Salahseorang peserta seminar mengajukan pertanyaan pada narasumber

Tanjungpinang – Seminar Internasional bertajuk “Rusydiah Club: Perkumpulan Cendekiawan Melayu dan Inspirasinya” yang digelar MSI Kepri bersama Yayasan Majelis Amanah Warisan Bintan dan UMRAH, Senin (8/9) di Kampus Dompak memberikan pemahaman baru terkait organisasi yang membangkitkan semangat kebangsaan dari Pulau Penyengat, Kepulauan Riau. Rusydiah Club terbentuk tahun 1895 lebih duluan daripada organisasi Budi Utomo 1908 yang jadi dasar Hari Kebangkitan Nasional.

Empat narasumber utama membedah kiprah Rusydiah Club sebagai pusat intelektual Melayu pada akhir abad ke-19. Prof. Dr. R.A. Huziafah Hashim menyoroti “jihad pena” melalui percetakan dan jaringan pan-Islam melawan kolonialisme. Dr. Mu’jizah (BRIN) mengupas strategi politik budaya yang memadukan tradisi dengan modernitas. Wiwin Oktasari, Lc., MHSc. menekankan peran budaya cetak dan literasi sebagai katalis reformasi di Riau dan kawasan Melayu. Sementara itu, sejarawan Aswandi Syahri mengkaji ulang historiografi Rusydiah Club dengan temuan arsip baru, menegaskan perannya sebagai organisasi intelektual modern yang menyuarakan kebangsaan.Rusydiah Club membuktikan bahwa pena dan ilmu pengetahuan bisa menjadi senjata perlawanan yang lebih tajam daripada pedang. Aswandi Syahri menilai organisasi ini merupakan perkumpulan intelektual modern yang menyuarakan semangat kebangsaan bahkan sebelum lahirnya Budi Utomo.

Dari seminar ini terhimpun sejumlah poin-poin penting, antara lain perlunya dokumentasi dan digitalisasi naskah-naskah peninggalan Rusydiah Club, integrasi sejarah intelektual Melayu dalam kurikulum pendidikan, serta penguatan jejaring riset lintas negara serumpun. Semua itu dimaksudkan agar nilai-nilai yang diwariskan para cendekiawan Melayu terus hidup dan menjadi inspirasi pembangunan kebudayaan di masa kini.

Dalam catatan Aswandi Syahri, Rusydiah Club berdiri di Pulau Penyengat pada tahun 1895, ditandai dengan stempel resmi bertarikh 1313 H yang ditemukan dalam arsip organisasi. Perkumpulan ini muncul di tengah maraknya club intelektual di Singapura dan Johor, namun memiliki ciri khas sebagai organisasi cendekiawan modern Kerajaan Riau-Lingga yang bernafaskan semangat Pan-Islamisme dan pembaruan. Presiden pertamanya adalah Tengku Besar Abdullah ibni Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi, yang memimpin hingga wafat pada 1897, sebelum dilanjutkan Tengku Abdulkadir hingga 1910. Anggota-anggotanya terdiri dari para bangsawan, ulama, dan intelektual seperti Raja Ali Kelana, Raja Khalid Hitam, Said Ali, hingga Sayyid Shaykh al-Hadi, yang aktif menulis, berdiskusi, dan menerbitkan karya melalui percetakan Mathba’ah al-Riauwiyah. Melalui aktivitasnya, Rusydiah Club tak hanya mengembangkan tradisi literasi dan budaya intelektual Melayu, tetapi juga menyuarakan semangat kebangsaan dan pembelaan terhadap watan (tanah air), bahkan dua tahun sebelum lahirnya Budi Utomo pada 1908.

Seminar dibuka oleh Kadis Kebudayaan Kepri, Dr. Juramadi Esram mewakili Gubernur Kepri, dengan pengantar dari Pembina MSI Kepri, Dato’ Rida K Liamsi dan Pembina Yayasan Majelis Amanah Warisan Bintan, Dato’ H. Huzrin Hood dan Rektor Umrah, Prof Dr Agung Damar Syahti DEA. Acara ini dipandu moderator Dr. Anastasia Wiwik Swastiwi, M.A., dan dihadiri ratusan akademisi, peneliti, dan mahasiswa. **

Pembina MSI Kepri, Rida K Liamsi memberikan sambutan

Tinggalkan Balasan