(Bagian 1)
oleh: Datok Rida K Liamsi (Budayawan/Sejarawan Kepulauan Riau)
Kepulauan Riau memang agak terlambat menerima informasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia , yang dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945 , di Jakarta. Secara terbatas informasi ini baru diterima di Tanjungpinang, tanggal 21 Agustus 1945 ( sejarah Riau, Mukhtar Luthfi, dkk , 1977 ) dan kemudian disebarkan secara berbisik bisik, sambung menyambung. Dan sampai akhir tahun 1945 pun belum seluruh Kepri menerima kabar Kemerdekaan itu secara jelas. Masih simpang siur. Karena itu, suasana kehidupan sehari hari di Kepulauan Riau , khusysnya Tanjungpinang , masih tegang dan saling curiga. Apalagi pada masa bersamaan tentera sekutu masuk ke Indonesia, termasuk ke Kepulauan Riau dimana tentera Belanda membonceng di belakangnya. NICA: Sehingga terus bermunculan berbagai issu . Siapa yang berkuasa ? Apakah Jepang sudah angkat kaki ? Apakah Belanda kembali ? Apakah tentera Cina Koumintang yang mengambil alih ?
Lambatnya informasi kemerdekaan RI itu sampai ke Kepri , antara lain memang karena faktor hubungan antara Tanjungpinang dengan Jakarta sangat sulit dan jauh. Walaupun sejak tahun 1913 Kepri sudah sepenuhnya dikuasai penjajah Belanda, dan pusat pemerintahan Belanda ada di Batavia ( Jakarta setelah Indonesia merdeka ) , tetapi semua informasi lebih dekat dan cepat diterima dari Singapura dan Melaka, dimana Gubernur Belanda berada.
Kondisi demikian memang sudah sejak lama. Paling tidak sejak Belanda bercokol di Melaka, tahun 1641. Sejak penguasa Belanda di Melaka dipegang seorang Gubernur. Dan semua urusan administrasi dan perdagangan dengan kawasan semenanjung Melaka , diatur dan diurus Gubernur Melaka. Gubernur Jenderal Belanda di Batavia atau Jakarta hanya untuk hal -hal stategis dan penting.
Demikian juga dengan Singapura. Paling tidak sejak tahun 1811, ketika Temenggung Johor dan Singapura, Tun Abdul Rahman memindahkan pusat kedudukannya dari Pulau Bulang ( dì sekitar Batam ) ke Singapura. . Temengung Abdul Rahman telah membangun sebuah kampung di sekitar muara sungai Singapura, dan menamakan kampungnya sebagai Kampung Temenggung. Semenjak itu, penduduk kerajaan Riau Lingga ( penerus kerajaan Johor 1528-1719 ) terutama dari puak melayu sudah pulang pergi dari Riau ke Singapura . Sementara singapura sudah mulai berkembang sebagai bandar dagang dan pangkalan angkatan perang kerajaan Riau Lungga dibawah kuasa Temenggujng dan juga sebagai sarang bajak laut yang mengharu biru Selat Melaka dan sekitarnya. Hubungan itu semakin ramai dan strategis, ketika tahun 1818, Temenggung memindahkan semua kaum kerabatnya dari pulau Bulsngv ke Singapura , dan mulai merencanakan memisahkan diri dari Kekuasaan Sultan Riau Lingga yang berpusat di Daik , Lingga.
Rencana pemisahan diri dan pemindahan pusat pemukiman itu karena Temenggung dan pengikutnya dari pihak Melayu merasa kecewa dengan sikap politik Penguasa Riau Lingga ketika itu, yaitu Sultan ( Yang Dipertuan Besar ) Abdul Rahman Muazzam Syah I ( 1812-1831) dan Yang Dipertuan Muda Raja Jakfar ( 1808-1832 ) yang menyerah dan mengalah begitu kepada Belanda yang datang kembali ke Riau tahun 1818, tanpa perlawanan sama dekali. Padahal sebelumnya dalam rapat bersama oara pembesar kerajaan , termasuk Temenggung , Riau Lingga sudah siap berperang. Sudah membangun kubu, benteng dan sarang meriam. Tapi karena kalah diplomasi politik, mereka terperangkap dalam tipu daya Belanda, dan dipaksa menandatangani kontrak politik dengan Belanda, kontrak Politik tahun 1818, dimana kesultanan Riau justru takluk dan menjadi negeri vazzal atau negeri pinjaman Belanda. Kehilangan kedaulatan.
Tahun 1819, Temenggung dan para pengikutnya jatuh dalam pengaruh Inggeris, dan mengizinkan Inggeris membangun loji dagang di Singapura , asalkan Inggeris bersedia merajakan dan melantik Tengku Husin menjadi Sultan Singapura. Dan Inggeris bersedia. Tengku Husin pun filantik jadi Sultan Sngapura dan Johor. Setelah itu Singapyra berkembang pesat sebagai bandar dagang, memgalahkan Melaka dan Tanjungpinang yang dikuasai Belanda.
Semenjak itu pula hubungan Kepri dan Singapura pun makin rapat , terutama bagi pihak Melayu dan mengancam hubungan Kepri dengan Belanda. Para pembesar kesultanan Riau bermanuver dan membangun perlawanan politik melalui Singapura. Seperti yang dilakukan Sultan Mahmud Muzaffar Syah ( 1834-1857 ) dan sultan terakhir Riau Lingga, Abdul Rahman Muazzam Syah II ( 1885-1911 ) , Bahkan Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah, ketika dimakzulkan oleh Belanda telah menyingkir dan memindahkan semua keluarga dan kerabatnya ke Singapura dan melakukan perlawanan politik dari sana.
Tahun 1942, ketika Jepang menaklukkan Asia , dan Kepulauan Riau ( eks Kesultanan Riau Lingga ) jatuh ke tangan Jepang, pusat pemerintahan Jepang juga berada di Singapura. Di Tanjungpinang hanya ditempatkan wakilnya.
Tahun 1945, ketika Jepang jatuh dan Belanda kembali berkuasa dengan bantuan pihak sekutu, pusat pemerintahan Belanda juga di singapura. Baru tahun 1946, pindah ke Tajungpinang. Begitulah kedudukan strategis Singapura dalam konteks Kepri sebagai eks Kesultanan Riau , sebuah wilayah penting di Selat Melaka.
Meskipun agak terlambat , semangat perjuangan untuk menjadi bangsa dan negara yang merdeka dan lepas dari tangan penjajahan tetap bergelora dan cepat berkembang. Begitu kabar Proklamasi kemerdekaan sudah dideklarasikan maka semua elemen madyarakat, bergerak dan melakukan berbagai kegiatan untuk meujudkan suasana kemerdekaan itu di Kepri.
Ketika itu Jepang masih bercokol di Kepri. Tokoh tokoh pejuang , Pemuda dan cerdik pandai Kepri segera bergerak dan mendirikan organisasi perjuangan . Apa lagi setelah Jepang angkat kaki, dan Sekutu masuk ke Kepri dan Belanda ikut datang dengan NICA nya . Ikut serta pula tentera China Komintang. Sikap China Komintang sangat Jemawa dan tidak memandang sebelah mata pada penduduk pribumi . **
