oleh:

Aswandi Syahri (Makalah disampaikan dalam Seminar Seminar Internasional Rusydiah Club Perkumpulan Cendekiawan Melayu dan Inspirasinya. Diselenggarakan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepulauan Riau bekerjasama dengan Yayasan Amanah Warisan Bintan dan Universitas Maritim Raja Ali Haji di Gedung Satu GurindamUMRAH-Dompak, 8 September 2015

Pendahuluan
Sejauh yang dapat telusuri, nama Rusjdiyah (Club) [selanjutnya disingkat RC], untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh sejarawan William R. Roff dalam bukunya yang sangat terkenal, The Origin of Malay Nationalism, pada tahun 1967. Namun demikian, harus diakui, bahwa sesungguhnya nama dan sejarah perkumpulan cendekiawan Kerajaan Riau-Lingga ini semakin mengemuka di kalangan akademis sejak diperkenalkan oleh Muchtar Lutfi dan kawan-kawan melalui sebuah laporan penelitian yang mereka beri judul, Rusydiah Club Hasil Suatu Penelitian, pada tahun 1976. Dengan kata lain, setelah penelitian Muchtar Luffi dan kawan-kawan inilah sejarah dan kiprah perkumpulan cendekiawan di Kerajaan Riau-Lingga ini mulai menarik perhatian banyak pakar pengkaji sejarah, sastra, dan kebudayaan Melayu di rantau ini.

Sebagai ilustrasi, beberapa hasil penelitian yang penting (dalam bentuk artikel
hingga disertasi) sejarah atau aspek tertentu dari RC yang muncul setelah laporan Muchtar
Lutfi diterbitkan oleh Universitas Riau pada tahun 1976, antara lain adalah: Kelab
Rusydiah Perkeumpulan Cendekiawan Melayu Riau (Abu Hassan Sham, 1979); Rusydiah
Kelab dan Taman Penghiburan (Abu Hassan Sham, 1983); Taman Penghiburan:
Entertaiment and the Riau Elite in the Late 19th Century (Timothy P. Barnard, 1994); dan
yang terbaru, The Role of The Rushdiah Club In The Cultural Transformattion of Malay
Societies During The Late 19th to Early 20th Century (Wiwin Oktasari, 2012).

Sejak tahun 1976 hingga kini (sekitar 49 tahun lamanya) laporan Muchtar Lutfi
tentang RC dipandang sebagai sebuah sumber yang otoritatif, dan dirujuk nyaris tanpa
kritik sumber oleh peneliti-peneliti setelahnya, baik secara langsung atau tidak.. Padahal
banyak narasi sejarah RC yang dibangun Muchtar Lutfi harus ditulis ulang. Dan sejatinya,
penulisan sejarah yang baik mestilah menghadirkan kebaruan-kebaruan informasi dan
temuan yang didukung bukti yang otentik. Sebagai contoh, apakah benar RC punya
aktifitas dalam bidang ekonomi sebagaimana dijelaskan oleh Muchtar Lutfi dalam laporan
pelitiannya tentang RC? Apakah benar Ahmadi Co (Serikat Dagang Ahmadi di Pulau
Midai) adalah bagian dari aktifitas Ekonomi RC? Padahal tidak ada satupun arsip Ahmadi
Co dan tulisan mutakhir tentang Ahmadi Co dan jaringan bisnisnya yang menyebutkan ada
keterlibatan RC di dalamnya.


Sejak awal, persoalan bahan sumber primer dalam penulisan sejarah RC ini
tampaknya telah menjadi sebuah masalah pelik dan sulit. Dan terkait hal ini, U.U. Hamidy
terkesan pasrah ketika kesulitan menjelaskan aspek organisasi RC dalam sebuah
tulisannya: “Mendengar nama Rusydiah Klab tidak sepenuhnya dapat kita bayangkan
sebagai suatu organisasi yang kita kenal saat ini, karena data-data dan keterangan
mengenai keorganisasiannya amat tidak memadai untuk memberikan gambaran sebagai
sebuah organisasi dalam arti yang utuh: Karena itu Rusydiah Klab akan lebih banyak
memperlihatkan dirinya, bukan dalam formalitasnya tetapi dalam kwalitasnya. Bahkan,
hinggs kini, belum ada kepastian tentang tarikh RC didirika. Belum ada penjelasan
munasabah yang didukung oleh bukti.
Beberapa ilustrasi diatas adalah sedikit dari banyak masalah yang belum tuntas
dalam penulisan sejarah RC, dan semua itu berpunca dari langkanya bahan arsip RC.
Sejauh pengalaman saya dalam mempelajari sejarah Kerajaan Riau-Lingga dengan
memanfaatkan bahan arsip yang tersimpan di ANRI-Jakarta, Arkib Negara Malaysia,
National Archive of Singapore, hingga Het Nationaal Archief di Negeri Belanda, belum
pernah menemukan selembar arsip RC dalam simpanan Lembaga-lebaga tersebut.
Namun demikian, bukan berarti arsip RC tidak ada sama sekali. Selama penelitian
dan digitalisasi manuskrip dan arsip dalam proyek bertajuk Riau manuscripts: the gateway
to the Malay intellectual world yang didukung oleh progma EAP-British Library tahun
2009-2010, saya dan Prof. Jan van der Putten menemukan sejumlah arsip RC dalam
simpanan masyarakat di Lingga dan Tanjungpinang.
Tulisan ini bermaksud meninjau kembali RC dengan memanfaatkan bahan arsip
RC, berupa surat-surat dan bahan arsip lain yang ada kaitan dengan RC. Mengapa hal ini
perlu dilakukan? Pertama, persoalan paling mustahak dalam historiografi RC sejak mulai
ditulis tahun pada 1976 hingga kini adalah tidak digunakannya bahan sumber primer
berupa arsip Rusjdiayah (Club) [kecuali buklet Taman Penghiburan] dalam penulisan
sejarahnya.10
Terkait masalah bahan sumber primer dalam penulisan sejarah RC ini, Timmothy
Barnard pernah meragukan penjelasan Muchtar Lutfi yang mengatakan, “…untuk duduk
sebagai pengurus [RC]…haruslah disertai karya nyata yang diwujudkan berupa sebuah
buku”. Menurut Barnard, “…This information, however, should br questioned since it is
based on interviews with people on Penyengat who were born long after the demise of the
Rusydiah Club, bagaimanapun, informasi ini patut dipertanyakan karena didasarkan pada
wawancara dengan orang-orang di Penyengat yang lahir jauh setelah runtuhnya Rusjdiyah
Club”.

Secara garis besar, tulisan ini terbagai dalam dua bagian. Bagian pertama,
berkenaan RC sebagai sebuah organisasi atau perkumpulan cendekiawan modern di
Kerajaan Riau-Lingga pada zamannya. Banyak aspek organisasi RC masih belum
sepenuhnya dipahami. Oleh karena itu, pada bagian ini akan ditinjau kembali perihal
penulisan nama perkumpulan ini dalam huruf latin dan jawi oleh pengurusnya pada masa
lalu. Tentang tarikh didirikan. Kapan RC didirikan? Siapa pemimpinnya? Siapa saja
pengurusnya?, Siapa anggotanya?, dan Apa syarat menjadi menjadi anggota. Begitunya
tentang stempel RC, dan persoalan kaitan antara RC dengan percetakan Mathba’ah al
Riauwiyah. Apakah benar RC yang mendirikan Mathba’ah al-Riauwiyah? Tahun berapa
didirikan?, dan siapa pemimpinnya?

Pada bagian kedua, tulisan ini akan memperlihatkan peranan RC dalam kaitannya
dengan semangat kebangsaan dalam menentang politik kolonial Belanda di Kerajaan
Riau_lIngga dan pemikiran tentang watan (tanah air) serta kewajiban membela tanah air,
yang telah disuarakan dengan lantang dua tahun sebelum Budi Utomo berdiri pada tahun
1908.

Perdirian Rusjdiyah (Club) Riouw P. Penyengat
RC lahir ditengah-tengah gairahnya pertumbuhan berbagai organisasi, Club dan
Persekutuan, yang disebut Barnard sebagai culture welfare organization, di Singapura dan
Johor, yang muncul bagaikan “cendawan tumbuh di musim hujan”, sejak tahun 1888.
Dalam hal ini, Singapura (dan bukan Jawa atau Sumatra) memang besar pengaruhnya
terhadap elit-elit Kerajaan Riau Lingga. Namun demikian, RC sebagai wadah elit-elit
Kerajaan Riau Lingga tidak sepenuhnya serupa dengan Club dan Persekutuan yang ada di
Singapura. RC lebih dari sekedar organisasi yang membahas isu-isu culture dan welfare
dalam lingkungan Masyarakat dimana ia berada. Karena, ada Gerakan Pan-Islam yang
turut mempengaruhinya. Bahkan, seperti disebutkan oleh Wan Shaghir Abdullah,
Jami’yatul Fathaniyah yang diasaskan Syekh Ahmad al-Fathani di Mekah juga memberi
ilham bagi terbentuknya Jami’yatul Rusydiah yang kemudian lebih dikenal sebagai
Rusjdiyah (Club) di Pulau Penyengat.

Pada bagian ini, akan ditinjau Kembali beberapa aspek RC sebagai sebuah
organisasi menggunakan bebera arsip RC, dan diawali dengan masalah nama dan cara
penulisan nama organisasi ini dalam tulisan rumi (latin) dan jawi (Arab Melayu).
Dalam korpus kepustakaan tentang perkumpulan cedekiawan Kerajaan Riau-
Lingg ini, terdapat berbagai cara menuliskan namanya dalam huruf rumi (latin).
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, William R. Roff menuliskan Persekutuan
Rashidiyyah. Selain itu, terdapat terdapat sejumlah cara penulisan yang lain, seperti,
Rusydiah Club (Muchtar Lutfi, 1976), Kelab Rusydiah (Abu Hassan Sham, 1979), Rusydiah
Kelab (Abu Hassan Sham, 1983), Kelab Rusydiyaah (Viginia Matheson, 1983), Rusydiah
Club (Timothy Barnard, 1994), Persekutuan Rushdiyyah, dan Rushdiyyah Club (Alijah
Gordon, 1999), dan Rushdiah Club (Wiwin Oktasari, 2012). Jika seperti ini faktanya, maka
persoalannya bukanlah mana yang benar dari sekian banyak cara penulisan ini, akan
tetapi bagaimana sebenarnya cara pengurus organisasi ini menuliskan nama organisasi
mereka dalam tulisan rumi (latin)?.

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka arsip organisasi ini adalah kuncinya. Dan
bila merujuk kepada arsip amplop surat resmi organisasi ini, maka (seperti yang telah saya
gunakan pada judul tulisan ini) cara penulisan namanya dalam huruf rumi adalah,
Rusjdiyah (Club) Riouw dengan tambahan P. Penjengat [Rusjdiyah (Club) Riouw P.
Penjengat].
Sedangkan sebagai “kop surat” yang juga dicantumkan pada aplop dan dutulis
menggankan tulisan jawi, nama organisasi ditulis dengan menambah perkataan Kerajaan
dan Perdirian, sehingga bila dirumikan maka penulisan lengkapnya adalah, Kerajaan
Perdirian Rusydiyah (Klab) Pulau Penyengat (lihat gambar pada slide).


Tentang nama organisasi ini, saya sepakat dengan para pengkaji RC, bahwa nama
Rusjdiyah (Club) berasal dari gabungan perkataan dalam bahasa Arab dan bahasa Belanda
atau Inggris. Menurut Virginia Matheson, perkataan Rusjdiyah berasal dari bahasa Arab,
rusd, yang maknanya adalah ‘on the right path’ “jalan” atau “jalan yang benar”. Dalam
hal ini, barangkali penjelasan Hafis Zakariya dan Wiwin Oktasari adalah yang paling rinci
dan lengkap. Mereka merujuk kepada perkataan dalam Bahasa Arab, rashada yang
bermakna mendapatkan bimbingan atau jalan yang benar; atau dari kata al-rushd yang
berrarti akal, pikiran, dan kemampuan untuk mengetahun ‘jalan yang benar’; atau dari kata
alrashid yang bermakna intelektual, cedekiawan, atau pemikir. Sedangkan kata Club atau
Klab (ketika ditulis menggunakan huruf jawi: kaf-lam-ba) adalah serapan dari Bahasa
Belanda atau Inggris. Selain perkataan Club atau Klab ini, pengurus RC juga menggunakan
perkataan lid (anggota) yang dipinjam dari Bahasa Belanda.


Sejauh ini, masih terdapat perbedaan pendapat tentang tarikh RC didirikan. Tahun
berapa sebenarnya perkumpulan cendekiawan Kerajaan Riau-Lingga ini berdiri? Dengan
tanpa menyebutkan sumber, Muchtar Lutfi megatakakan bahwa, “…Rusydiah Club sudah
berdiri, sekurang-kurangnya pada tahun 1892…”.19 Sebalik Timothy Barnard mengatakan
tahun berdirinya Rusjdiyah (Club) sama dengan tahun berdirinya Mathba’ah al-Riauwiyah
pada tahun 1895, dengan alasan karena percetakan terdrbut menerbitkan dokumen
dekumen yang dihasilkan oleh organisasi ini, termasuk booklet Taman Penghiburan.
Pendapat Barnard ini dipergunakan oleh Hafiz Zakariya dan Wiwin Oktasari.20 Tapi
masalahnya, apakah benar Mathba’ah al-Riauwiyah berdiri tahun 1895?. Tarikh
beridirinya percetakan ini dan hubungan dengan RC akan dijelaskan pada bagian lain.
Saya sepakat dengan Timothy Barnard bahwa RC didirika pada tahun 1895. Akan
tarikh itu bukan merujuk kepada tahun didirikannya Mathba’ah al-Riauwiyah, sebuah
percetakan tipografi milik Kerajaan Riau-Lingga di Pulau Penyengat. Jadi begini, sebagai
sebuah organisasi, Kerajaan Perdirian Rusjdiyah (Club) mempunyai stempel resmi
berbentuk lingkaran dengan diameter 2,2 cm dan menggunakan tinta merah. Stempel ini
ini dipergunakan oleh setiap pemimpin RC dengan cara dicapkan pada nama dan tanda
tangan. Adakalanya juga stempel ini dibubuhksn pada bagian Alamat setiap amplop surat
resmi RC. **

Tinggalkan Balasan