Pendahuluan
Secara etimologis, toponimi merupakan Bahasa Yunani yang berasal dari kata topos yang berarti tempat dan nimi dari onoma yang berarti nama. Berdasarkan kajian folklore (cerita rakyat), toponimi merupakan bagian dari Ilmu Onomastika (onomastics). Ilmu tersebut mengkaji sejarah (asal-usul) nama tempat dan nama-nama lain. Asal-usul nama mempresentasikan keadaan semula tempat tersebut, yang memuat informasi tentang aspek geografi, ekologi sosial, dan kultural yang terkait dengan keadaan tempat semula.Istilah yang selama ini lebih banyak dikenal dalam dunia geografi, terutama untuk menandai bentuk-bentuk rupabumi dalam bentang alam. Identitas masyarakat yang menempati wilayah tertentu. Menulis Toponim asal usul nama lokasi dari perspektif sejarah nerupakan kajian yag berharga untuk memperkaya keindonesiaan. Tulisan ini mengungkap toponimi beberapa daerah di Anambas
Toponimi Pulau Jemaja
Berdasarkan hasil wawancara dengan Narasumber, Asal nama Pulau Jemaja terdapat dua versi. Versi pertama, menyebutkan bahwa Jemaja berasal dari kata Jemaah raja-raja. Raja yang dimaksud bukan raja berdaulat atau orang yang memerintah sebuah kerajaan. Namun Raja yang dimaskud adalah orang-orang yang disegani dan orang-orang kuat yang dianggap masyarakat di daerah Jemaja. Pada zaman dahulu Pulau ini dijadikan tempat bermusyawarah/berdiskusi para “Raja-Raja” apabila ada masalah yang terjadi. Salah satunya masalah para Lanun sering menjarah masyarakat setempat sehingga dicari jalan keluar di tempat tersebut. Versi kedua Jemaja berasal dari kata “Jam Raja”, namun Narasumber lebih mendukung versi pertama bahwa Nama Jemaja berasal dari kata “Jemaah Raja-Raja”. Sampai sekarang nama Jemaja masih dipakai oleh masyarakat.
Toponimi Pulau Munjan
Digugusan Kepulauan Anambas tepatnya dikecamatan Siantan Timur berjejerlah pulau-pulau yang alamnya indah nan asri, pulau yang amatlah indah dan penuh dengan ketenangan. Ketika berjalan-jalan hanyalah terdapat suara kera dan tupai yang memanjat pohon antara satu kepohon yang lain, antara ranting satu keranting lainnya, bila malam tiba tak terdengar suara musik dan lagu. Melainkan hanya terdengar suara gulungan ombak dimalam hari, suara lambaian daun yang tertiup oleh angin kencang, dan suara kicauan burung. Dari sebanyak pulau yang terdapat di Anambas terdapat sebuah pulau yaitu pulau Munjan. Sebuah pulau yang terletak sangat strategis, karena dikelilingi pulau –pulau kecil yang lainnya. Salah satunya terletak disebuah pulau yang namanya pulau memperuk disebelah barat mata angin yang berhadapan dengan pulau batu hitam, pulau uruk-uruk, dan pengelat.
Konon cerita orang-orang terdahulu nama Munjan berasal dari tiga kata yaitu HARI-MAU-HUJAN yang disingkat menjadi Munjan. Dahulunya, munjan merupakan pulau yang penduduknya lebih banyak penduduk pulau penyat dan pulau memperuk. Dulunya, kampung MUNJAN yang penduduknya tidak ada yang tinggal di dataran laut dan pesisir pantai, melainkan tinggal digunung munjan dan bermata pencaharian sebagai petani. Karena, dulu belum ada transportasi berupa speedboad, dan pompong seperti saat ini, namun pada waktu dulu kebanyakan cuma ada sampan laut atau yang sering disebut dengan jongkong. Munjan memiliki sejarah mengenai orang-orang terdahulu serta kehidupan orang pada zaman dahulu. Namun, satu sejarah yang diceritakan oleh bapak TARMIZAN tokoh masyarakat desa munjan, Munjan sampai sekarang sejarah itu dikenang oleh masyarakat dan ditelusuri oleh masyarakat. Berdasarkan, kehidupan orang –orang terdahulu. Nama dan sejarah ini muncul dari tiga bersaudaraya itu bernama wan BUN, wan BIJAN, dan wan BERAS. Sejarah Munjan berawal dari peristiwa ketiga saudara tersebut, dan cerita ini dikutip dari orang dahulu dan diceritakan kepada keturunannya. Sejarah ini selalu dijadikan sejarah yang harmonis.
Pada suatu hari ketiga saudara tersebut wan BIJAN, wan BUN, dan wan BERAS. Mereka sedang bermain-main diatas batu besar yang berada di Gunung Munjan dan ketika itu hari mau hujan, disaat hujan mau turun mereka ingin pulang ke rumah. wan BERAS dan wan BIJAN pulang kerumah, sedangkan wan BUN tidak pulang kerumah bersama mereka. wan BIJAN dan wan BERAS keluar dari rumah untuk mencari wan BUN. Namun, mereka tak menemukan wan BUN yang menghilang dari hadapan mereka. wan BIJAN dan wan BERAS terus mencari.. tapi, merekapun tak menemukan keberadaan wan BUN yang entah kemana keberadaannya, akhirnya mereka pun sudahi pencarian wan BUN, dan mereka beranjak untuk pulang ke rumah karena hari semakin gelap, dan awan hitam telah mulai menutupi langit yang cerah siang berganti ke malam. Tapi, mereka tetap tak menemukan keberadaan wan BUN. Mereka akhirnya pulang k erumah tanpa menemukan dan membawa wan BUN.
Pada saat hujan turun wan BUN pun masih menghilang dari hadapan kedua saudaranya entah kemana ia pergi setelah kedua saudaranya tiba dirumah. Mereka ditanya “dimana wan BUN berada, kenapa ia ngak pulang bersama kalian?”. Mereka menundukkan kepala dan menjawab “kami tak tau, tiba-tiba wan BUN telah menghilang dari hadapan kami tak tau kemana arahnya, kami bertiga bermain diatas batu besar disaat itu hari mau hujan tiba –tiba ia menghilang dari hadapan kami”. setelah wan BIJAN dan wan BERAS menjelaskan mereka menunggu lama kepulangan wan BUN, tiba-tiba datanglah masyarakat memberitahu tentang keberadaan wan BUN. Masyarakat tersebut mengabarkan bahwa, wan BUN tidak akan kembali dan wan BUN berada di Gunung Munjan diatas batu besar yang di dalamnya berbentuk gua besar dan luas di dalamnya .
Sampai sekarang wan BUN tak kembali kerumah dan tetap dibatu besar digunung munjan dengan menghilangnya wan BUN diatas batu besar pada waktu itu harimau hujan maka, batu itu diberi nama munjan yang singkatan dari kata HARI-MAU-HUJAN, dan diabadikan menjadi sebuah nama kampung munjan. sedangkan, wan BUN berada digunung munjan Yang dikenal dengan nama TOKONG SETIE. Nama tokong setie berkaitan dengan kehidupan antara keturunan wan BUN dialam ghoib, wan BERAS dan wan BIJAN dialam nyata bahkan, sampai sekarang wan BUN berada di Gunung Munjan .
Walaupun, tak disadari masyarakat kalau wan BUN tetap berada disekeliling mereka dalam keadaan Ghoib. tetapi, wan BUN selalu membuat dirinya seperti masyarakat yang lain berada dialam nyata. Setiap hari wan BUN selalu menawari jualannya kepada masyarakat lain. Namun, tanpa disadari oleh masyarakat kalau wan BUN itu ada. Setiap hari masyrakat munjan ketika membuka pintu mereka melihat serai tergantung di depan pintu rumah mereka, dan diisi dalam gembut ke kebun. Mereka mulai bertanya dan dengan penuh keheranan “darimanakah ini, siapakah yang mengantar?”. Mereka tak tahu kalau itu wan BUN yang meletakkan ke depan pintu rumah mereka. Setelah hari berlalu setelah salah satu masyarakat yang mengetahui tentang itu menyebut kalau yang suka meletakkan serai ke depan pintu rumah mereka itu ialah wan BUN.
Pada zaman dulu masyarakat Munjan tinggal dipondok yang kecil yang berada digunung munjan dan sekitarnya. Berapa malam yang terlarut dengan kesunyian mereka mendengar suara alat musik daerah sepeti gendang yang dalam menurut bahasa munjan “gamboh” itu terdengar dari arah batu tokong setie yang berada digunung munjan. Batu tokong setie ialah tempat orang dahulu suka meminjam dan memakai peralatan seperti piring, gelas, dan lain-lain. Biasanya dipakai untuk acara pernikahan dan acara kenduri keluarga besar. Tetapi, sekarang tidak ada lagi masyarakat yang meminjam dan memakai peralatan pernikahan dibatu tokong setie, hal ini dikarenakan seringnya peralatan yang telah dipinjam dikembalikan dalam kondisi rusak dan hilang.
Masyarakat menganggap tokong setie ialah batu yang sangat mengandung sejarah, dan berpengaruh. Batu tokong setie dikelilingi batu –batu besar, dan perjalanan menuju ke batu tokong setie cukup lumayan jauh. Batu munjan berada disamping jalan umum dusun1 RT.002.RW.002 munjan diantara rumah bapak Sukatin dan bapak Jasmadi. Sedangkan, wan BUN berada di Gunung Munjan yang disebut batu tokong setie. Dan batu yang berada diatas Gunung Munjan diberi nama batu tokong setie, dan diabadikan sampai hayat ini selama-lamanya.
Toponimi Desa Tebang
Sekitar 1.5 abad yang lalu di bagian wilayah Pulau Matak yang saat ini Desa Tebang hiduplah satu keluarga besar di wilayah tersebut yaitu tanjung hantu. Keluarga tersebut terdiri : Datuk haji ( ayah ), sri melur ( ibu ) kundur ( anak laki2 ) putri lembayung ( anak perempuan ), datuk maninjau ( paman ) , dan datuk paman ( paman ) yang hidup di Tanjung Hantu. Pada suatu masa ada segerombolan lanun yang berada di Pulau Pangiran ( saat ini Pulau Belibak ). Lanon tersebut hendak pergi ke Tanjung Hantu dengan tujuan untuk menguasai Tanjung Hantu sekaligus melamar anak datuk haji yaitu “putri lembayung”.
Sekelompok lanun tersebut langsung datang ke Tanjung Hantu Tanjung Hantu dengan menggunakan “ jelu atau sekoci “. Pada saat perjalanan ke Tanjung Hantu, dari ketinggian datuk maninjau melihat jelu lanun yang hendak menuju ke Tanjung Hantu. Datuk maninjau langsung memberitahukan kepada datuk haji mengenai kedatangan lanun tersebut. Setelah jelu lanun terdampar di pantai Tanjung Hantu langsung disambut oleh datuk haji ( ayah putri lembayung ) , ketua lanun langsung menemui datuk haji untuk melamar putrinya “ putri lembayung” dengan kehawatiran yang tinggi dan perbedaan peradaban kehidupan datuk haji tidak setuju putrinya dilamar oleh lanun. Ketua lanun sangat berharap kepada datuk haji agar lamarannya diterima hingga akan memberikan Pulau Pangiran ( belibak ) sebagai mas kawinnya, namun tetap saja datuk haji dan istrinya sri melur tetap tidak menerimanya
Keputusan akhir dari pihak lanun melakukan sayembara tentang lamarannya yaitu dengan menebang batu di di Tanjung Hantu “ jika batu tersebut berhasil ditebang mereka, maka putri lemabayung akan menjadi milik lanun, sekaligus tanjung hantu akan di kuasai mereka namun jika tidak berhasil mereka menebang batu tersebut, Tanjung Hantu tetap dibawah kekuasaan datuk haji begitu juga putri lembayung tidak jadi dipinang oleh lanun
Proses penebangan batu tsb disaksikan oleh dua belah pihak, langsung saja lanun mengayungkan pedangnya untuk menebang batu tersebut. Satu kali tebang sudah hampir putus tetapi untuk melanjutkankan membalas alur tebangan tersebut tiba-tiba terdengar suara binatang tokek. Rupanya lanon tersebut takut terhadap binantang tokek dan memutuskan untuk membatalkan sayembara penebangan batu tadi, Oleh karena lanun membatalkan sayembara penebangan batu tersebut maka putri lembayung tidak jadi dipinang oleh lanun dan status Tanjung Hantu juga tidak jadi dikuasai oleh mereka. Sebelum lanun itu pergi dari Tanjung Hantu dia berkata ( berserapah )” aku tidak jadi meminang putri lembayung, dan Tanjung Hantu aku rubah menjadi “ Tanjung Tebang musuh” selain berkata-kath dengan marah dia menyumpah keluarga datuk haji. Akibat sumpahnya tersebut “putri melur menjadi batu dengan posisi telungkup”. Saat ini berada di dalam air yang tidak jauh dari batu tebang musuh sebelah selatan. Dan datuk haji menjadi sebuah sumur air ( saat ini menjadi sumber air bersih bagi masy tebang ) dan air tersebut tidak pernah kering walaupun musim kemarau, dan datuk kundur ( pamannya putri lembayung) menjadi gunung yang terbentang di atas Desa Tebang. Saat ini menjadi tempat bercocok tanam masyarakat Tebang dan datuk maninjau juga menjadi gunung yang saat ini berada di kawasan desa candi. Demikian juga, datuk paman menjadi gunung yang berada di bukit Gunung Kundur antara candi dan tebang saat ini.
Dan putri lembayung sendiri sampai saat ini tidak bisa diketahui ( bahasa daerah tebang menyebut” gaib” ) tidak berbentuk batu,sumber air,jalan,tanjung atau lainnya. Namun demikian, kawasan lembayung sendiri dari perbatasan candi-tebang sampai ke kawsan Tanjung Tebang musuh itu disebut kawasan lembayung. Selanjutnya sebelum pulang, setelah lanun tersebut menyumpah keluarga datuk haji dia juga meletakan sumpah ( berjanji ) kepada dirinya sendiri yaitu “sebelum bersatunya Pulau Mantang kecil dan Mantang besar mereka tidak akan pernah ke Tanjung hantu lagi ( Desa Tebang )”
Penutup
Sebagai negara kepulauan, kajian tentang penamaan wilayah rupabumi merupakan kebutuhan yang sangat diperlukan. Tidak saja bentang alam Indonesia berbeda-beda, nama-nama bentang alam itu juga beragam sesuai dengan latar belakang sosial budaya masyarakat. Toponim yang berdasar pada asal usul nama wilayah yang bersumber dari pengetahuan masyarakat dapat menjadi penguat akar historis dari kesadaran kewilayahan Indonesia. (Anastasia Wiwik Swastiwi).
