oleh: Dr Mu’jizah (Peneliti Utama BRIN)

Pada akhir abad ke-19, Pulau Penyengat di Kepulauan Riau menjadi pusat penting kegiatan intelektual dan kebudayaan Melayu. Di sinilah lahir sebuah organisasi bernama Rusydiah Klub, sebuah perkumpulan kaum cendekiawan yang berdiri sekitar tahun 1890. Perkumpulan ini lahir di tengah tekanan kolonial Belanda, namun justru tampil sebagai ruang kreatif yang mempertemukan tradisi Islam-Melayu dengan gagasan modern yang datang dari dunia Barat.

Rusydiah Klub beranggotakan para bangsawan, ulama, dan penulis kreatif dari Kesultanan Riau-Lingga. Untuk menjadi anggota, seseorang diwajibkan memiliki karya tulis, baik berupa manuskrip, syair, hukum, maupun karya sastra. Hal ini menunjukkan bahwa klub tersebut adalah organisasi intelektual yang mengedepankan produktivitas dan kontribusi nyata dalam bidang literasi. Dengan cara ini, Rusydiah Klub berhasil menciptakan atmosfer ilmiah di kalangan elite Melayu sekaligus mendorong lahirnya pemikiran pembaruan.

Keberadaan percetakan Matba’ah al-Riawiyah dan Matba’ah al-Ahmadiyah menjadi penopang utama berkembangnya tradisi literasi modern di Riau. Karya-karya yang semula hanya beredar dalam bentuk tulisan tangan mulai dicetak dan disebarkan secara lebih luas. Perubahan ini menandai pergeseran penting dari tradisi manuskrip menuju percetakan modern, sekaligus memperkuat posisi Penyengat sebagai pusat intelektual Melayu yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.

Selain kegiatan literasi, Rusydiah Klub juga menyelenggarakan acara sosial dan budaya yang menghubungkan elit istana dengan masyarakat umum. Salah satu contoh adalah acara Taman Penghiburan yang digelar pada Idul Fitri tahun 1896. Dalam acara ini, dipertunjukkan berbagai hiburan, lomba rakyat, hingga kesenian tradisional yang dikemas dengan gaya modern ala kolonial. Perayaan ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana mempererat solidaritas sosial dan memperkuat identitas kolektif masyarakat Melayu di Pulau Penyengat.

Dalam hal organisasi, Rusydiah Klub menampilkan tata kelola yang modern. Dokumen keanggotaan dan surat resmi yang ditemukan menunjukkan bahwa mereka menerapkan sistem administrasi yang rapi, termasuk mekanisme masuk dan keluarnya anggota. Hal ini menegaskan bahwa klub tersebut bukan sekadar perkumpulan informal, melainkan sebuah organisasi intelektual yang terstruktur dengan baik.

Jaringan Rusydiah Klub juga meluas hingga ke Singapura melalui keterlibatan dalam penerbitan majalah Al-Imam (1906–1908). Majalah ini berperan penting dalam menyebarkan gagasan pembaruan Islam, pendidikan, dan pan-Islamisme. Pengaruh tokoh reformis seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh terasa dalam isi majalah, namun diadaptasi sesuai konteks Melayu-Islam lokal. Hubungan ini memperlihatkan bahwa Rusydiah Klub mampu menjembatani pemikiran global dengan tradisi lokal.

Strategi politik budaya Rusydiah Klub tercermin dalam cara mereka mengelola simbol-simbol kebudayaan Melayu sebagai sarana resistensi terhadap kolonialisme. Bahasa Melayu dengan aksara Jawi tetap dipertahankan sebagai identitas, sementara aksara Latin dan istilah serapan Barat diadopsi untuk membuka cakrawala modernitas. Inilah bentuk hibriditas budaya, di mana tradisi tidak ditinggalkan, tetapi diramu kembali agar selaras dengan tuntutan zaman.

Meski demikian, Rusydiah Klub juga menghadapi tantangan. Perpecahan internal, perubahan aturan, hingga tekanan politik dari pemerintah kolonial melemahkan organisasi ini. Pada tahun 1911, beberapa tokoh pentingnya, seperti Raja Ali Kelana dan Khalid al-Hitami, bahkan diasingkan dan melanjutkan kiprahnya di Singapura. Kondisi ini menunjukkan bahwa perjuangan intelektual tidak terlepas dari risiko politik yang harus dihadapi.

Namun, warisan Rusydiah Klub tetap berharga. Perkumpulan ini telah membuktikan bahwa modernitas di dunia Melayu tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi fondasi kuat untuk membangun pemikiran progresif yang relevan dengan perkembangan global. Dari Pulau Penyengat, gagasan-gagasan pembaruan itu kemudian ikut menyumbang pada tumbuhnya nasionalisme modern di Indonesia.

Jejak intelektual Rusydiah Klub kini dapat ditelusuri melalui manuskrip, naskah cetakan, maupun dokumen resmi yang tersisa. Masjid Raya Sultan Riau di Penyengat menjadi saksi bisu dari masa kejayaan intelektual itu, meski sebagian besar bangunan istana telah hancur akibat konflik politik dengan Belanda. Melalui penelusuran arsip dan revitalisasi warisan intelektual ini, generasi sekarang dapat belajar bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua kutub yang bertentangan, melainkan dapat dipadukan untuk melahirkan peradaban yang lebih maju.

Rusydiah Klub tidak hanya penting dalam sejarah lokal Riau-Lingga, tetapi juga dalam sejarah intelektual Asia Tenggara. Ia menjadi representasi bagaimana kaum intelektual Melayu merespons kolonialisme dengan strategi politik budaya yang kreatif, mengelola tradisi sebagai kekuatan, sekaligus mengadopsi modernitas untuk memperluas pengaruh. Warisan inilah yang layak dikenang dan diperkenalkan kembali sebagai bagian dari identitas budaya dan modal sosial bangsa Indonesia. **

Tinggalkan Balasan