Jakfar. Perjanjian politik antara Riau dan Belanda tahun 1818i itu dianggap Engku Puteri Raja Hamidah sebagai bencana bagi Kerajaan Riau-Lingga karena samakin tenggelamn dalam cengkraman Belanda. Karena itu dia memutuskan menutup pintu dan niatnya untuk menyerahkan Regelia Kerajaan kepada Sultan Abdul Rahman. Dan Engku Puteri Raja Hamidah makin membenci Belanda yang dianggapnya telah membohongi dan menipu krrajaan Riau Lingga . Dia juga membenci adiknya YDM Raja Jakfar yang dianggapnya lebih mementingkan kepentingan pihak Bugis dan keturunannya daripada kepentlingan harkat dan martabat kerajaan Melayu Riau , Lingga, Johor dan Pahang.
34. Tahun 1819, Karena marah dan kecewa pada kelicikan Belanda dan kelemahan adiknya YDM Raja Jakfar dan YDB Abdul Rahman, maka Engku Putri Raja Hamidah mendukung rencana Temenggung Johor Tun Abdul Rahman yang ingin merajakan Tengku Husin untuk menjadikan Sultan di Singapura, dan Johor , berpisah dengan kerajaan Riau dan Lingga. Walaupun Engku Puteri tahu yang menyokong rencana Temenggung Tun Abdul Rahman itu, adalah Inggeris. Tapi dia setuju karena Tengku Husin adalah zuriat Mahmud Riauat Syah dan berhak atas wilayah kerajaan Riau, Lingga, Johor dan Pahang. Dan ini strategi lain Engku Puteri dalam melawan adiknya dan Belanda. Bahkan Engku Puteri setuju untuk menyerahkan regelia kerajaan itu kepada Tengku Husin untuk menabalkannya sebagai sultan. Engku Puteri sendiri akan menyerahkan regelia itu ke Singapura. Tetapi atas nasehat adiknya , Raja Ahmad, dan demi keutuhan dan kedaulatan Ketajaan Riau , Lingga, Johor dan Pahang, dia membatalkan rencananya itu. Disamping diapun masih belum percaya sepenuhnya kepada Inggeris . Penjajah di mana-mana dan siapapun pada hakekatnya sama saja : culas dan berhianat . Tengku Husin ditabal sebagai Sultan Singapura dan Johor ( Pahag tetap setia beraja ke Riau ) tanpa menggunakan regelia kerajaan .
35. Tapi Raja Hamidah sangat kecewa dan marah Inggeris dan anak tirinya Tengku Husin yang ingin mendapat kan Regelia Kerajaan itu dengan cara menyuapnya dengan 60 ribu ringgit spanyol yang dikirim melalui orang suruhan anak tirinya. Engku Puter merasa dihina dan direndahlan martabatnya dengan cara yang tidak terhormat otu: Dia perintahkan uang itu dibawa kembali ke Singapura.
36. Engku Putera Raja Hamidah memutuskan untuk tidak menyerahkan regelia Kerajaan itu Kepada kedua anak tirinya zuriat Sultan Mahmud Riayat Syah, dan tetap menyimpan pusaka itu di istana nya di Penyengat. Dia kembali berpikir untuk meujudkan kembali sebuah kerajaan baru yang berpusat d Penyengat Inderasakti atau membangkitkan kembali kerajaan Melayu Bintan yang pernah ujud sebelumna seperti saran para Pendukungnya.
37. Bintan dahulu adalah Kerajaan yang merdeka, tetapi kemudian tahun 1444, ditaklukkan oleh Melaka. Ketika Melaka runtuh, Bintan jadi wilayah taklukan Johor sebagai penerus Melaka. Ketika Johor runtuh digantikan Riau, Bintan jadi wilayah kekuasaan Riau, Lingga. Atau mendirikan kerajaan baru, yaitu Riau , berpusat di Ulu Riau, terpisah dari Lingga.,
38. Ura-ura inilah yang tercium oleh Belanda yang menyebabkan Belanda khawatir . Apalagi kemudian Sultan Abdul Rahman telah merajuk dan pergi ke Pahang dan Terengganu, dan mengancam tidak akan kembali ke Lingga , kecuali dia mendapatkan Regelia Kerajaan itu dan dinobatkan semula dengan menggunakan pusaka itu. Bahkan dia mengancam akan menyerahkan kerajaan Riau Lingga yang dikuasainya itu kepada Abangnya Sultan Husin Syah dan Inggeris. Kedua ancaman ini memaksa Belanda untuk bertindak dengan kekerasan untuk merebut Regelia Kerajaan itu.
39. Tahun 1820, Belanda mengirim pasukannya dipimpin oleh Gubernur Belanda di Melaka, Theymen Theyssen , di damping YDM Raja Jakfar, pergi ke Penyengat dan memaksa Engku Puteri untuk menyerahkan Regelia Kerajaan itu . Tetapi Engku Puteri menolak menyerahkan Pusaka itu, dan dia mencerca Gubernur Belanda itu dengan kata kata yang keras dan tajam, dan menuduh Gubernur Belanda itu tidak tahu adat istiadat negeri Melayu.
40. Karena Engku Puteri terus menolak, akhirnya Mayor Adrean de Kock menodongkan pistolnya ke kepala Engku Puteri dan Gubernur Theyssen memerintahkan serdadunya untuk merampas Regelia tersebut dan para serdadu Belanda itu, dengan senapang dan banyonet terhunus mendobrak pintu kamar tempat menyimpan pusaka itu. Lalu mengangkut peti peti itu dan membawanya ke kapal perang Belanda yang ada di dermaga pulau Prnyengat,
41. Para pengikut Engku Puteri hendak melawan serdadu Belanda, tapi telah dicegah oleh Engku Puteri karena tak ingin ada pertumpahan darah. Dan diac mengatakan biarkan saja Belanda Itu merampas pusaka itu, karena pusaka yang diambil secara paksa itu telah kehilangan tuah dan daulatnya. Telah jadi barang rongsokan. Dan siapun kelak yang menggunakan pusaka itu , akan ditimpa bala petaka.
42. Regelia yang dirampas itu dibawa ke Tanjungpinang dan disimpan di benteng Belanda Crown Prince, menunggu kedatangan Sultan Abdul Rahman yang ketika itu berada di Terengganu. Tapi Sultan Abdul Rahman yang mendengar Regelia itu telah diambil secara paksa , menolak untuk pulang. Belanda akhirnya mendesak YDM Raja Jakfar sendiri untuk menjemput Sultan Abdul Rahman pulang. Berbulan bulan lamanya Sultan Abdul Rahman dibujuk untuk pulang. Baru tahun 1822 dia pulang dan bersedia ditabal semula . Tapi penabalan itupun dilakukan di kantor Residen Belanda di Tanjungpinang. Itupun Sultan Abdul Rahman tidak mau mengenakan mahkota pusaka dan perangkat penobatan lainna yang menjadi bahagian dari Regelia Kerajaan itu. Dia hanya mau meletakan sebagian perangkat nobat itu di tanganya dan memegang pusaka itu. Musik pengiringnyacpun bukan musik dan lagu tradisi penobatan, tapi musik dan lagu Belanda: Selama penobatan Sultan Abdul Rahman telah menangis sejadi-jadinya.
43. Meskipun Regelia itu telah dirampas tapi Engku Puteri Raja Hamidah tetap dianggap sebagai pemimpin oleh pihak Melayu dan Bugis. Kepada dia semua para pemimpin kelompok Bugis dan Melayu mengadu dan meminta pendapat jika terjadi permasalahan diantara mereka. Seperti konflik antara Raja Idris , adik Engku Puteri dengan Kraeng Chandra Pully di Kampung Bugis.
44. Dengan dukungan pengikutnya itu, Engku Puteri terus melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan berbagai cara, terutama melalui para pendukungnya . Tahun 1823, sempat meletus pemberontakan yang dilakukan Arong Balewa dan Daeng Ronggek , pendukung setia Engku Puteri, pemimpin orang orang Bugis di Tanjungpinang, Penyengat dan Kampung Bugis. Arong Balewa yang baru saja menikahi kemanakan Engku Puteri, telah menyerang kediaman Residen Belanda di Tanjungpinang . Terjadi pertempuran antara pengikut Arong Balewa dengan serdadu Belanda. Kediaman Residen dan benteng Belanda telah dikepung oleh pengikut Arong Balewa. Dalam pertempuran yang berlangsung hampir dua minggu itu, Residen Belanda hampir tewas terkena tikaman senjata pengikut Arong Balewa , tapi bisa diselamatkan oleh para pengawalnya . Dan bersamaan dengan itu datang bantuan pasukan dan kapal perang Belanda dari Melaka. Pasukan Arong Balewa dipukul mundur. Mereka menyingkir ke Penyengat dan kemudian Engku Puteri menyuruh mereka menyingkir ke Singapura, berlindung di wilayah kekuasaan Temenggung Abdul Rahman dan Sultan Husin Syah. Belanda tak berani menggangu Arong Balewa dan pengikutnya di Singapura, karena Singapura dalam wilayahkekuasaan Inggeris.
45. Engku Puteri Raja Hamidah juga mendukung perlawanan adiknya Raja Idris dalam melawan Belanda dengan menjadi bajak laut , dan menyerang kapal kapal dagang Belanda. Pusat bajak laut itu di pulau Galang, sebuah pulau yang terletak antara Bintan, Batam dan Singapura. Kelak ketika Raja Idris wafat di Inderagiri, posisinya sebagai pemimpin bajak laut digantikan anaknya Raja Abdul Rahman, dan Engku Puteri tetap menjadi penyokong dan pelindungnya.
46. Tahun 1826, Engku Puteri Raja Hamidah membiayai perjalanan adiknya Raja Ahmad dan 11 kerabatnya, termasuk anak saudaranya, Raja Ali Haji , pergi naik haji ke Mekah. Engku Puteri minta adiknya itu mempelajari agama Islam di Mekah dan kelak kembali ke Riau mengajarkan kembali agama islam itu dan membangun pendidikan Islam , terutama agama Islam di Penyengat dan lingga. Bagi Engku Puteri perlawanan menentang penjajah Belanda bukan hanya melalui perang, tetapi melalui pendidikan dengan semangat jihat fisabilillah.
47. Meskipun perjuangan Engku Puteri Raja Hamidah melawan Belanda tidak serta menujukkan hasil yang langsung mengubah keadaan dan mengenyahkan Belanda dari Riau, tapi Belanda gerun karena para pengikutnya, terutama orang Bugis sangat menghormatinya. Gubernur Gubernur Jenderal Belanda di Batavia dikatakan telah mengirim surat kepada Engku Puteri dan minta maaf atas tindakan mereka yang kasar ketika merampas Regelia kerajaan. Mereka mengirim berbagai hadiah. Tapi Engku Puteri tirak pernah mempergunakan hadiah hadiah itu, dan meminta adiknya Raja Ahmad untuk menyimpan semua hadiah itu, dan Raja Ahmad telah membalas surat tersebut. Tapi sampai akhir hayatnya Engku Puteri Raja Hamidah tidak pernah menutup dendamnya pada Belanda.
48. Tahun 1831, Engku Puteri Raja Hamidah berdamai dengan adiknya YDM Raja Jakfar, karena adiknya itu jatuh sakit. Parah dan sebelum ajal, dia ingin bertemu dan minta maaf pada kakaknya. Raja Hamidah pergi ke Lingga . Itulah pertama kali dia kembali lagi ke Lingga setelah ditinggalkanya , tahun 1814. Dia memaafkan adiknya Raja Jakfar. Tak lama setelah pertemuan itu , Raja Jakfar wafat dan dimakamkan di Lingga. Tak lama kemudian , makam itu dipindahkan ke Penyengat.
49. Engku Puteri wafat tahun 1844, di Penyengat, karena sakit tua, beberapa hari setelah anak saudaranya , Raja Abdul Rahman, YDM VII, wafat. Mereka berdua sedang dalam proses penyelesaian pembangunan masjid Sultan di Penyengat.
50. Engku Puteri Raja Hamidah menentang Belanda sampai akhir hayatnya, meskipun dia tidak menembakkan sebutir peluru pada Belanda. Tapi sikap teguhnya menjunjung adat istiradat , menegakkan harkat dan martabat kerajaan Riau, sebagai bangsa yang merdeka, menyebabkan Belanda dan Inggeris , gerun dan hormat padanya. Pengaruhnya yang besar pada para pengikut dan pendudukungnya, baik pihak Melayu maupun Bugis , serta kata katanya yang didengar dan dipatuhi para pengikutnya menyamai kata dan titah Sultan, membuat Belanda dan Inggeris, tidak berani mencerobohi kerajaan Riau Lingga, dan memperhitungkanya sebagai lawan politik yang tangguh. Engku Puteri Raja Hamidah , Perempuan yang melawan dengan kata-kata. Perempuan yang menegakkan harkat dan martabat orang Melayu-Bugis sebagai bangsa yang merdeka.
