Oleh: (Prof Dr Abdul Malik M.Pd, Drs Abdul Kadir Ibrahim MT, Rendra Setyadiharja S.Sos, M.IP, Raja Malik Hafrizal)
Pulau Bintan adalah nama yang berulang kali disebut dalam naskah-naskah klasik Melayu. Namun, di balik namanya yang melegenda, tersimpan warisan panjang tentang peradaban, kekuasaan, dan identitas yang menjadikannya simpul strategis dalam sejarah dunia Melayu dan Nusantara. Dari zaman prasejarah hingga kolonial, Bintan tidak hanya menjadi lokasi geografis, tetapi juga panggung penting dinamika politik, budaya, dan militer kepulauan Asia Tenggara.
Jejak awal peradaban di Bintan ditunjukkan melalui temuan arkeologis di kawasan Sungai Kawal, tepatnya di situs “Bukit Kerang”. Artefak seperti beliung persegi dan pecahan gerabah mempertegas bahwa Bintan telah dihuni sejak zaman Neolitikum. Dalam struktur kekuasaan mandala Sriwijaya, Bintan bukan sekadar wilayah taklukan, melainkan zona pengaruh kebudayaan yang hidup. Bahkan, sejak abad ke-12, Bintan telah memiliki struktur kerajaan tersendiri yang disebut-sebut didirikan oleh Raja Asyar Aya.
Salah satu titik balik penting adalah kedatangan Sang Sapurba dari Palembang pada akhir abad ke-13. Ia tiba saat Bintan dipimpin oleh Ratu Syahedar Syah yang tidak memiliki pewaris laki-laki. Perkawinan politik antara putri ratu, Wan Sri Beni, dan Sang Nila Utama, putra Sang Sapurba, bukan hanya menyatukan dua garis keturunan, tapi juga melahirkan kesinambungan kekuasaan dari Bintan ke Temasik (kini Singapura), lalu ke Melaka dan Johor. Dengan begitu, Bintan berperan sebagai poros lahirnya dinasti-dinasti besar Melayu.
Meskipun kemudian pusat kerajaan berpindah ke Melaka sejak 1403 M, Bintan tetap menjadi simpul penting dalam jaringan kekuasaan Kesultanan. Di sinilah basis Orang Laut (Celates) sebagai komunitas pelaut yang setia kepada raja Melayu ditempatkan. Bahkan dalam Hikayat Hang Tuah, disebutkan bahwa para hulubalang besar seperti Hang Tuah memulai pengabdian mereka di Bintan, terutama saat menyelamatkan Tun Ali dari kerusuhan.
Ketika Portugis merebut Melaka pada 1511, Sultan Mahmud Syah I memindahkan pusat pemerintahannya ke Bintan dan membangun Kota Kara sebagai benteng dan pusat administrasi. Selama hampir 13 tahun (1513–1526), Bintan menjadi ibu kota de facto Kesultanan Melaka dalam pengasingan dan basis perlawanan terhadap Portugis. Kota Kara menjadi saksi pertahanan terakhir dunia Melayu klasik sebelum akhirnya dihancurkan oleh serangan armada Pedro Mascarenhas.
Tokoh seperti Hang Nadim, keturunan Hang Tuah, memegang peranan penting dalam perlawanan ini. Ia memimpin armada laut dari Bintan dan berhasil memukul mundur Portugis pada 1523. Sayangnya, pada 1526, Bintan akhirnya jatuh ke tangan Portugis, menandai berakhirnya resistensi fisik pusat kekuasaan Melayu di pulau itu. Namun semangatnya tetap hidup, terutama dalam memori kolektif dan legenda kepahlawanan.
Memasuki era Kesultanan Johor (1528 dan seterusnya), Bintan kembali mengambil peran penting. Meski pusat kerajaan pindah ke Johor Lama, Bintan tetap menjadi daerah strategis militer dan pelabuhan utama. Pada masa Sultan Ibrahim (1677–1685), pusat pemerintahan bahkan sempat dipindahkan ke Hulu Riau (wilayah barat Bintan), dan pada era Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah (abad ke-18), ibu kota resmi kembali ditetapkan di Bintan dan Penyengat.
Pada masa inilah Bintan juga berkembang sebagai pusat sastra dan budaya istana. Tradisi lisan, syair, hikayat seperti Hang Nadim dan Hikayat Melayu tumbuh subur di sini. Selain itu, Bintan menjadi pangkalan utama produksi dan perdagangan gambir. Di bawah kepemimpinan Daeng Celak, Bintan menjalin kerja sama ekonomi antara elite Melayu-Bugis dan buruh Cina yang direkrut untuk mengolah komoditas itu.
Peran strategis Bintan semakin nyata ketika Raja Haji Fisabilillah menjadikannya sebagai markas utama dalam perang melawan VOC pada abad ke-18. Pelabuhan alami Bintan digunakan untuk menyusun kekuatan armada Melayu-Bugis. Dari sinilah lahir strategi perlawanan di Teluk Ketapang, dan dari sinilah pula upaya mempertahankan kedaulatan maritim Melayu dilakukan.
Seiring waktu, Kesultanan Riau-Lingga yang menjadi pewaris sah dinasti Melayu-Johor akhirnya dihapus oleh Belanda pada 1913. Bintan dimasukkan ke dalam Karesidenan Riau. Namun, ingatan tentang perannya sebagai pusat peradaban tidak pernah pudar. Dalam tradisi lisan, toponimi, dan ziarah budaya, Bintan tetap dikenang sebagai poros sejarah dan jantung budaya Melayu.
Letak geostrategis Bintan di jalur silang Selat Malaka menjadi kunci mengapa pulau ini berkali-kali tampil di panggung sejarah. Bukan hanya dalam konteks politik, tetapi juga sebagai simpul budaya, spiritualitas, dan identitas. Dari situs arkeologis Bukit Kerang, legenda Sang Nila Utama, hingga pertahanan Kota Kara, semuanya membentuk lapisan narasi yang menjadikan Bintan lebih dari sekadar pulau — ia adalah mandala warisan Melayu Nusantara.
Di tengah derasnya arus globalisasi, narasi sejarah Bintan menawarkan pelajaran penting: bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya terletak pada benteng dan armada, tetapi juga pada ingatan, budaya, dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan dasar ini, Bintan harus terus dibaca, ditulis ulang, dan dihidupkan dalam wacana publik dan akademik. **
