Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau dikenal sebagai salahsatu kota industri utama di tanah air. Letak geografisnya dekat dengan negara tetangga: Singapura dan Malaysia, dan negara tetangga lainnya. Hal yang menarik adalah pada masa lampau sejak abad ke-18 hingga pertengahan tahun 1950-an, wilayah yang ramai di Kepulauan Batam terletak di daerah yang saat ini dikenal pesisir Batam, seperti daerah Kecamatan Galang, Bulang, dan Kecamatan Belakangpadang.

Peninggalan sejarah di Pulau Boyan, Batam. Foto: Disparbud Batam

Belanda pernah menempatkan administrasi pemerintahan level onderafdeling (selevel kewedanaan) di Kepulauan Batam. Lokasinya di Pulau Boyan yang saat ini masuk dalam wilayah Kelurahan Pulau Buluh, Kecamatan Bulang. Jaraknya hanya sekitar 10 menit naik perahu dari Pulau Buluh. Saat ini, pulau ini hanya dihuni oleh kurang dari 12 kepala keluarga. Sebagian besar adalah masyarakat suku laut dan etnik Melayu.

Asal-usul Nama Boyan

Nama Boyan mengundang beragam tafsir. Ada yang mengaitkannya dengan burung bayan, sejenis nuri yang dulunya banyak ditemukan di wilayah ini. Versi lain menyebut istilah itu berasal dari kata Boyan, yang merupakan pelafalan populer untuk menyebut orang Bawean di Malaysia dan Singapura. Ada pula yang meyakini bahwa kata itu berasal dari kata bujang, sebutan untuk pemuda yang belum menikah.

Pusat Pemerintahan Hindia Belanda di Batam

Pada tahun 1868, pemerintah kolonial Hindia Belanda secara resmi menempatkan pegawai Eropa di beberapa titik strategis di Kepulauan Riau, termasuk Batam. Berdasarkan Staatsblad (Lembaran Negara) No. 70 tahun itu, Batam dijadikan sebuah Onderaffdeeling (wilayah administratif) di bawah Afdeeling Tanjungpinang, dan Pulau Boyan dipilih sebagai pusat pemerintahannya. Di pulau ini berdiri kantor controleur (pengawas kolonial), penjara, pos militer, dan infrastruktur pendukung lainnya. Singkatnya, Boyan menjadi jantung pemerintahan kolonial untuk kawasan Batam dan sekitarnya.

Namun masa kejayaan itu tak berlangsung lama. Tahun 1906, wilayah Kepulauan Batam langsung dibawah kendali Kontroleur Belanda di Tanjungpinang. Aparatur pemerintahan dipindahkan dari Pulau Boyan. Administrasi pemerintahan kesultanan Riau Lingga wilayah Kepulauan Batam dipusatkan di Pulau Buluh. Sejak saat itu, aktivitas di Pulau Boyan mulai menurun. Infrastruktur yang dahulu sibuk perlahan ditinggalkan. Pulau ini berubah menjadi tempat yang sepi, bahkan nyaris terlupakan dalam peta sejarah Batam modern.

Sisa-sisa kejayaan masa lalu masih bisa ditemukan di Pulau Boyan: reruntuhan penjara tua, meriam karatan, jalan kolonial, hingga terowongan peninggalan Belanda. Sayangnya, tidak banyak upaya nyata untuk melestarikannya. Padahal, pulau ini menyimpan potensi besar sebagai situs wisata sejarah dan edukasi budaya di Batam.

Disisi lain, sejarah pemerintahan lokal di Batam berawal dari penunjukan Raja Isa sebagai wakil Sultan di wilayah Nongsa dan sekitarnya pada 18 Desember 1829. Setelah wafatnya Raja Isa pada 1831, wilayah administrasi ini berkembang dengan batas-batas yang lebih jelas, mencakup seluruh Kepulauan Batam. Menurut laporan J.G. Schot (1882), saat itu Batam terbagi menjadi tiga wilayah administratif bernama wakilschap, yang berada di bawah kendali Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Muhammad Yusuf. Ketiga wilayah itu meliputi: Wakilschap Nongsa di utara Pulau Batam, dipimpin Raja Yakup bin Raja Isa dan putranya Raja Mohammad Caleh; Wakilschap Pulau Buluh yang mencakup Pulau Buluh, Belakang Padang, dan sebagian Batam, di bawah Raja Usman; serta Wakilschap Sulit, yang meliputi pulau-pulau kecil seperti Cembul, Kepala Jeri, dan Kasu.

Namun, sistem wakilschap ini tidak bertahan selamanya. Pada tahun 1895, struktur tersebut dibubarkan dan digantikan oleh sistem Keamiran, yakni Keamiran Pulau Buluh dan Keamiran Nongsa. Perubahan ini mencerminkan dinamika administrasi yang mengikuti kepentingan kolonial Hindia Belanda dalam mengelola wilayah strategis di perairan Riau. Meskipun kini nama-nama seperti Wakilschap Sulit atau Raja Yakup jarang terdengar, mereka merupakan bagian penting dari sejarah lokal Batam—membentuk fondasi awal tata kelola wilayah yang kelak berkembang menjadi kota modern dengan akar sejarah yang kuat. (Dedi Arman).

Tinggalkan Balasan